Karena Qatar Hentikan Produksi LNG, India Kurangi Pasokan Gas ke Industri

Perusahaan India Mengurangi Pasokan Gas Alam Akibat Ketegangan di Timur Tengah

Pada hari Selasa (3/3/2026), sejumlah perusahaan di India mengambil langkah untuk mengurangi pasokan gas alam ke sektor industri. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan pengetatan pasokan dari kawasan Timur Tengah. Hal ini diketahui setelah produsen utama, Qatar, menghentikan produksi gas alam cair (LNG) pada Senin lalu.

Seruan penghentian produksi tersebut terjadi setelah Iran melancarkan serangan terhadap negara-negara Teluk sebagai respons atas serangan Israel dan Amerika Serikat terhadapnya. Serangan-serangan tersebut juga menyebabkan gangguan dalam pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz, yang berdampak pada kenaikan harga energi global serta biaya pengiriman.

India, yang merupakan pembeli LNG terbesar keempat di dunia, sangat bergantung pada impor dari kawasan Timur Tengah. Importir LNG terbesar India, Petronet LNG Ltd, telah memberi tahu GAIL (India), perusahaan pemasaran gas terbesar di negara itu, serta sejumlah perusahaan lainnya tentang penurunan pasokan.

Negara Asia Selatan ini menjadi pelanggan LNG terbesar bagi Abu Dhabi National Oil Company dan pembeli LNG terbesar kedua dari Qatar. GAIL dan Indian Oil Corp (IOC) telah memberi informasi kepada pelanggan mereka mengenai pemangkasan pasokan gas pada Senin malam.

Besarannya pemangkasan pasokan bervariasi antara 10 persen hingga 30 persen, menurut dua sumber. Pemangkasan ini ditetapkan pada batas pengambilan minimum agar melindungi pemasok dari potensi penalti berdasarkan ketentuan kontrak dengan pelanggan.

Hingga saat ini, GAIL, Petronet, dan IOC belum memberikan tanggapan resmi. Sumber-sumber tersebut memilih untuk tidak disebutkan namanya karena tidak berwenang untuk berbicara kepada media.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan LNG, beberapa perusahaan seperti IOC, GAIL, dan Petronet LNG berencana menerbitkan tender pembelian di pasar spot. Namun, harga spot, ongkos pengiriman, dan biaya asuransi saat ini sedang melonjak tajam.

Komentar Presiden AS Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa operasi militer AS terhadap Iran bisa berlangsung selama empat pekan atau kurang. Ia juga mengakui bahwa konsekuensi dari durasi perang tersebut akan ada korban jiwa dari kalangan militer AS.

“Prosesnya selalu memakan waktu empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan. Prosesnya selalu sekitar empat pekan, jadi sekuat apa pun negara ini, akan memakan waktu empat pekan atau kurang,” kata Trump dalam sebuah wawancara.

Trump juga menyatakan bahwa Iran ingin memulai perundingan setelah operasi AS. Ia menambahkan bahwa Teheran “seharusnya berbicara pekan lalu, bukan pekan ini.”

Dampak Konflik Terhadap Harga Minyak Dunia

Pada akhir pekan lalu, AS dan Israel melakukan serangkaian serangan terhadap target di dalam Iran, termasuk di Teheran, dengan laporan kerusakan dan korban sipil. Iran menanggapi dengan serangan rudal ke wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Selain itu, Iran juga melakukan blokade terhadap Selat Hormuz yang menjadi titik vital distribusi minyak dunia.

Dilansir dari Aljazeera, harga minyak melonjak tajam dan saham-saham melemah setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan terhadap instalasi militer Israel dan AS di Timur Tengah mengganggu rantai pasok energi global.

West Texas Intermediate, minyak mentah ringan dan manis yang diproduksi di AS, diperdagangkan pada harga 72,79 dolar AS per barel pada awal perdagangan Senin, naik 8,6 persen dari sekitar 67 dolar AS pada Jumat. Minyak mentah Brent, yang menjadi standar internasional, diperdagangkan pada harga 79,41 dolar AS per barel pada awal perdagangan Senin, naik 9 persen dari harga 72,87 dolar AS pada Jumat, sekaligus mencatat level tertinggi dalam tujuh bulan terakhir.

Prediksi Pakar Energi

Pakar energi dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, memprediksi harga minyak dunia bisa naik hingga 100 dolar AS per barel dari kisaran 72 dolar AS per barel dengan skenario penutupan Selat Hormuz.

“Jika ditutup saat ini, besok lusa bisa langsung mencapai 90–100 dolar AS per barel,” ujar Yayan di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, terletak di antara Oman dan Iran, serta menjadi rute utama perdagangan energi global. Di selat ini mengalir sekitar seperlima dari total ekspor minyak dunia, termasuk sebagian besar minyak dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum dikirim ke pasar internasional.

Dengan demikian, Yayan menyampaikan bahwa Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. “Jika Iran menutup Selat Hormuz, harga minyak akan naik hingga 50 persen,” ucapnya.



Pengendara mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite di SPBU di kawasan Jalan Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur, Senin (13/5/2024). – (/Thoudy Badai)

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *