Tim Kesehatan Melakukan Sidak di SPPG Banjarharja
Tim kesehatan dari Puskesmas Kalipucang melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Banjarharja, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, pada hari Sabtu tanggal 4 April 2026. Tujuan dari sidak ini adalah untuk memastikan kepatuhan terhadap standar kesehatan dan kebersihan lingkungan.
Selama sidak berlangsung, tim menemukan beberapa masalah serius terkait pengelolaan limbah dan kebersihan lingkungan di lokasi tersebut. Salah satu yang paling mencolok adalah ketiadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP). Hal ini menjadi perhatian utama karena IPAL sangat penting dalam menjaga kualitas air dan mencegah kontaminasi lingkungan.
Petugas sidak ditemani oleh pengelola SPPG Banjarharja dan memeriksa berbagai fasilitas, termasuk ruang memasak, area pencucian, tempat sampah, hingga sistem pembuangan limbah. Hasil peninjauan menunjukkan bahwa kondisi lingkungan sekitar SPPG sangat memprihatinkan. Tidak ada tempat sampah khusus di sekitar lokasi, sehingga sampah terlihat menumpuk di beberapa titik. Selain itu, bau menyengat tercium dari area pembuangan limbah hasil pengolahan Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Cairan berwarna kuning juga terlihat mengalir di lokasi pembuangan tersebut. Padahal, SPPG Banjarharja sudah beroperasi sejak 26 Januari 2026 lalu. Kepala Puskesmas Kalipucang, Rizal Qudrotulloh Aminuddin, menegaskan bahwa kondisi IPAL di SPPG Banjarharja jauh dari standar yang seharusnya. “Setelah kami cek, IPAL masih sangat belum sesuai dengan SOP. Kami akan memberikan rekomendasi tertulis untuk dikaji oleh pihak terkait, karena kewenangan kami sebatas itu,” ujarnya kepada Tribun Jabar di SPPG Banjarharja, Sabtu siang.
Ketidaksesuaian IPAL berpotensi menimbulkan masalah kesehatan, terutama terkait bakteri dan risiko kontaminasi silang di lingkungan sekitar. “IPAL ini berkaitan dengan pengolahan bakteri, tapi faktanya belum ada. Kapasitas instalasinya pun tidak jelas. Ini berpotensi menimbulkan kontaminasi,” katanya.
Keluhan pun datang dari warga sekitar. Bau menyengat dari limbah disebut sudah tercium dalam beberapa hari terakhir sejak pengelolaan MBG basah mulai berjalan sekitar sepekan lalu. “Semenjak kemarin sudah bau. Limbahnya dibuang ke kolam depan SPPG,” ujar Enok (64), warga setempat.
Kepala SPPI di SPPG Banjarharja, Agung Maulana, mengakui instalasi IPAL belum berfungsi optimal karena fasilitas tersebut masih dalam tahap pengembangan. “IPAL memang belum maksimal karena baru beroperasi. Kami sudah membuat IPAL dengan kapasitas 2.000 sampai 3.000 liter, tapi saat ini kendalanya belum ada bakteri pengolah, sehingga air limbah belum sepenuhnya bersih,” ujarnya. Ia pun menyebut bahwa dokumen SLHS masih dalam proses revisi dan ditargetkan terbit dalam waktu dekat. “Masih berproses, ada beberapa revisi. Mudah-mudahan dalam seminggu ini sudah terbit,” ucap Agung.
Masalah Utama yang Ditemukan
- Tidak adanya IPAL yang sesuai standar: IPAL yang ada tidak memenuhi SOP, sehingga berpotensi menyebabkan kontaminasi lingkungan.
- Kebersihan lingkungan yang buruk: Sampah menumpuk di beberapa titik tanpa tempat sampah khusus.
- Bau menyengat dari limbah: Bau dari area pembuangan limbah tercium sejak beberapa hari terakhir.
- Air limbah berwarna kuning: Cairan yang mengalir dari lokasi pembuangan menunjukkan kondisi yang tidak aman.
Tanggapan dari Pengelola
- Agung Maulana mengakui bahwa IPAL masih dalam tahap pengembangan dan kapasitasnya belum optimal.
- Dokumen SLHS masih dalam proses revisi dan akan segera diterbitkan.
- Pihak pengelola berkomitmen untuk memperbaiki kondisi IPAL dan menjaga kebersihan lingkungan.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












