Perkembangan Terbaru Mengenai Dua Kapal Tanker Pertamina di Selat Hormuz
Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi peredaran minyak global, kini menjadi sorotan setelah dua kapal tanker Pertamina masih tertahan di mulut selat tersebut. Kapal-kapal ini membawa muatan minyak untuk kebutuhan dalam negeri, sehingga keberadaannya menarik perhatian masyarakat Indonesia.
Sejumlah kapal, sekitar 2.000 unit, kini terjebak di area tersebut karena aksesnya dibatasi oleh otoritas Iran. Hanya kapal-kapal dari negara sahabat yang diperbolehkan melintasi Selat Hormuz dengan aman. Namun, beredar narasi bahwa dua kapal Pertamina telah mendapatkan izin dari Iran untuk meninggalkan wilayah tersebut. Narasi ini disebarkan melalui media sosial dan diduga berkaitan dengan negosiasi yang dilakukan oleh Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla (JK).
Pemantauan Pergerakan Kapal Tanker Pertamina
Dari hasil pemantauan IDN Times menggunakan situs Vessel Finder, ternyata kedua kapal tanker Pertamina, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, belum meninggalkan Selat Hormuz hingga akhir Maret 2026.
Kapal Gamsunoro masih berada di perairan Teluk Persia dan akan berlayar menuju Dubai. Dengan kecepatan 12 knot, kapal ini diperkirakan tiba pada Selasa pagi pukul 05.00 waktu setempat. Sebelumnya, kapal ini sempat berlabuh di Terminal Minyak Al Başrah, Irak. Gamsunoro berbendera Panama dan dirakit pada tahun 2014.
Sementara itu, Pertamina Pride juga masih berada di perairan Teluk Persia. Kapal ini berbendera Singapura dan diketahui sedang menuju ke Indonesia. Meski demikian, tenggat waktu kedatangan pada Kamis (2/4/2026) kemungkinan tidak akan terpenuhi karena perjalanan dari Timur Tengah ke Indonesia membutuhkan waktu paling lambat 14 hari. Pertamina Pride terakhir berlabuh di Pelabuhan Ras Aramco, Arab Saudi.
Nasib Kapal Tanker Lainnya
Selain dua kapal di atas, ada juga kabar mengenai dua kapal lainnya, yaitu PIS Paragon dan PIS Rinjani. Kedua kapal ini disebut telah melewati Selat Hormuz, tetapi menurut keterangan dari Pertamina International Shipping, kedua kapal tersebut tidak melewati rute Selat Hormuz.
PIS Paragon dan PIS Rinjani lebih dulu keluar dari area Timur Tengah tepatnya Teluk Oman tanpa melalui Selat Hormuz. Kedua kapal ini fokus melayani kebutuhan pihak ketiga di pasar internasional. Berdasarkan data Vessel Finder, PIS Paragon sudah tiba di Afrika Selatan dan diprediksi tiba di Pelabuhan Cape Town pada hari ini pukul 23.00 waktu setempat. Kapal ini dibangun pada tahun 2009 dan berlayar menggunakan bendera Singapura. Pelabuhan terakhir yang didatangi adalah Mombasa, Kenya.
Sementara itu, PIS Rinjani sedang berlayar menuju Singapura. Saat ini posisinya masih di Perairan India dan diperkirakan tiba di Negeri Singa pada Rabu (1/4/2026). Kapal ini dibangun pada tahun 2019 dan saat ini berlayar menggunakan bendera Liberia.
Penjelasan Jusuf Kalla Mengenai Dua Kapal Pertamina
Meskipun beredar narasi bahwa dua kapal Pertamina telah meninggalkan Selat Hormuz, fakta menunjukkan bahwa hingga akhir Maret 2026, kedua kapal tersebut masih berada di Perairan Teluk Persia. Di sisi lain, Jusuf Kalla dalam pernyataannya kepada media pada 15 Maret 2026 lalu menyampaikan bahwa untuk memastikan keamanan dua kapal tersebut, Pemerintah Indonesia perlu lebih aktif dalam melobi pihak Iran.
“Harus pemerintah lebih aktif (melobi ke Iran),” ujar JK. Ia juga menyarankan agar pemerintah memberikan dukungan dan keprihatinan terhadap situasi di Iran, yang menurutnya akan membuat pihak Iran lebih menerima langkah-langkah yang diambil oleh Indonesia.


Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."











