Guru Honorer Terkejut Gaji Hanya Rp66 Ribu, Cukup untuk Bensin Seminggu

Guru Honorer dan Kondisi yang Menggugah

Seorang guru honorer menjadi sorotan setelah mengunggah slip gaji yang menunjukkan nominal yang sangat kecil. Dalam unggahan tersebut, terlihat bahwa ia hanya menerima sejumlah uang sebesar Rp66 ribu selama satu bulan mengajar. Uang tersebut dinilai tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan hanya cukup untuk membeli bensin selama seminggu.

Rincian Gaji yang Sangat Memprihatinkan

Berdasarkan rincian yang tercantum dalam slip gaji, guru honorer tersebut mendapat honor sebesar Rp300.000 dari 15 jam mengajar dengan tarif Rp20.000 per jam. Selain itu, ia juga menerima biaya transportasi sebesar Rp216.000 untuk 27 kali hadir. Total honor seharusnya mencapai Rp516.000.

Namun, karena memiliki pinjaman koperasi, setiap bulan gajinya dipotong sebesar Rp450.000. Akibatnya, hanya tersisa Rp66.000 yang bisa dibawa pulang. Slip gaji tersebut diterima pada 5 November 2025 setelah ditandatangani oleh bendahara.

Keberanian dan Semangat Mengajar

Meskipun gaji yang diterima sangat kecil, sang guru tetap semangat mengajar. Ia mengungkapkan bahwa senyum para muridnya menjadi sumber semangat baginya. “Tapi tetap berangkat ngajar, karena senyum anak-anak itu yang bikin semangat,” tulisnya.

Ia juga menyampaikan pertanyaan tentang apakah seorang guru honorer bisa memiliki penghasilan tambahan tanpa meninggalkan kelas. Setelah ditelusuri, ternyata ia juga mengasah keahlian di bidang lain, seperti digital marketing. Dalam bio Instagramnya, tercantum pengalaman lebih dari 10 tahun di bidang tersebut serta sedang mengulik produk digital.

Penjelasan dan Tujuan Unggahan

Guru honorer tersebut menjelaskan bahwa slip gaji yang dibagikannya bukan semata-mata untuk mencari perhatian netizen. Ia menyebutnya sebagai studi kasus yang dialami banyak orang. Ia juga menyampaikan bahwa tujuannya adalah untuk berbagi pengalaman dan membantu sesama guru honorer yang mungkin mengalami hal serupa.

Ia menegaskan bahwa dirinya pernah menjadi guru honorer dan mengajar. Dalam curhatannya, ia menyampaikan bahwa mengajar bukan hanya transfer ilmu, tapi juga transfer harapan. “Dulu saya pernah mengajar, gak lama tapi, cukup buat bikin saya ngerti satu hal: ngajar itu bukan cuma transfer ilmu tapi transfer harapan.”

Pesan untuk Para Guru Honorer

Ia juga menyampaikan pesan kepada para guru honorer yang sedang berjuang. Menurutnya, meskipun mereka tidak merasa spesial, banyak orang yang hidupnya berubah karena karya mereka. Ia berterima kasih atas dedikasi para guru honorer, bahkan ketika dunia sering lupa menghargai.

Kisah Lain: Guru Honorer di SMAN 12 Kabupaten Kaur

Selain kisah tersebut, ada juga kisah lain mengenai guru honorer di SMAN 12 Kabupaten Kaur. Sebanyak 16 guru honorer di sekolah tersebut menerima bayaran Rp12.000 per jam. Uang tersebut berasal dari urunan wali murid.

Praktik ini diungkap oleh anggota DPRD Provinsi Bengkulu, Usin Abdisyah Putra Sembiring. Ia menjelaskan bahwa SMA Negeri 12 Kaur berada di wilayah terpencil dengan akses jalan rusak. Selama tiga tahun terakhir, kegiatan belajar mengajar dilakukan di gedung milik SMPN 22 Nasal.

Tindakan dan Harapan Masa Depan

Atas temuan tersebut, DPRD Provinsi Bengkulu berjanji akan mengawal usulan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) bagi SMA Negeri 12 Kaur. Ia menyampaikan bahwa usulan USB sudah disampaikan ke kementerian pendidikan dan kebudayaan. Jika sekolah memiliki gedung baru, sembilan desa terdekat dapat menyekolahkan anak-anaknya tanpa harus jauh.

DPRD juga berkomitmen untuk membantu proses hibah tanah dan pematangan lahan. Dalam kunjungan tersebut, DPRD menyerahkan seperangkat komputer dan printer kepada pihak sekolah. Selama ini, para guru menggunakan monitor komputer lawas dan CPU rusak yang mereka rakit sendiri untuk memenuhi kebutuhan administrasi sekolah.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *