Dewi Astutik, Bandar Narkoba 2 Ton Sabu Rp 5 Triliun, Ditangkap di Kamboja

Penangkapan Dewi Astutik, Otak Penyelundupan Narkoba Internasional

Penangkapan terhadap Dewi Astutik, yang dikenal sebagai otak penyelundupan dua ton sabu senilai Rp5 triliun, akhirnya berhasil dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui operasi lintas negara di Sihanoukville, Kamboja. Operasi ini melibatkan berbagai pihak seperti Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI, dan BAIS TNI.

Dewi Astutik diketahui menggunakan identitas palsu serta nama samaran untuk menghindari penangkapan. Selain itu, ia juga merekrut sedikitnya 110 Warga Negara Indonesia (WNI) sebagai kurir narkoba yang tertangkap di berbagai negara.

  • Operasi senyap ini dilakukan setelah berbulan-bulan Dewi menghilang dan diduga mengendalikan jaringan narkoba kelas kakap dari luar negeri.
  • Penangkapan dilakukan di Sihanoukville, Kamboja, dengan bantuan Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan.
  • Setelah ditangkap, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antarotoritas.
  • Setibanya di Indonesia, Dewi akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan besar tersebut.

Jaringan Narkoba yang Terorganisir

Jaringan narkotika yang dikendalikan oleh Dewi Astutik disebut sangat aktif dalam mendistribusikan berbagai jenis narkotika ke Asia Timur dan Asia Tenggara. Tidak hanya sabu, sindikat ini juga mengedarkan kokain hingga ketamin menggunakan jalur darat dan laut.

BNN menegaskan bahwa penindakan tidak akan berhenti pada penangkapan ini, tetapi akan berlanjut pada pembongkaran seluruh struktur jaringan yang selama ini beroperasi secara masif dan terorganisasi.

  • “Penangkapan ini adalah pintu masuk untuk membersihkan jaringan besar yang bekerja secara masif,” tegas BNN.
  • Jaringan Narkotika Dewi Astuti berbeda dengan sindikat Fredy Pratama yang juga menjadi buruan aparat hukum Indonesia.

Rekrutmen Kurir Narkoba

Pada awal Mei 2025, Dewi Astutik yang memiliki nama asli berinisial PA kembali disorot setelah BNN menggagalkan penyelundupan 2 ton sabu-sabu senilai Rp 5 triliun dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau.

Dewi Astutik tidak hanya menjadi master mind di kasus penyelundupan 2 ton sabu di kapal Sea Dragon Tarawa, tapi juga di kasus-kasus besar lainnya.

  • Dengan identitas palsunya, PA telah merekrut 110 orang Indonesia untuk menjadi kurir narkoba di luar negeri.
  • Seperti, akhir tahun 2024, saat ada 2 orang terbang dari Kamboja, masuk ke Medan dengan menggunakan pesawat membawa narkoba, mereka juga hasil rekrutmen Dewi Astutik.
  • Marthinus bahkan membuka data mencengangkan, dimana ada 110 orang Indonesia (WNI) yang diangkap di luar negeri seperti Brasil, India, Kamboja hingga Korea, ternyata mereka juga hasil rekrutmen Dewi Astutik.

Identitas Asli Dewi Astutik

Mengutip Surya.co.id, Dewi Astutik merupakan warga Jawa Timur dari identitas berupa fotocopy KTP maupun paspor. Dalam identitas kependudukannya, Dewi Astutik beralamat di Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo.

Namun, ketika ditelusuri jejak Dewi Astutik sesuai alamat yang beredar di medsos, hasilnya nihil. Tidak ada nama Dewi Astutik di Dusun Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong.

  • Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, mengatakan nama Dewi Astutik tidak ada di dusunnya.
  • “Nama Dewi Astutik tidak ada. Tetapi alamat itu memang warga sini. Fotonya juga kenal,” ungkapnya.
  • Menurut Gunawan, sesuai KTP maupun paspor, warga mengenalnya dengan nama PA. Perempuan itu, disebut bekerja di luar negeri. Diduga, nama PA ini mengganti namanya menjadi Dewi Astutik.

Rizal Hartanto

Penulis berita dengan ketertarikan pada human interest dan kisah inspiratif. Ia senang berbincang dengan masyarakat untuk memahami realitas kehidupan. Ketika tidak menulis, ia menikmati hobi memasak dan mendengar podcast. Motto: "Menulis adalah cara merawat empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *