Kondisi Antrean Kendaraan Logistik di Pelabuhan Bakauheni
Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Bakauheni, Suratno, menjelaskan terkait kondisi antrean kendaraan logistik di Pelabuhan Bakauheni. Antrean tersebut sempat menjadi keluhan sejumlah sopir truk, khususnya pengangkut komoditas seperti pisang.
Menurutnya, kendaraan logistik seperti truk BBJ (Bak Baja Jala) dan armada milik PT SMA masuk dalam kategori kendaraan non-penumpang yang justru diprioritaskan dalam proses penyeberangan. “Distribusi logistik menjadi prioritas utama, sehingga kendaraan pengangkut barang didahulukan untuk naik kapal,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran rantai pasok barang, terutama kebutuhan pokok yang harus segera sampai ke berbagai daerah. Terkait pemanfaatan Pelabuhan Wika, Suratno menyebutkan bahwa saat ini statusnya tidak lagi sebagai pelabuhan tambahan utama, melainkan sebagai pelabuhan kontingensi. “Pelabuhan Wika akan dioperasikan jika kapasitas penyeberangan ASDP sudah tidak mencukupi,” jelasnya.
Menanggapi keluhan sopir yang mengaku harus mengantre hingga 24 jam, pihaknya membantah hal tersebut. Berdasarkan pemantauan langsung di lapangan, antrean tidak berlangsung selama itu. “Tidak ada antrean sampai 24 jam, bahkan 12 jam pun tidak. Rata-rata antrean berkisar 1 hingga 3 jam, dan itu masih dalam batas wajar karena keterbatasan kapasitas kapal,” tegasnya.
Ia juga menanggapi isu adanya muatan buah, khususnya pisang, yang rusak akibat antrean panjang. Namun hingga saat ini, pihaknya belum menemukan bukti di lapangan yang menguatkan laporan tersebut. “Kami belum bisa mengonfirmasi adanya buah yang busuk karena antrean, karena tidak ditemukan bukti fisik,” katanya.
Suratno menambahkan, seluruh aktivitas penyeberangan terus dipantau secara real-time melalui Media Center Kementerian Perhubungan di pusat guna memastikan arus logistik tetap berjalan lancar. Dengan langkah tersebut, diharapkan tidak terjadi penumpukan kendaraan yang signifikan dan distribusi barang tetap terjaga, khususnya dari Sumatera menuju Jawa maupun sebaliknya.
Keluhan Sopir Truk Pengangkut Pisang
Sebelumnya diberitakan, ratusan ton komoditas pisang terancam membusuk akibat antrean panjang kendaraan logistik di kawasan pelabuhan penyeberangan di Lampung. Berdasarkan informasi yang dihimpun, antrean truk dan mobil bak terbuka pengangkut pisang memadati area pelabuhan. Kepadatan ini terjadi karena belum adanya kepastian jadwal penyeberangan bagi kendaraan barang.
Sejumlah sopir mengaku telah berhari-hari menunggu giliran masuk kapal. Lamanya waktu tunggu, ditambah kondisi cuaca panas, membuat kualitas pisang yang diangkut terus menurun. “Awalnya pisang masih hijau, sekarang sudah banyak yang menguning bahkan mulai busuk,” ujar Heri, salah satu sopir pengangkut pisang.
Ia mengaku mengalami kerugian besar akibat kondisi tersebut. Tidak hanya biaya operasional yang membengkak, tetapi juga muatan yang rusak. “Kerugian kami sudah puluhan juta rupiah. Biaya makan, solar, belum lagi barang yang rusak total,” tambah Heri.
Hal serupa disampaikan Antoni, sopir lainnya, yang terpaksa membongkar sebagian muatan untuk memilah pisang yang masih layak jual. “Kami terpaksa buang yang sudah hitam dan hancur. Sudah tidak ada nilai jualnya lagi,” kata Antoni.
Menurutnya, kondisi ini sangat merugikan para sopir, petani, hingga distributor pisang di Lampung. Ia berharap ada langkah cepat dari pihak terkait untuk mengurai antrean kendaraan logistik. “Kami berharap ada tambahan jadwal kapal atau solusi lain supaya kendaraan bisa segera diseberangkan,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian dari otoritas pelabuhan terkait penambahan jadwal penyeberangan guna mengatasi kepadatan tersebut. Para pelaku usaha pun mendesak pemerintah segera turun tangan agar distribusi hasil pertanian kembali lancar dan kerugian tidak semakin membesar.












