Tabiat Sari Mulyani yang Kejam, Anak Tiri Usia 4 Tahun Tewas, Tetangga Buka Suara

Sosok Sari Mulyani, Ibu Tiri yang Menganiaya Anak Tirinya Hingga Meninggal Dunia

Kasus kematian bocah berusia empat tahun bernama Raditya Allibyan Fauzan alias RAF menjadi perhatian masyarakat setelah diketahui bahwa ia meninggal akibat penganiayaan oleh ibu tirinya, Sari Mulyani (26). Kejadian ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena korban sempat dinyatakan dalam kondisi kritis sebelum akhirnya meninggal dunia. Kini, Sari ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh Polrestabes Bandung.

Penganiayaan itu terungkap setelah RAF dilarikan ke rumah sakit di RSUD Ujungberung pada Sabtu (22/11/2025) pagi. Meskipun awalnya disebut korban terjatuh di kamar mandi, hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya luka akibat kekerasan di tubuh bocah tersebut. RAF akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, polisi menyimpulkan bahwa RAF meninggal karena dianiaya oleh ibu tirinya. Kasatreskrim Polrestabes Bandung Kompol Anton mengonfirmasi penangkapan pelaku. Menurutnya, Sari akan menjalani pemeriksaan kejiwaan untuk memastikan status mentalnya serta untuk pengembangan penyidikan.

Sari adalah istri kedua dari ayah korban, yang tinggal bersama di sebuah kontrakan di Gang Gagak IV A, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Tetangga korban, Kusumawardhani (60), mengatakan bahwa pelaku dan keluarganya baru dua bulan menempati rumah tersebut. Ia juga menyebut bahwa Sari sering kali terlihat protektif secara berlebihan terhadap RAF. Bahkan, ia pernah melihat adanya luka pada pipi dan dahi korban beberapa hari sebelum RAF dibawa ke rumah sakit.

Meski tidak pernah melihat kekerasan fisik secara langsung, Kusumawardhani mengatakan bahwa ada tetangga yang pernah mendengar keributan di kontrakan korban beberapa hari sebelum kejadian.

Awal Mula Kecurigaan

Kecurigaan terhadap Sari Mulyani berawal dari orang tua kandung korban yang tidak percaya bahwa anaknya meninggal karena terjatuh dari kamar mandi. RAF sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Ujungberung pada Sabtu (22/11/2025) hingga dinyatakan meninggal dunia.

Ibu korban, Titawati (29), menemui anaknya langsung di rumah sakit setelah mendapatkan kabar tersebut. Ia terkejut setelah mengetahui bahwa RAF mengalami luka lebam di tangan dan kaki, pendarahan di otak, tulang dada patah, serta tulang kepala retak. “Saya waktu itu benar-benar syok, tak menyangka kok banyak luka di tubuhnya,” ujarnya kepada Tribunjabar.id, Selasa (25/11/2025).

Titawati mengatakan bahwa selama ini RAF tinggal bersama mantan suaminya di Bandung. Pemilihan menyerahkan hak asuh kepada mantan suami bukan tanpa sebab. Ia mengurusi anak pertama yang dalam kondisi sakit, sedangkan RAF diurus oleh sang mantan. “Kalau saya pulang ke kampung, biasanya dijemput dan dibawa ke sini karena saya kerja di Depok,” ungkapnya.

RAF kini sudah dimakamkan di kampung halamannya di Garut. Titawati juga telah melapor secara resmi ke Polrestabes Bandung atas peristiwa yang menimpa anaknya. Jika memang terjadi kekerasan terhadap anaknya, ia berharap hal itu bisa diusut tuntas oleh pihak kepolisian. “Saya minta diusut tuntas, dan dituntut seadil-adilnya,” ujarnya.

Dugaan Penganiayaan

Kasatreskrim Polrestabes Bandung, Kompol Anton, menyebut bahwa pihaknya sudah melakukan penyelidikan atas kematian RAF dengan memeriksa sejumlah saksi. Jasad RAF juga sempat menjalani pemeriksaan fisik maupun autopsi sebelum dimakamkan di Garut.

“Hasil kesimpulan kami, memang benar diduga adanya dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan korban meninggal dunia yang setelah kami lakukan investigasi itu terjadi pada Jumat (21/11/2025) di kontrakannya di wilayah Cipadung, Gang Gagak, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung,” ujarnya, Senin (24/11/2025).

Ia menuturkan, ayah korban diketahui sudah melaporkan istri keduanya ke polisi, terduga pelaku juga kini dalam proses pemeriksaan intensif di Polrestabes Bandung. Terkait sejumlah luka di tubuh RAF, Kompol Anton menyebut terdapat dugaan kekerasan yang dilakukan menggunakan benda tumpul.

“Korban hasil pemeriksaan autopsi memang ditemukan banyak luka baik luka baru atau luka bekas yang lama,” ungkap Kompol Anton. “Tampak memang adanya kekerasan benda tumpul, seperti ada di bagian kepala baik dahi atau bagian belakang, ada juga di sekujur tubuhnya, di tangan, kaki, dan sekitar dada,” sambung dia.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *