Hukum  

Cara Sholat Idul Fitri 2026: Lengkap, Hukum, Waktu, dan Dalilnya

Momen Penting dalam Idul Fitri: Sholat Sunnah dan Tata Cara yang Harus Diketahui

Idul Fitri tidak hanya menjadi momen untuk saling memaafkan dan mempererat tali persaudaraan dengan keluarga serta kerabat. Lebih dari itu, hari raya ini juga menjadi puncak kebahagiaan spiritual bagi umat Muslim setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 menjadi tanda berakhirnya bulan suci Ramadan yang dijalani dengan penuh kesabaran, ketekunan, dan pengendalian diri.

Salah satu amalan utama yang dilakukan pada pagi hari Idul Fitri adalah melaksanakan sholat sunnah dua rakaat yang dikenal sebagai sholat Id. Ibadah ini biasanya dilaksanakan secara berjamaah di masjid, lapangan terbuka, atau tempat ibadah lainnya yang dapat menampung banyak jamaah. Dalam ajaran Islam, pelaksanaan sholat Idul Fitri memiliki hukum sunnah muakkadah, artinya ibadah ini sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh umat Muslim karena memiliki keutamaan yang besar.

Pada masa Nabi Muhammad SAW, umat Islam dianjurkan untuk menghadiri pelaksanaan sholat Id bersama-sama sebagai bentuk syiar Islam. Berbeda dengan sholat wajib lima waktu, sholat Idul Fitri memiliki beberapa karakteristik unik. Salah satu perbedaan yang paling mencolok adalah tidak adanya azan dan iqamah sebelum pelaksanaan sholat dimulai. Sebagai pengganti azan, biasanya seorang bilal akan mengumandangkan seruan kepada jamaah agar bersiap melaksanakan sholat.

Seruan tersebut menjadi tanda bahwa imam dan jamaah akan segera memulai rangkaian ibadah sholat Idul Fitri. Ketentuan ini didasarkan pada hadis yang diriwayatkan dalam kitab hadis karya Imam Muslim. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa pada masa Rasulullah SAW, sholat dua hari raya tidak didahului oleh azan maupun iqamah.

Artinya:
“Dari Jabir bin Samurah ia berkata, saya telah menunaikan sholat dua hari raya bersama Rasulullah SAW lebih dari sekali, dan pelaksanaannya tanpa azan serta tanpa iqamah.” (HR Muslim).

Selain memiliki tata cara yang khas, sholat Idul Fitri juga biasanya dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh imam setelah sholat selesai. Khutbah tersebut berisi pesan keagamaan, nasihat kehidupan, serta ajakan untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. Karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk datang lebih awal ke lokasi pelaksanaan sholat Idul Fitri agar dapat mengikuti seluruh rangkaian ibadah dengan khusyuk dan tertib.

Panduan Lengkap Niat dan Tata Cara Sholat Idul Fitri 1447 H

Bagi kamu yang masih bingung atau lupa-lupa ingat, berikut adalah rincian panduan tata cara sholat Idul Fitri beserta bacaannya yang wajib diperhatikan agar ibadahmu sah:

1. Lafal Niat Sholat Idul Fitri (Sebagai Makmum)

Langkah paling awal adalah memantapkan niat di dalam hati. Jika kamu bertindak sebagai makmum di belakang imam, bacalah lafal berikut:
اُصَلِّى سُنَّةً عِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا للهِ تَعَالَى

(Usholli sunnatan ‘iidil fithri rok’ataini ma’muuman lillaahi ta’aalaa)

Artinya: “Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”

2. Runtutan Gerakan di Rakaat Pertama

Awali ibadah dengan takbiratul ihram, lalu lanjutkan dengan menuturkan doa iftitah sebagaimana kamu mendirikan sholat fardhu. Pembeda utama sholat Ied ada di bagian ini, di mana kamu diwajibkan melakukan takbir tambahan sebanyak tujuh kali. Di setiap jeda antar takbir tersebut, lantunkanlah puji-pujian tasbih ini:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

(Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar)

Artinya: “Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya, tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.”

Usai menuntaskan takbir ketujuh, dengarkan imam membacakan surat Al-Fatihah yang biasanya disambung dengan lantunan surat pendek, contohnya Surat Al-A’la. Setelah itu, teruskan dengan gerakan rukuk, i’tidal, sujud, serta duduk di antara dua sujud secara tertib dan tumaninah dengan bacaan sholat standar.

3. Runtutan Gerakan di Rakaat Kedua

Sewaktu bangkit berdiri memasuki rakaat kedua, lakukan kembali takbir tambahan sebanyak lima kali sebelum surat Al-Fatihah dibacakan. Sama halnya dengan rakaat awal, bacalah tasbih di antara sela-sela takbir:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

(Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar)

Selepas pembacaan Al-Fatihah, surat pendek yang kerap dibawakan oleh imam adalah Surat Al-Ghasyiyah. Selesaikan seluruh rangkaian gerakan dari rukuk, i’tidal, sujud, sampai melakukan duduk tasyahhud akhir. Rapalkan bacaan tasyahhud, kemudian akhiri dengan salam ke kanan dan kiri.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *