Kekerasan dan Premanisme di Kawasan Tanah Abang Jakarta Pusat
Kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat seperti sulit lepas dari stigma kekerasan. Setelah sederet aksi premanisme yang viral di media sosial, kini Tanah Abang menjadi zona tawuran. Hal tersebut memantik kegeraman Gubernur Jakarta, Pramono Anung.
Berikut rangkuman aksi premanisme hingga tawuran yang terjadi di Tanah Abang:
Tawuran di Petamburan
Tawuran antar warga pecah di kawasan Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Jumat (17/4/2026) malam. Menurut informasi yang diperoleh, sehari sebelumnya, di lokasi yang sama juga terjadi tawuran. Dalam insiden Jumat malam, dua gerobak pedagang menjadi sasaran amuk massa hingga akhirnya dibakar. Dari video yang beredar di media sosial, terlihat kobaran api di lokasi kejadian disertai suara letusan petasan. Sejumlah warga tampak berkerumun menyaksikan kejadian, bahkan beberapa di antaranya merekam peristiwa tersebut.
Petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi dan berupaya memadamkan api. Aparat kepolisian juga turun ke lokasi untuk mengendalikan situasi. Kapolsek Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menjelaskan bahwa bentrokan terjadi akibat gesekan antara warga RW 11 dan RW 05 di Kelurahan Petamburan. Pemicu awal berasal dari tembakan petasan atau kembang api yang diarahkan ke wilayah masing-masing, sehingga memancing emosi warga dan berujung pada bentrokan.
Akibat kejadian itu, dua gerobak pedagang buah terbakar. Namun, tidak ada bangunan atau warung yang ikut terdampak. Dhimas menambahkan, tim dari Polsek Metro Tanah Abang bersama Polres Metro Jakarta Pusat dan satuan pengendalian massa segera datang ke lokasi untuk meredam situasi agar tidak meluas. Selain itu, petugas pemadam kebakaran dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) turut membantu pengamanan di lapangan. “Situasi berhasil dikendalikan dalam waktu kurang dari setengah jam. Hanya dua gerobak buah yang terbakar, tidak ada bangunan lain yang terdampak,” ujarnya.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyoroti aksi tawuran yang kembali terjadi Tanah Abang itu. Ia menegaskan, Pemprov DKI tak akan membiarkan kejadian tersebut terus berulang dan meminta penanganan tegas dari aparat terkait. “Untuk tawuran, saya sudah mendapatkan laporan dari Wali Kota Jakarta Pusat dan saya minta untuk diambil tindakan tegas bersama aparat penegak hukum,” ucapnya saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2026).
Tawuran Sudah Terjadi Berulang Kali
Pramono mengungkapkan, aksi tawuran di wilayah tersebut bukan kali pertama terjadi, sehingga perlu langkah penanganan yang lebih serius. Menurutnya, tindakan tegas diperlukan agar kejadian serupa tidak terus berulang di kemudian hari. “Satu, dua, tiga kali kan? Dan itu supaya tidak terulang kembali,” ujarnya.
Juru Parkir Getok Tarif Rp 100 Ribu
Sebelumnya, momen jelang Ramadan dan Idulfitri, Pasar Tanah Abang selalu menjadi magnet untuk berbelanja pakaian hingga pernak-pernik Lebaran. Namun, antusiasme berbelanja warga justru dimanfaatkan juru parkir untuk menggetok tarif parkir sampai Rp 60 ribu hingga Rp 100 ribu. Aksi tersebut sempat direkam dan diunggah ke media sosial hingga viral. Tentu hal tersebut membuat warga resah sampai akhirnya polisi turun tangan.
Kapolsek Metro Tanah Abang, AKBP Dhimas Prasetyo, mengatakan pihaknya mengamankan delapan juru parkir, merespons laporan pungli tersebut. “Polsek telah mengambil tindakan kepolisian terhadap berita viral agar tidak semakin berkembang dan guna menciptakan situasi yang kondusif,” ujar Dhimas kepada wartawan, Selasa (17/2/2026), dikutip dari Tribunnews. “Kami membawa tukang parkir yang terindikasi melakukan pungli untuk diambil keterangan,” sambungnya. Ia mengungkapkan, sebanyak delapan jukir liar telah diamankan. Hasil tes urine menunjukkan tiga jukir tersebut positif metamfetamin. Sementara lima jukir lainnya dinyatakan negatif narkoba. Meski demikian, kelimanya tetap menjalani pembinaan dan diwajibkan lapor ke Polsek Metro Tanah Abang selama satu bulan.
Wakil Gubernur (Wagub) Jakarta Rano Karno merespons soal juru parkir liar yang meresahkan itu. Ia menilai, saat itu kondisi sedang padat dan sering macet karena masyarakat banyak yang berbelanja kebutuhan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Menurut Rano, fenomena tersebut terjadi setahun sekali setiap tahunnya. “Tapi artinya jukir-jukir itu sudah dibenahi. Ya terpaksa ditindak juga, ada yang ditangkap, dikasih pembinaan, itu sudah hal biasalah. Mudah-mudahan itu akan menjadi jauh lebih baik lagi,” kata Rano di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Selasa (17/2/2026).
Palak Pengendara Pelat Luar Jakarta
Tak hanya pengunjung pasar, pengendara mobil dengan pelat luar Jakarta pun menjadi korban aksi premanisme di Tanah Abang. Arip, yang mengemudikan mobil pelat D di kawasan Kebon Kacang, Tanah Abang, tiba-tiba dipalak sekelompok orang tak dikenal pada Jumat (27/3/2026) sore sekira pukul 17.00 WIB. Peristiwa itu kemudian direkam dan diunggah korban ke media sosial hingga viral dan menuai perhatian publik. Dalam keterangannya, Arip didatangi pelaku yang mempermasalahkan pelat mobil D yang berasal dari luar Jakarta. “Mereka mempermasalahkan pelat mobil kami yang luar Jakarta, lalu meminta uang lewat,” ujarnya.

Tak hanya meminta uang, pelaku juga merampas kartu e-money yang berada di dashboard mobil korban. Pelaku memalak Rp 300 ribu, namun korban hanya memberi Rp 100 ribu. Saat berusaha mengambil kembali barang miliknya, Arip justru mendapat ancaman kekerasan. “Ketika saya coba ambil lagi e-money saya, mereka ngancam mau mukulin,” kata Arip. Pelaku pun berdalih, pungutan tersebut sebagai ‘uang wilayah’ yang harus dibayarkan. Setelah viral, polisi bergerak dan menangkap dua orang terduga pelaku berinisial MN dan N yang merupakan warga Tanah Abang, keesokan harinya.
Palak Pedagang Bakso Sambil Pecahkan Mangkuk
Pedagang bakso keliling di kawasan Tanah Abang, hanya bisa pasrah melihat seluruh mangkuknya dipecahkan satu per satu oleh preman. Aksi “bang jago” minta jatah sambil memecahkan mangkuk milik si pedagang itu direkam dan viral di media sosial pada Jumat (10/4/2026). Ketegangan bermula ketika preman berjenis kelamin laki-laki itu mendatangi pedagang bakso keliling. Ia lalu meminta uang iuran bulanan sebesar Rp100.000. Keadaan memanas lantaran sang pedagang tidak bisa memenuhi permintaan tersebut. Pedagang bakso menyebut ia sudah memberi preman itu uang pada awal bulan.

Dalam rekaman video yang beredar, suasana tampak sangat mencekam ketika pria berbadan tegap itu mulai menghancurkan mangkuk-mangkuk bakso yang berada di gerobak pedagang. Dalam rekaman audio yang tertangkap kamera, terdengar suara pedagang yang tampak pasrah sekaligus frustrasi menghadapi aksi premanisme tersebut. Pedagang itu berkali-kali menegaskan bahwa ia bersedia membayar, namun meminta waktu hingga awal bulan. “Gue pecahin satu-satu nih,” kata preman seraya mulai memecahkan mangkuk milik korban. “Gue mau bayar tapi nanti tanggal 1,” kata korban. Pedagang itu cuma bisa pasrah melihat pria itu terus menghancurkan mangkok dagangannya. “Pecahin enggak apa-apa, terserah,” ucapnya. “Ini gue pecahan,” celetuk preman, memecahkan mangkuk korban tanpa ampun. Dia mengungkapkan keluhannya karena merasa sudah membayar uang terus menerus pada oknum itu. “Gue mau bayar tapi tanggal 1, tanggal 1 kemarin sudah gue kasih sekarang lu kayak gini terus terus terus.” ucapnya. Akibat insiden pengrusakan dan tekanan mental yang dialaminya, pedagang tersebut dilaporkan tidak lagi berjualan di lokasi tersebut dan memilih untuk meninggalkan Jakarta untuk pulang ke kampung halamannya. Setelah peristiwa itu viral, polisi meringkus tiga orang pelaku berinisial TDT (26), DA (36) dan OP (36).
Sopir Bajaj Dipalak
Terkini, sopir bajaj dipalak preman di kawasan Pasar Tanah Abang. Aksi kriminal itu direkam penumpangnya dan viral di media sosial. Dari video tersebut terlihat, sang sopir dimintai uang oleh orang tak dikenal, hingga terpaksa memberikan Rp 2 ribu. Setelah kejadian itu, penumpang bajaj menanyakan soal dugaan pemalakan tersebut. “Kalau di Tanah Abang memang kayak gitu ya, Bang? Dimintain apa tuh? Tapi ‘palak’ atau habis apa sih, Bang?,” tanya penumpang. “Ya, palak,” katanya. Sopir bajaj kemudian mengaku dalam sehari total uang yang harus dikeluarkan mencapai Rp 100.000 untuk setoran. Ia juga menyebut akan diteriaki maling dan kaca bajaj ditonjok jika tidak memberikan uang. Hari ini, Senin (13/4/2026), seorang pelaku pemalak sopir bajaj sudah ditangkap pihak Polsek Metro Tanah Abang.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengecam tindak premanisme pemalakan sopir Bajaj di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat yang videonya viral. Pramono mengatakan usai melihat video aksi premanisme tersebut, dia telah menginstruksikan jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk mengambil tindakan tegas. “Saya sudah melihat videonya dan saya sudah meminta kepada Satpol PP, kepada kepala dinas, untuk mengambil tindakan tegas terhadap hal itu,” kata Pramono di Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026). Pemprov DKI Jakarta menyatakan tidak mentolerir segala bentuk premanisme yang terjadi di ruang publik, karena sudah menganggu keamanan dan meresahkan masyarakat. Sehingga petugas diminta mengambil tindakan tegas untuk memberikan efek jera, dan melakukan patroli guna mencegah tindak premanisme pemalakan serupa terulang. “Enggak ada kompromi lagi. Jadi, premanisme di Jakarta, saya sebagai Gubernur, saya enggak ragu-ragu untuk itu (mengambil tindakan tegas),” ujar Pramono.












