Risiko kebakaran hutan meningkat tahun ini akibat kemarau panjang dan kering



JAKARTA — Kementerian Kehutanan menghadapi tantangan yang semakin meningkat terkait risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat musim kemarau yang diperkirakan datang lebih awal dan berlangsung lebih lama. Hal ini menjadi perhatian serius karena dapat memengaruhi ekosistem dan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa Indonesia akan menghadapi musim kemarau dengan intensitas hujan yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Ini menunjukkan potensi peningkatan risiko karhutla di beberapa daerah. Menurutnya, situasi ini memerlukan persiapan yang lebih matang dan koordinasi yang baik antara pemerintah dan lembaga terkait.

“Kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada 2026 ini akan lebih mengancam dibanding tahun lalu,” ujar Raja Juli dalam rapat koordinasi karhutla bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (6/4/2026).

Beberapa wilayah seperti Riau dan Kalimantan Barat telah menjadi fokus utama karena adanya indikasi peningkatan risiko kebakaran lahan. Praktik penggunaan api untuk membuka lahan tetap menjadi penyebab utama karhutla. Untuk itu, Kementerian Kehutanan bekerja sama dengan aparat kepolisian agar tindakan penegakan hukum dilakukan secara cepat dan efektif.

  • Beberapa kasus kebakaran lahan sudah mulai diproses oleh pihak berwajib.
  • Masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan hati-hati dalam melakukan aktivitas pembukaan lahan.
  • Koordinasi antara pemerintah dan masyarakat sangat penting untuk mencegah terulangnya kejadian karhutla.

Berdasarkan data dari citra satelit, luas areal karhutla pada periode Januari–Februari 2026 mencapai 32.637,43 hektare. Lima provinsi dengan luas kejadian kebakaran tertinggi adalah:

  • Kalimantan Barat: 10.601,85 ha
  • Riau: 4.440,20 ha
  • Sulawesi Tengah: 3.797,66 ha
  • Lampung: 3.314,74 ha
  • Kalimantan Tengah: 1.975,01 ha

Dari sisi iklim, BMKG memperkirakan bahwa kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase Netral hingga Maret 2026. Namun, pemodelan iklim menunjukkan kemungkinan ENSO berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun ini.

“Musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang. Curah hujan selama musim kemarau juga diperkirakan berada di bawah normal jika dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir,” jelas Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.

Faisal menambahkan bahwa kondisi ini menjadi indikasi bahwa curah hujan akan lebih sedikit dibanding pola klimatologis jangka panjang. Hal ini juga dipengaruhi oleh variabilitas iklim alami di Indonesia.

  • Situasi ini perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan kerentanan terhadap karhutla.
  • BMKG mencatat hingga akhir Maret 2026, 7% Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau.
  • Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.

Pantauan hotspot melalui website Sipongi dengan satelit NASA-Terra/Aqua menunjukkan volume titik panas sebanyak 702 titik pada periode 1 Januari–5 April 2026. Angka ini meningkat 82,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 125 titik.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *