Rekam Jejak Dewi Astutik, Buronan Narkoba Rp5 Triliun, Ditangkap BNN di Kamboja

Rekam Jejak Dewi Astutik, Gembong Narkoba Kelas Internasional yang Ditangkap

Dewi Astutik, seorang gembong narkoba kelas internasional, akhirnya berhasil ditangkap setelah menjalani pelarian selama satu tahun. Ia menjadi otak penyelundupan dua ton sabu senilai Rp5 triliun. Penangkapan ini dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.

Peran Penting dalam Jaringan Narkoba Internasional

Dewi Astutik dikenal sebagai pemimpin dan perekrut kurir-kurir narkoba yang kebanyakan berasal dari Indonesia. Ia terlibat dalam jaringan narkoba internasional Golden Triangle, yang melibatkan tiga negara yaitu Laos, Myanmar, dan Thailand. Kawasan ini dikenal sebagai Segitiga Emas karena penghasil utama opium dan heroin di Asia Tenggara.

Dalam operasi bersama BNN, Bea Cukai, dan TNI AL, dua ton sabu berhasil diamankan dari kapal MT Sea Dragon Tarawa di Kepulauan Riau pada 22 Mei 2025. Empat awak kapal yang berstatus warga negara Indonesia (WNI) diduga berkaitan dengan Dewi. Menurut Kepala BNN, Komjen Marthinus Hukom, Dewi memainkan peran penting dalam proses rekrutmen ini.

Rekrut 110 Kurir ke Luar Negeri

Dewi Astutik diduga telah merekrut lebih dari 110 WNI untuk menjadi kurir narkoba di luar negeri. Para kurir ini tersebar di berbagai negara seperti Brasil, India, Kamboja, dan Korea Selatan. Marthinus menegaskan bahwa para kurir ini dipesan oleh orang yang berhubungan dengan Dewi Astutik.

Kasus besar lainnya yang terkait dengan Dewi adalah penyelundupan 2 ton sabu-sabu senilai Rp5 triliun dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau. Dewi tidak hanya menjadi master mind dalam kasus ini, tetapi juga dalam beberapa kasus besar lainnya.

Identitas Palsu dan Kejanggalan

Nama Dewi Astutik mencuat ketika BNN membongkar peredaran heroin seberat 2,76 kilogram di Bandara Soekarno-Hatta. Heroin itu diamankan dari seorang pria berinisial ZM pada 24 September 2024. Dari hasil pemeriksaan, ZM mengatakan bahwa heroin akan diserahkan kepada SS. BNN kemudian menangkap SS dan mendapati nama pelaku lain, yakni AH. AH diketahui memerintahkan ZM dan SS untuk mengambil heroin dari Dewi Astutik di Kamboja.

Menurut informasi dari warga Dusun Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Dewi Astutik sebenarnya memiliki identitas asli bernama PA. Ia diduga menggunakan identitas palsu milik keluarganya. KTP-nya menunjukkan alamat di Dusun Sumber Agung, namun tidak ada nama Dewi Astutik di sana. Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, mengatakan bahwa nama Dewi Astutik tidak ada di dusunnya, tetapi alamat tersebut memang warga sini.

Bekerja di Luar Negeri

Dewi Astutik dikenal sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). Menurut Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo, Dewi sudah lama menjadi PMI. Ia pernah bekerja di Hongkong dan Taiwan, dan terakhir katanya di Kamboja. Namun, keberangkatan Dewi ke Kamboja menyisakan sejumlah kejanggalan. Diduga, ia menggunakan identitas palsu milik keluarganya.

Buron Interpol

BNN telah mengajukan red notice untuk nama Dewi Astutik kepada Interpol. Dewi sudah menjadi buron sejak 2024. Saat ini, BNN bekerja sama dengan Badan Intelijen Nasional (BIN) untuk mengejar keberadaan Dewi. Penangkapan Dewi di Kamboja menandai berakhirnya pelariannya.

Setelah ditangkap, Dewi dibawa ke Phnom Penh untuk proses verifikasi identitas dan penyerahan resmi antarotoritas. Setibanya di Indonesia, Dewi akan menjalani pemeriksaan intensif guna mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat.

BNN menegaskan bahwa penindakan tidak akan berhenti pada penangkapan ini, tetapi berlanjut pada pembongkaran seluruh struktur jaringan yang selama ini beroperasi secara masif dan terorganisasi. Jaringan yang dikendalikan Dewi Astutik sangat aktif mendistribusikan berbagai jenis narkotika ke Asia Timur dan Asia Tenggara. Tidak hanya sabu, sindikat ini juga mengedarkan kokain hingga ketamin menggunakan jalur darat dan laut.

Hartono Hamid

Penulis berita yang aktif menggali cerita dari sudut pandang humanis. Ia senang mengamati kebiasaan masyarakat dan perubahan kultur digital. Hobinya termasuk membuat catatan refleksi, menonton film, dan mengikuti kelas online. Motto: "Menulis adalah jembatan antara fakta dan empati."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *