Kekhawatiran Terhadap Krisis Energi Global
Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, memberikan peringatan yang mengejutkan terkait masa depan ketahanan energi dunia. Dalam wawancara terbaru dengan Associated Press di Paris, ia menyebut bahwa persediaan bahan bakar pesawat (avtur) di Eropa kemungkinan hanya tersisa sekitar enam minggu. Hal ini terjadi seiring memburuknya krisis energi akibat eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Penyumbatan jalur pasokan minyak dan gas di Selat Hormuz telah menciptakan apa yang disebut Birol sebagai “krisis energi terbesar yang pernah kita hadapi.” Ia memperingatkan bahwa dunia segera akan mendengar kabar mengenai pembatalan penerbangan antarkota akibat menipisnya stok avtur.
“Dulu ada grup musik bernama ‘Dire Straits’. Sekarang, kita benar-benar berada dalam selat mengerikan (dire strait merujuk pada selat Hormuz), dan ini akan berdampak besar pada ekonomi global,” ujar pakar energi asal Turki tersebut.
Dampak Pada Ekonomi Global
Menurut Birol, semakin lama konflik Israel-AS dan Iran berlangsung, semakin buruk dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa dalam krisis ini, tidak ada satu pun negara yang kebal terhadap dampak kenaikan harga bensin, gas, maupun listrik. Namun, ia memberikan catatan pilu mengenai ketimpangan beban yang harus ditanggung.
“Negara yang akan paling menderita bukanlah negara yang suaranya sering terdengar. Korban terparah adalah negara-negara berkembang di Asia, Afrika, dan Amerika Latin,” tegas Birol. Meskipun negara-negara kaya memiliki cadangan lebih besar, ia memastikan bahwa pada akhirnya semua pihak akan merasakan penderitaan ekonomi yang sama jika Selat Hormuz tidak segera dibuka secara permanen.
Kritik Terhadap Sistem Tol di Selat Hormuz
Selain masalah pasokan, Birol menyoroti kebijakan “sistem tol” atau pungutan biaya yang diterapkan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas. Ia khawatir jika sistem ini menjadi permanen, hal itu akan menjadi preseden buruk bagi jalur air vital lainnya, termasuk Selat Malaka di Asia.
“Saya ingin melihat minyak mengalir tanpa syarat dari satu titik ke titik lain. Jika kita membiarkan sistem tol ini berlaku di satu tempat, akan sulit untuk mencegahnya diterapkan di tempat lain,” tambahnya.
Situasi di Teluk Persia
Situasi diperparah karena kondisi di Teluk Persia saat ini sangat genting. Lebih dari 110 kapal tanker minyak dan 15 kapal pengangkut LNG terjebak. Namun, Birol memperingatkan bahwa kesepakatan damai sekalipun tidak akan langsung menyelesaikan masalah.
Data IEA menunjukkan lebih dari 80 aset energi utama di kawasan tersebut telah rusak akibat serangan militer, dengan sepertiganya mengalami kerusakan sangat parah.
“Sangat optimistis jika percaya pemulihan akan berjalan cepat. Dibutuhkan waktu bertahap hingga dua tahun untuk kembali ke tingkat produksi sebelum perang,” tutup Birol.
Tantangan yang Menghadang
Krisis energi yang terjadi saat ini menimbulkan tantangan besar bagi seluruh dunia. Dari segi ekonomi hingga keamanan energi, semua pihak terkena dampaknya. Negara-negara berkembang, yang biasanya kurang siap menghadapi krisis, akan mengalami penderitaan yang lebih besar.
Birol juga menyoroti pentingnya menjaga alur perdagangan minyak tetap lancar. Penyumbatan di Selat Hormuz bukan hanya masalah teknis, tetapi juga politik dan ekonomi. Dengan situasi yang semakin memburuk, diperlukan koordinasi internasional untuk menemukan solusi yang efektif dan berkelanjutan.












