JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto dianggap perlu memberikan keyakinan kepada para investor global mengenai kedisiplinan fiskal pemerintah yang dinilai berkontribusi pada pelemahan nilai tukar rupiah. Hal ini bisa dilakukan oleh Presiden Prabowo saat berbicara dalam acara World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1/2026). Forum tersebut dinilai sebagai momen penting bagi pemerintah untuk menyampaikan kebijakan dan strategi keuangan negara.
Menurut Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, komitmen pemerintah terhadap kedisiplinan fiskal sangat penting untuk disampaikan dalam forum tersebut. Terlebih setelah konsolidasi fiskal tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo ditutup dengan peningkatan defisit menjadi Rp695,1 triliun atau 2,92% terhadap PDB.
“Pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, harus menunjukkan bahwa kesinambungan fiskal adalah hal utama untuk memastikan operasional negara ke depan. Ini harus dikomunikasikan secara jelas,” ujar Fakhrul kepada wartawan di Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Menurut Fakhrul, APBN 2026 perlu dikelola dengan disiplin fiskal yang baik agar dapat menjaga stabilitas ekonomi. Namun, anggaran negara juga harus tetap dinamis agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
“Kita melihat stabilitas, ada disiplin fiskal, tapi sekaligus harus dinamis ke arah pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi,” tambahnya.
Tembus Batas 3%
Sebelumnya, Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC, Pranjul Bhandari menyatakan bahwa pemerintahan Prabowo pada tahun kedua kemungkinan besar akan melebihi batas defisit APBN 3% terhadap PDB. Hal ini terlihat dari realisasi defisit APBN 2025 yang semakin melebar. Awalnya, defisit ditargetkan sebesar 2,53% terhadap PDB, namun akhirnya meningkat menjadi 2,78% pada semester I/2025.
Menurut Pranjul, kondisi fiskal 2025 tidak lepas dari rendahnya realisasi penerimaan pajak dan meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah untuk stimulus serta program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Hal itu menimbulkan anggapan bahwa target 3% atau batas atas defisit mungkin akan terlampaui pada tahun 2026,” ujarnya dalam media briefing, Senin (12/1/2026).
Namun, kondisi fiskal 2026 bisa membaik seiring dengan perbaikan ekonomi yang berdampak positif pada penerimaan pajak. Meskipun demikian, target penerimaan pajak 2026 semakin menantang karena realisasi 2025 hanya mencapai 87% dari target, yaitu Rp1.917 triliun.
Masalahnya, target penerimaan pajak 2026 sebesar Rp2.357,7 triliun meningkat 7,6% dibandingkan UU APBN 2025 yang sebesar Rp2.189,3 triliun. Dengan realisasi akhir 2025 hanya Rp1.917 triliun (shortfall Rp272 triliun), maka pertumbuhannya ke target 2026 melonjak ke 22,9% (YoY).
“Beberapa faktor seperti pertumbuhan PDB yang rendah di 2025 bisa membaik di 2026. Selain itu, saya mendengar konferensi pers Menteri Keuangan, setidaknya sampai saat ini dia selalu berbicara tentang tetap mempertahankan batas defisit 3%. Jadi saya akan merujuk ke pernyataannya itu,” lanjut Pranjul.
Pelemahan Rupiah
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menyatakan bahwa perkembangan nilai tukar rupiah belakangan ini dipengaruhi oleh faktor domestik dan global. Dari sisi domestik, ia mengakui bahwa kondisi fiskal pemerintah dan pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas A. Djiwandono sebagai Anggota Dewan Gubernur BI turut memengaruhi aliran modal asing keluar (capital outflow) sehingga berdampak pada rupiah.
“Aliran modal asing keluar juga karena kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi, termasuk Pertamina, PLN, Danantara, dan persepsi pasar terhadap kondisi fiskal serta proses pencalonan deputi gubernur,” terangnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Sementara dari sisi eksternal, beberapa faktor seperti tensi geopolitik, tarif impor, dan kenaikan imbal hasil surat utang AS memicu capital outflow dari pasar-pasar emerging, termasuk Indonesia.
“Seperti yang kami sampaikan, pada tahun 2026 ini terjadi net outflow US$1,6 miliar hingga 19 Januari 2026. Itulah faktor-faktor global,” jelas Perry.












