Harga minyak goreng bisa tembus Rp20.000 per liter

Proyeksi Kenaikan Harga Minyak Goreng dan Tantangan Produksi Sawit



Jakarta — Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memproyeksikan bahwa harga minyak goreng dalam negeri berpotensi mencapai Rp20.000 per liter jika produksi sawit tidak mengalami peningkatan, terutama di tengah kenaikan permintaan global dan domestik, termasuk untuk kebutuhan biodiesel.

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, menjelaskan bahwa potensi kenaikan harga tersebut bisa terjadi ketika produktivitas sawit stagnan sementara permintaan meningkat seiring dinamika global dan program biodiesel di dalam negeri.

“Ketika produksinya turun atau produktivitasnya tidak naik, maka ini akan mengerek harga di domestik ya, dan sangat mungkin itu mencapai Rp20.000 per liter, ada kemungkinan ya,” ujar Faisal.

Meski demikian, Faisal menilai potensi lonjakan harga tersebut sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam menjaga kelancaran distribusi minyak goreng. Bahkan, menurutnya, hambatan distribusi seperti yang pernah terjadi pada 2022 dapat kembali memicu lonjakan harga sekaligus kelangkaan pasokan.

Lebih lanjut, Faisal menyebutkan bahwa potensi kenaikan harga minyak goreng juga bisa dipengaruhi oleh inflasi global akibat konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok energi dunia. Kenaikan harga minyak mentah global biasanya memicu kenaikan harga komoditas energi substitusi seperti batu bara dan gas. Kondisi tersebut juga dapat berdampak pada CPO karena meningkatnya penggunaan biodiesel.

Selain itu, dia menilai Indonesia juga berpotensi mengalami tambahan permintaan sawit karena kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan bauran biodiesel, mulai dari B40 hingga rencana B50.

Faisal menambahkan bahwa sebelum eskalasi konflik dengan Iran, pemerintah telah berupaya menekan impor bahan bakar minyak (BBM) melalui peningkatan penggunaan biofuel berbasis sawit. Menurutnya, dengan meningkatnya permintaan dari sektor energi, di samping kebutuhan pangan dan industri, tekanan terhadap harga sawit global berpotensi semakin kuat.

“Jadi memang kemungkinan, sementara di global sendiri juga akan harganya naik jadi faktor dorongan kenaikan harga di global karena kondisi dinamika global dan pertambahan dari sisi demand termasuk di dalam negeri untuk program biofuel,” ujarnya.

Peningkatan Konsumsi Minyak Sawit

Sebelumnya, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat bahwa harga CPO pada Januari—Maret 2025 sempat lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lain sehingga berstatus premium di pasar internasional. Namun, pada periode September—Desember 2025 harga minyak sawit kembali berada di bawah harga minyak bunga matahari.

Memasuki kuartal I/2026, Gapki memproyeksikan harga minyak sawit global masih bertahan tinggi di kisaran US$1.050–US$1.125 per ton seiring dinamika pasokan global serta meningkatnya permintaan, termasuk dari program biodiesel.

Data Gapki menunjukkan bahwa total produksi minyak sawit Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 56,55 juta ton atau naik 7,18% dari produksi 2024 sebesar 52,76 juta ton. Produksi tersebut terdiri dari CPO sebesar 51,66 juta ton dan PKO sekitar 4,89 juta ton.

Sementara itu, total konsumsi dalam negeri mengalami peningkatan 3,82% dari 23,85 juta ton pada 2024 menjadi 24,77 juta ton pada 2025. Konsumsi tersebut terbagi untuk kebutuhan pangan sebanyak 9,83 juta ton dan oleokimia sekitar 2,23 juta ton.

Konsumsi Biodiesel Meningkat Signifikan

Sekretaris Jenderal Gapki, Muhamad Hadi Sugeng Wahyudiono, mengatakan peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi biodiesel, yakni naik 10,97% dari 11,44 juta ton pada 2024 menjadi 12,70 juta ton pada 2025. Kenaikan biodiesel ini disebabkan oleh kenaikan bauran dari 35% (B35) menjadi 40% (B40).

Adapun untuk 2026, Gapki memproyeksikan pertumbuhan produksi CPO hanya berkisar 1%—2% di tengah potensi El Nino serta meningkatnya konsumsi domestik untuk program bauran biodiesel 50% (B50).

“Kemudian di tahun 2026, sebenarnya kami ini juga sangat khawatir ya, tapi tetap berusaha untuk naik. Kalaupun [produksi sawit] naik itu nggak lebih dari 5%, mungkin 1-2% lah. Dengan beberapa alasan, yang pertama kita juga adanya musim kemarau yang diprediksi akan datang di tahun ini, dengan tata kelola sawit kita yang terus terang perlu pembenahan,” ujar Sugeng dalam konferensi pers dan buka puasa bersama di Shangri-La, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Sugeng menambahkan bahwa peningkatan konsumsi dalam negeri untuk program biodiesel juga berpotensi memengaruhi pasokan ekspor. Hal ini mengingat pemerintah masih menjalankan program bauran biodiesel B40. Sugeng memperkirakan serapan biodiesel pada 2026 akan relatif sama dengan tahun sebelumnya.

“Untuk konsumsi biodiesel, sampai hari ini masih B40 sehingga kemungkinan juga masih sama dengan tahun lalu serapannya, 13–14 juta, kemudian untuk ekspornya juga demikian,” terangnya.

Sugeng juga mengingatkan rencana peningkatan bauran biodiesel menjadi B50 dapat berdampak pada penurunan volume ekspor sawit Indonesia.

“Ada bicara katanya mau B50, nah ini tentunya akan terdampak lagi kalau B50 diterapkan, volume ekspor akan menurun, nah nanti takut saya nanti itu ada tambahan-tambahan, biaya yang levy dan sebagainya,” pungkasnya.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *