Bukan Mayat Palsu! Sayembara Rp 1 Miliar Ungkap Kematian Rudy Watak



JAKARTA,

Imelda (51), seorang wanita asal Manado yang kini tinggal di Tangerang, Banten, mengalami kesedihan mendalam setelah kehilangan ayahnya, Rudy Watak, sejak 2022. Rudy tinggal sendirian di salah satu apartemen di Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan.

Kehilangan Rudy pertama kali dilaporkan ke Polres Jakarta Selatan pada Maret 2022 oleh kakak Imelda. Namun, Imelda baru mengetahui informasi tersebut setelah enam bulan berlalu. Ia menduga hilangnya Rudy berkaitan dengan transaksi jual beli tanah yang sedang dalam proses pembayaran.

“Sebelumnya, Papa ada jual tanah, transaksi bodong. Papa sempat dibawa ke Bali sama orang-orang itu, katanya untuk pelunasan,” ujar Imelda saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Jumat (19/12/2025).

Setelah pulang dari Bali, ternyata tidak ada pembayaran yang dilakukan. Sang ayah mencoba menagih dengan bantuan adik-adiknya. Setelah itu, tidak ada lagi kabar tentang Rudy. Imelda kemudian membuat laporan ke berbagai instansi untuk mencari ayahnya.

Cari Bantuan Lebih Lanjut

Pada awal 2025, Imelda ingin melapor ke Presiden Prabowo karena tidak ada perkembangan signifikan dari kepolisian. Namun, ia terhalang izin untuk melakukan orasi langsung di depan Istana Negara.

Pada suatu Kamis, Imelda yang melintas di sekitar Monumen Nasional (Monas) melihat adanya sekumpulan orang berbaju hitam di depan Istana Presiden. Aksi mereka yang membawa atribut seperti poster dan pengeras suara menarik perhatiannya. Ia pun menghampiri kelompok itu.

Ia berbincang dengan Sumarsih sebagai penanggung jawab aksi. Menurut Sumarsih, aksi tersebut bertujuan menyuarakan nasib kerabat mereka yang hilang dalam peristiwa pelanggaran HAM pada 1998.

“Saya mampir, saya kenalan dengan penanggung jawab, Bu Sumarsih ya. Oh, ternyata di sini orang-orang Kontras, LBH Jakarta, dan Amnesty. Itu acara mereka dan di situ Tragedi Semanggi, yang mahasiswa-mahasiswa hilang, untuk orang-orang hilang di situ,” jelas Imelda.

Imelda menyampaikan bahwa ia juga sedang berusaha mencari ayahnya yang hilang. Sumarsih pun mengajak dia untuk ikut bergabung di aksi Kamisan ini. Imelda setuju. Dia dan suaminya melakukan orasi selama empat kali.

Terakhir kalinya, pada 28 Agustus 2025, Imelda membawa spanduk berukuran 2 meter berisi permintaan tolong mencari ayahnya dengan imbalan Rp 1 miliar.

“Jadi saya mau ke mana lagi? Akhirnya saya minta rakyat yang tolong saya. Makanya saya bikin sayembara, siapa yang bisa menemukan Rudy Watak akan diberikan hadiah Rp 1 miliar,” tutur Imelda.

Ia mencantumkan nomor khusus untuk informasi terkait keberadaan ayahnya pada spanduk itu. Keesokan harinya, ratusan pesan masuk ke nomor itu. Salah satu pesan dari nomor tak dikenal mengarahkan Imelda untuk mencari ayahnya ke Panti Sosial Cipayung.

Dugaan Pemalsuan Kematian

Imelda pun menghubungi nomor itu untuk mengonfirmasi lebih lanjut. Namun, nomor tak dikenal itu tak bisa dihubungi. “Nah, berarti orang itu tahu bahwa ini kayak sayembara. Dia akan dapat duit dari saya karena dia ngasih tahu tempatnya Papa. Berarti tujuannya dia bukan duit,” kata Imelda.

Begitu Imelda menyambangi panti tersebut, ia diinformasikan bahwa ayahnya telah meninggal dunia pada Mei 2022, dua bulan sejak ia diantar ke panti dengan dugaan gangguan jiwa. Pihak panti menunjukkan sejumlah dokumen kepadanya. Ia juga ditunjukkan foto saat Rudy diantar ke panti dan meninggal.

Imelda merasa janggal. Ia tidak yakin orang yang meninggal itu benar ayahnya. Ditambah lagi kejanggalan pada dokumen-dokumen yang diberikan. Salah satunya surat rekomendasi dari Polsek Pasar Minggu kepada Satpol PP Pasar Minggu untuk membawakan Rudy yang ditemukan dalam keadaan linglung di pinggir jalan dan memiliki gangguan jiwa.

“Masa iya di keterangan kejadiannya 2022, tapi di nomor suratnya 2021. Suratnya juga cuma dikasih foto, enggak kelihatan itu ditanda tangan sama siapa karena ketutupan informasi tempat pengambilan fotonya,” jelas Imelda.

Ia meminta kepada Polres Jakarta Selatan untuk membongkar makam ayahnya. Imelda dan adik ayahnya pun melakukan tes DNA dengan sampel pembanding dari kerangka yang ada di makam atas nama Rudy Watak. Benar saja, hasil tes DNA menunjukkan sampel kerangka tidak identik dengan sampel Imelda dan adik ayahnya.

“Hasil yang keluar bahwa sampel saya, pembandingnya adik kandung papa juga, dan dua orang adik, tidak identik dengan kerangka tulang,” kata Imelda.

Lantas Imelda melaporkan kejadian ini ke Bareskrim Polri. Laporan Imelda teregistrasi pada nomor laporan (LP) STTL/603/XII/2025/BARESKRIM. Oleh penyidik Mabes Polri, laporan Imelda didaftarkan atas pemalsuan surat dan kini dilimpahkan ke Polda Metro Jaya.

“Ini memang pemalsuan jenazah, soalnya kalau saya enggak bongkar kubur, saya enggak ekshumasi, mau sampai kapan pun. Memang secara hukum bahwa papa saya itu sudah meninggal dan dikuburkan, enggak akan ketahuan,” tutur dia.

Dugaan pemalsuan data jenazah ini ditujukan kepada pihak Panti Sosial Cipayung yang diduga memanipulasi data seolah ayah Imelda sudah meninggal.

Dilimpahkan ke Polda Metro Jaya

Kini, laporan Imelda dilimpahkan ke Polda Metro Jaya untuk ditindak lanjut. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto mengatakan berkas kasus ini diterima Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) pada Kamis (18/12/2025).

Selanjutnya akan dilakukan penetapan terhadap sub-direktorat yang akan menangani kasus ini. “Benar, sudah diterima Ditreskrimum kemarin, dan saat ini masih menunggu untuk ditangani oleh Subdit mana,” kata Budi kepada dikonfirmasi lewat pesan singkat, Jumat.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *