Kasus Pengeroyokan di Jambi Memanas: HMI Menolak Damai, PMII Siap Bertindak

Kericuhan HMI dan PMII di Jambi

Kericuhan yang terjadi antara Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Jambi dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jambi telah memicu reaksi dari berbagai pihak. Polda Jambi menetapkan enam tersangka dalam kasus pengeroyokan yang melibatkan oknum kader dari kedua organisasi tersebut. Reaksi ini menunjukkan perbedaan sikap antara HMI dan PMII dalam menghadapi situasi yang sedang berlangsung.

HMI Tegaskan Tidak Ada Ruang untuk Negosiasi

Dari sisi HMI Cabang Jambi, Predi Arda Saputra dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada ruang untuk negosiasi atau upaya perdamaian di luar jalur hukum. Baginya, insiden ini adalah bentuk nyata kemunduran moral di lingkungan akademik yang harus ditebus dengan sanksi hukum yang setimpal.

“Tidak ada kompromi. Tidak ada negosiasi. Hukum harus ditegakkan sampai tuntas!” tegas Predi. Ia mendesak kepolisian untuk mengusut aktor intelektual di balik aksi brutal tersebut. Dia juga meminta pihak rektorat bertanggung jawab atas kegagalan pengawasan di lingkungan kampus.

PMII Fokus pada Perlindungan Kader

Di sisi lain, Ketua PKC PMII Jambi, Jumawan, mengambil posisi untuk melindungi anggotanya. PMII Jambi berkomitmen untuk memberikan pembelaan maksimal bagi enam kadernya agar tetap bisa melanjutkan perkuliahan di tengah proses hukum yang berjalan.

“Kami akan terus mengawal kasus ini sampai 6 orang kader PMII aman dan bisa melanjutkan perkuliahan seperti biasa, serta akan terus berjuang bersama bela kader dan siap menempuh pada jalur apapun,” ujar Jumawan. Bagi PKC PMII Jambi, langkah ini diambil sebagai bentuk solidaritas demi menjaga marwah dan keutuhan organisasi di Provinsi Jambi.

Pertaruhan Integritas Kampus

Kedua belah pihak sepakat bahwa insiden ini telah mencoreng citra kampus sebagai ruang intelektual. HMI Cabang Jambi menekankan pada aspek keadilan dan efek jera, sementara PMII menitikberatkan pada aspek pembelaan dan hak pendidikan kader.

Polda Jambi kini menjadi tumpuan bagi kedua organisasi untuk memastikan proses hukum berjalan transparan. Masyarakat dan kalangan akademisi berharap kasus ini dapat diselesaikan tanpa memicu konflik susulan, sekaligus menjadi pelajaran keras bagi organisasi kemahasiswaan dalam menjaga etika berorganisasi di tanah pilih pesako betuah.

Reaksi Masyarakat dan Harapan Masa Depan

Kasus ini dianggap sebagai ujian solidaritas sekaligus marwah bagi kedua organisasi. Kericuhan yang terjadi menunjukkan pentingnya peran kampus dalam mengawasi keamanan lingkungan dan mencegah tindakan yang merugikan mahasiswa.



Selain itu, masyarakat dan kalangan akademisi berharap agar semua pihak dapat menjaga suasana yang damai dan saling menghormati. Dengan adanya penyelesaian yang adil dan transparan, diharapkan dapat menjadi contoh bagi organisasi kemahasiswaan lainnya dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan dan keadilan.

Lani Kaylila

Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *