Kasus Pembunuhan Ibu Oleh Anak di Medan: Sebuah Fenomena yang Jarang Terjadi
Kasus pembunuhan seorang ibu oleh anaknya sendiri di Medan menjadi perhatian khusus dari para ahli. Prof. Heru Susetyo, pakar psikologi dari Universitas Indonesia, menyatakan bahwa kejadian ini sangat jarang terjadi, terutama ketika melibatkan anak perempuan.
Kejadian yang Langka dan Memerlukan Perhatian Khusus
Menurut Prof. Heru, biasanya kasus kekerasan dalam keluarga lebih sering terjadi dari sisi orang tua terhadap anak, seperti ayah membunuh anak atau istri membunuh suami. Namun, kasus di Medan ini agak berbeda karena pelaku adalah seorang anak perempuan.
“Anak perempuan jarang membunuh orang tua, apalagi ibunya,” ujar Prof. Heru. Ia menekankan pentingnya untuk menelusuri latar belakang pelaku, termasuk potensi replikasi dari lingkungan atau media sosial.
Perbandingan dengan Kasus Lain
Prof. Heru juga membandingkan kasus di Medan dengan kejadian serupa di Lebak Bulus beberapa bulan lalu, di mana seorang anak laki-laki diduga membunuh ayah dan neneknya. Dari pengamatan ini, ia menyimpulkan bahwa kasus yang melibatkan anak perempuan masih tergolong langka.
Masa Depan yang Perlu Diwaspadai
Ia mengingatkan bahwa kejadian ini bisa menjadi contoh yang direplikasi oleh orang lain, terutama jika tidak ditangani secara tepat. “Bisa saja ada yang mengikuti cara yang sama, bahkan dengan alasan berbeda,” katanya.
Kronologi Pembunuhan
Insiden penikaman yang dilakukan oleh SAS (12 tahun), seorang siswa kelas 6 SD, terhadap ibu kandungnya, Faizah Soraya, terjadi pada Rabu (10/11/2025) pukul 05.00 WIB. Korban ditemukan tewas bersimbah darah dalam kamar rumahnya di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Sumatera Utara.
Faizah diperkirakan ditusuk sebanyak 20 kali menggunakan pisau dapur. Jasad korban pertama kali ditemukan oleh anak pertamanya, yang kemudian berteriak histeris saat melihat ibunya terkapar.
Sebelum kejadian, korban tidur bersama kedua anaknya di kamar lantai bawah. Sang suami, yang dikabarkan sudah pisah ranjang, tidur di kamar lantai dua.
Informasi dari Lingkungan dan Keluarga
Kepala Lingkungan V Tanjung Rejo, Suhartono, mengungkapkan bahwa suami korban sempat bercerita tentang kejadian yang diduga memicu kemarahan sang anak. Menurut informasi tersebut, korban sempat memarahi anak pertamanya sebelum kejadian.
Putri bungsunya, SAS, diduga tidak terima ketika ibunya memarahi kakaknya. Atas tindakan tersebut, SAS merasa tersinggung dan berusaha membela sang kakak.
Penanganan oleh Pihak Berwajib
Petugas dari Unit Reskrim Polsek Medan Sunggal dan tim Inafis Polrestabes Medan segera tiba di lokasi dan melakukan olah TKP. Barang bukti senjata tajam jenis pisau berhasil diamankan.
Suami dan anak pertama korban telah diperiksa oleh polisi. Setelah olah TKP, jenazah korban dibawa ke rumah sakit Bhayangkara Medan untuk autopsi. Jenazah akhirnya disemayamkan dan dikebumikan oleh pihak keluarga.
Observasi Psikologi Forensik
Saat ini, terduga pelaku, SAS, sedang menjalani observasi psikologi forensik di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Medan. Iptu Dearma Agustina, Kanit PPA Polrestabes Medan, mengonfirmasi bahwa observasi telah dilakukan selama dua hari terakhir.
Dearma juga meluruskan informasi sebelumnya mengenai status pendidikan SAS, yang awalnya dikabarkan sebagai siswi SMP. Dari hasil penelusuran polisi, terduga pelaku ternyata masih duduk di bangku SD kelas 6.
Proses Pemeriksaan dan Motif
Kasatreskrim Polrestabes Medan, AKBP Bayu Putro Wijayanto, mengonfirmasi bahwa pelaku telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif. “Masih kita periksa, karena masih kecil dan trauma, dan harus ada pendamping nih,” kata AKBP Bayu.
Motif di balik perbuatan keji tersebut masih menjadi fokus penyelidikan. Saat ini, polisi masih mendalami kasus tersebut, termasuk jumlah dan luka tusukan pada korban. Pemeriksaan mendalam tidak hanya dilakukan terhadap terduga pelaku, tetapi juga terhadap ayah dan kakak kandungnya.
Penutup
Kasus ini menunjukkan betapa kompleksnya dinamika keluarga dan dampak dari konflik yang mungkin tidak terlihat dari luar. Dengan observasi dan pemeriksaan yang teliti, diharapkan dapat ditemukan solusi yang tepat dan mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












