Pertarungan di Taman Safari dan Rencana Suami yang Licik



Cerita kriminal ini tentang seorang suami yang ingin mencelakai istrinya di taman safari, tapi justru dia yang akhirnya dimakan singa.


Seorang pria Afrika dengan kaos oblong dan celana jengki berwarna khaki mengangkat palang gerbang. Sebuah mobil safari keluar dari kompleks penginapan, di dalamnya duduk sepasang suami-istri, Ford dan Tricia. Ford mengemudi mobil sepanjang 2,5 km menyusuri jalan berbatu menuju gubuk resepsionis. Anehnya, Ford membayangkan perempuan lain, yaitu Marguerite yang duduk di sampingnya. Bayangan itu buyar saat Tricia mengajukan pertanyaan bernada kekanak-kanakan penuh rasa ingin tahu.

Seorang Afrika lain dalam pakaian penuh aksesori warna-warni mencolok memeriksa surat pesan tempat. Tiap pengunjung harus membayar setidaknya untuk tinggal selama seminggu. Ford melunasinya dua hari setelah memutuskan untuk berpisah dengan Marguerite dan kembali ke pangkuan Tricia untuk selama-lamanya.

“Istri saya ingin tahu berapa luas Ntsukunyane,” ujar Ford.

“Seratus ribu hektar.”

“Apa kami bisa melihat macan tutul?”

Pria itu hanya bisa mengangkat bahu, “Siapa tahu? Semoga Anda beruntung. Seminggu di sini, Anda pasti bisa melihat singa, gajah, kuda nil, atau cheetah. Tapi macan tutul itu binatang malam, padahal tiap hari Anda harus kembali ke kamp pada pukul enam sore.” Dia melihat ke arloji. “Lebih baik Anda berangkat sekarang jika ingin ke Thaba, sebelum gerbang tutup.”

Hampir pukul empat sore, angin serasa mati. Ford kembali ke mobil. Tricia, dalam rok santai kuning, erat memegang bingkai jendela mobil yang terbuka, kulitnya yang putih pucat tampak memerah. Ford memberi tahu berbagai aturan: di dalam suaka margasatwa dilarang membawa senjata api, memberi makan binatang, ngebut melebihi batas, dan membuang sampah.

“Yang terpenting, dilarang keluar dari mobil,” ujarnya.

Kembalinya suami yang “hilang”

Di banyak wilayah, suami umumnya dianggap tidak pantas, kalau tidak bisa dibilang dilarang, untuk jatuh cinta lagi. Apalagi kemudian memulai hidup baru dengan wanita lain setelah lebih dulu meninggalkan istrinya. Ford melirik Tricia sambil menduga isi pikirannya. Menilik wajahnya tertekuk, mungkinkah Tricia memikirkan hal yang sama seperti dirinya?

“Siapa di antara kita yang pertama kali melihat binatang akan dapat hadiah,” seru Tricia tiba-tiba.

“Setuju,” seru Ford sambil mengingat alasannya untuk “kembali” pada istrinya, lalu mengajaknya “berbulan madu” yang kedua ke Afrika, yang dijalaninya sekarang. Tapi dia harus berusaha keras membangkitkan rasa cintanya. Jauh berbeda dengan gelora cintanya pada Marguerite yang tak perlu dicari dan dibangkitkan.

“Siapa yang memberi hadiah?” tanyanya.

“Kamu, kalau aku yang menang, sebaliknya aku bila kamu yang menang. Hadiah untukku dari toko cenderamata di kamp.”

Ternyata Ford menang. Dia melihat seekor zebra tiba-tiba muncul dari balik kerimbunan pohon berduri di sebelah kanannya, yang tak lama kemudian disusul kawanannya.

“Apa hadiah untukku?”

Dia merasakan Tricia mendekat. “Cium sayang saja,” ujarnya sambil mendaratkan bibirnya di pipi suaminya. Lucunya, Ford merasa risih.

Ford mengurangi kecepatan mobil, membiarkan kawanan zebra itu melintas. Di dekat semak berduri menjulang menara semut merah seperti yang digambarkan dalam dongeng anak-anak. Thaba masih 45 km jauhnya. Siang ini mereka tidak akan melihat satwa buas. Paling-paling impala, zebra, atau jerapah. Ford tahu karena dalam perjalanan bisnis yang terdahulu, dia sempat pergi ke Serengeti dan Kruger.

Dia memberikan teropong pada Tricia, menyetel ukuran, lalu mengalungkan talinya. Ford hafal betul, Tricia selalu lupa mengalungkan tali teropong dan kamera. Akibatnya, pernah kamera dan teropong kesayangan Ford jatuh dan pecah saat di tangan istrinya. Waktu itu amarahnya meledak, bahkan tak surut meski Tricia sudah minta maaf sambil terus mencucurkan air mata.

Mobil itu tanpa AC, tak heran bila sisa sekapan panasnya masih terasa, meski matahari mulai condong ke barat. Keringat kuyup membasahi kaus Ford.

Tiba di piramida batu dengan papan penunjuk ke arah Thaba, kamp utama di Wakasuthu dan Hippo Bride di atas Sungai Suthu tampak seekor babun dan bayinya duduk di atasnya. Kadang tangan kasar induk babun gesit menyusuri bulu tebal bayinya untuk mencari kutu. Melihat itu, Tricia tergelitik untuk mengulurkan tangan. Seruan gembira dan kagum keluar dari mulut Tricia. Ford tak peduli dengan perasaan istrinya, dia terus mengemudi menuju Thaba, berusaha mencapai kamp dalam sepuluh menit.

Senja sangat singkat, baru saja datang tahu-tahu sudah berlalu. Dalam remang senja, benda-benda yang pucat tampak bersinar, kicau burung pun lebih mirip suara gerutuan. Di kamp Thaba ada restoran dan toko, gubuk-gubuk beratap jerami, dan villa kayu dengan serambi. Ford dan Tricia memesan villa di sisi utara. Dari serambi mereka yang cukup tinggi di balik pagar kawat yang menjulang, tampak Sungai Suthu mengalir deras. Senja telah tiba saat mereka melangkah di atas tangga kayu, Ford menjinjing perbekalan mereka.

“Untung kita membawa pil antimalaria,” ujar Ford sambil membuka pintu gubuk. Saat lampu menyala tampak dua nyamuk di dinding.

“Anopheles adalah pembawa malaria, sayangnya kedua nyamuk itu tidak bisa bilang apakah mereka anopheles atau bukan.”

Di kamar ada dua ranjang tunggal, sebuah meja, lampu dengan sinar redup, AC, kulkas, dan kamar mandi. Tricia meletakkan tas riasnya di ranjang dekat jendela. Dari jendela kelihatan vila-vila lain, lampu-lampu redup, dan jajaran mobil yang diparkir. Di luar kamar pun gelap gulita tanpa lampu karena listriknya dari generator.

Tricia mengajak bicara kedua nyamuk itu. “Apakah namamu Anna Phyllis? Tidak? Jangan takut, kau aman di sini. Katanya, dia Mary Jane dan suaminya John Henry.”

Ford mencoba tersenyum. Dulu dia terbiasa dengan kelakar kekanakan Tricia sampai kemudian dia bertemu Marguerite yang bijak dan dewasa. Setelah memasukkan tas ke dalam lemari tanpa membongkar isinya lebih dahulu, Ford ke kamar mandi.

Bukan bandingan WIL

Sungguh dramatis, saat itu mereka hanya satu koloni kecil manusia di dunia satwa liar, berkebalikan dengan dunia manusia yang selama ini mereka huni. Tricia berdiri di serambi, mendengarkan bunyi serangga dan kadal.

Setelah berhasil mengambil Ford kembali dari perempuan lain, sekarang dia harus berusaha mempertahankannya. Hanya dia tidak tahu cara yang lebih baik kecuali cara kuno yang selama ini dia lakukan, yang — tak cuma baginya namun juga bagi Ford — terasa kuno dan membosankan.

Dari dulu, Tricia selalu takut kepada laki-laki, dimulai dengan ayahnya. Itu sebabnya dia sengaja berpura-pura takut – yang kekanak-kanakan – untuk mengambil hati. Ford pun menikahinya karena sifat lucunya, sampai kemudian dia bertemu dengan wanita lain yang lebih dewasa.

Sementara ini cara yang dia gunakan adalah dengan menurunkan beberapa kilogram berat badannya, membeli baju-baju baru, dan menyemir rambut agar tampak lebih muda dan segar. Dia berandai-andai tidak pernah menikah. Masa bodoh dengan alasan adat, kebanggaan, dukungan, penilaian masyarakat, atau apa pun.

Ford keluar dari kamar mandi dalam jubah mandi. “Mana obat semprot nyamuk?”

Setengah kaget Tricia menjawab, “Aku tidak tahu.”

“Apa maksudmu tidak tahu? Bukankah aku minta disimpankan dalam tas riasmu?”

Tricia membuka tas riasnya, meski sudah tahu barang itu tidak ada di sana. Dia meninggalkannya di rak kamar mandi karena dirasakan terlalu besar. Sambil menggigit bibir, dia menoleh ke Ford, “Kita bisa membeli lagi di toko.”

“Tricia! Toko tutup jam tujuh, sedangkan sekarang sudah jam sepuluh,” tukasnya sambil mengaduk-aduk tas hingga isinya berantakan.

“Lihat semua sampah ini. Krim pembersih, alas bedak, pelembab – seperti foto model saja. Kamu pasti tidak terpikir untuk lebih mementingkan obat semprot nyamuk daripada alas bedak!”

Bibir Tricia bergetar. Dia merasa tak berdaya, “Tapi kita kan sudah membawa pil antimalaria.”

“Itu tidak akan mengatasi sakitnya gigitan nyamuk!” geram Ford kembali ke kamar mandi sambil membanting pintu.

Marguerite pasti tak akan pernah lupa membawa obat semprot nyamuk itu. Tricia tahu Ford pasti tengah membandingkan dirinya dengan Marguerite lagi. Bahkan mungkin otaknya telah penuh dengan kenangan akan perempuan itu saat masih di perjalanan menuju Thaba. Tricia mulai terisak. Air matanya yang mengalir deras biasanya sulit dihentikan. Dia memutuskan untuk ganti baju dan membedaki wajah meski air mata tetap menghapus sebagian riasannya.

Mereka makan malam di restoran. Tricia dalam rok berbahan krep berbunga merah jambu tampak mencolok sebagai satu-satunya wanita yang berdandan rapi di sana. Bila di lain kesempatan Tricia bisa membayangkan orang memandangnya dengan pancaran kagum, saat ini dia merasa dicemooh. Saat mengunyah pelan potongan daging yang matang dengan roti, diliriknya bekas gigitan nyamuk di lengan Ford.

Di luar kamp tidak ada lagi lampu menyala, cuma sorot dari jendela bangunan utama dan beberapa villa. Saat semua lampu mati, hanya ada kerlip bintang menerangi gelap malam yang pekat. Meski digigiti nyamuk, Ford cepat tertidur. Sedangkan Tricia tak kunjung lelap karena suara AC. Pukul 23.00 dia mematikan mesin pendingin lalu membuka jendela. Pukul empat dihi hari dia sudah terjaga, namun Tricia , memilih berbaring di ranjang selama setengah jam, baru kemudian berganti pakaian untuk berjalan-jalan.

Di luar masih gelap. Embun masih bergayut di ujung-ujung rumput. Saat melewati pohon merula, kelelawar berhamburan dari gerumbul rantingnya lalu berputar-putar di atas kepala Tricia. Jika Ford di sampingnya, dia pasti sudah menjerit lalu bergelantungan di lehernya.

Kamp dan semak di dekat pagar mulai riuh dengan macam-macam suara, dengkuran, siulan, cericit, dan jerit melengking. Itu mengingatkannya pada lukisan Hieronymus Bosch, yang menggambarkan berbagai setan mengerikan. Jika mereka dapat bicara, mungkin demikian suaranya.

Dia terus berkeliling, mengharapkan kejutan romantis. Tapi yang muncul sinar abu-abu pucat di langit menyeruak di antara awan yang terbelah. Perasaan gagal kembali mencekam, suasana itu seperti isyarat nasib buruk yang pasti – bahkan lebih pasti dari terbitnya matahari – menimpanya.

Tricia masuk ke vila berbarengan dengan saat Ford terbangun. Ford kesulitan membuka mata yang bengkak karena gigitan nyamuk. Di dinding nyamuk berjajar merata. Dengan mata setengah buta Ford bangkit dari ranjang terhuyung-huyung ke kamar mandi. Tricia yang gugup hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat.

Keluar mobil mencari bahaya

Ketika gerbang kamp dibuka pukul setengah enam, mobil-mobil safari meluncur, memulai pengembaraan mereka. Tapi Ford dan Tricia memilih sarapan karena Ford masih sulit melihat sedangkan Tricia tidak bisa mengemudi. Ketika toko buka, Ford dengan tak sabar membeli dua macam obat anti-nyamuk.

Selain itu dia membeli kalung gading dan rok bersablon jerapah untuk istrinya karena tak tahan terus-menerus mendengar Tricia minta maaf dengan mata berkaca-kaca. Pukul sembilan, saat bengkak mata Ford mengempis, baru mereka meninggalkan kamp menuju Hippo Bridge.

Ford mengendarai mobil pelan-pelan. Dia tak banyak bicara, sedangkan matanya yang bengkak tertutup oleh kacamata hitam. Dekat Sungai Suthu dia berhenti, lalu mengamati sekeliling. Tak ada apa-apa di tepi sungai kecuali “batang pohon” yang tiba-tiba tenggelam, artinya batang itu buaya. Di sana, pukul sembilan sudah dibilang terlambat untuk melihat-lihat. Selain itu, cuma ada bangau marabu yang berdiri di atas satu kaki dengan badan membungkuk di bawah pohon yang kurus kering.

Ford merasa tak enak badan. Rasa demam itu akibat iritasi di hampir sekujur tubuhnya, berupa rasa terbakar di kulit, yang makin menjadi akibat gerakan kecil sekali pun. Ditambah lagi kekesalan yang muncul tiap kali melirik Tricia. Mengapa dia harus kembali pada Tricia dan melakukan semua ini? Mata dan kepalanya berdenyut-denyut, suhu badannya seakan-akan naik.

Celana jins merah jambu yang tampak terlalu ketat, plus rumbai pita di blus putih membuat Tricia terlihat menggelikan. Dengan teropong Tricia menemukan sekeluarga monyet abu-abu berayun-ayun di cabang pohon peepul. Dia menjentik jari pada mereka melalui jendela. Akhirnya, dia membuka pintu mobil, dan membiarkannya tetap terbuka. Mata sayunya menatap Ford setengah memohon, meminta izin.

Namun, karena tidak ada tanda-tanda kehadiran binatang buas, maka, “Baik. Tapi jika petugas tahu, kita akan dapat masalah,” jawab Ford.

Tricia turun dari mobil. Pintu dibiarkan terbuka. Rumput di tepi jalan lebih dari selutut tingginya. Tak terpikir olehnya bahwa tempat itu bisa jadi persembunyian yang aman bagi anak singa atau cheetah. Ford mengambil teropong mengamati sisi lain padang karena tak tahan melihat Tricia lagi-lagi lupa mengalungkan tali kamera. Tricia tampak mengatur kamera, kera-kera sasarannya perlahan-lahan mundur menjauh. Saling berpelukan, sebelum akhirnya menutupi muka dengan lengan.

Ford perlahan melepas kacamata. Sekitar seratus meter dari tempatnya ada sekawanan kecil rusa jantan bingung mencari rumput segar. Tiba-tiba … dia melihat dua wajah kucing saling berdekatan, tubuh mereka merapat, punggungnya bertotol-totol. Cheetah!

Seharusnya, dia menyuruh Tricia untuk cepat masuk mobil. Tapi tidak. Cheetah itu dengan anggun berselonjor, namun matanya tetap awas. Marguerite akan suka ini, dia memang suka kucing. Di rumah pun Marguerite memelihara kucing burma.

Tricia kembali ke mobil sambil dengan riang bercerita betapa manis monyet-monyet itu. Ford menjalankan mobil tanpa bicara sepatah kata pun tentang cheetah. Sekitar pukul lima sore, kembali Tricia turun dari mobil, Ford tidak mencegah. Tricia dengan riang mendekati musang yang seketika menyingkir ke semak saat dia mengulurkan tangan.

Sejam lagi di sini sudah gelap. Ford membayangkan, memacu mobil kembali ke kamp tanpa Tricia. Apa jadinya bila muncul macan tutul, si pemburu malam. Sayang, dia tak bisa melakukannya karena leher dan tangannya masih sakit, meski bengkak di matanya hampir hilang. Tiba-tiba datang sebuah mobil berisi empat pria dari arah Hippo Bridge. Mobil itu melambat, pengemudinya melongokkan kepala.

“Dia tidak boleh keluar dari mobil seperti itu,” ujarnya menunjuk Tricia.

“Memang, sudah kuberi tahu,” jelas Ford.

“Maaf, Nyonya, tahukah apa yang Anda lakukan ini sangat berbahaya?” Suaranya menggelegar bercampur kesal. Seketika tubuh Tricia kaku, wajahnya memerah meski masih mencoba tersenyum. Dia takut. Laki-laki itu sepertinya memandang rendah terhadapnya, seolah Tricia makhluk yang menjijikkan.

“Tapi tolong jangan laporkan saya,” pintanya dengan kepala menunduk.

Pria itu berseru kesal, menarik kepalanya, dan mobil itu pun menderu pergi. Tricia melompat, duduk di sisi Ford. Saat makan malam, mereka ternyata semeja dengan rombongan keempat pria tadi. Yang dipanggil Eric bicara keras-keras tentang semua yang ditemukan kelompoknya. Segerombolan singa, dua badak, hyena, antelope, dan musang langka.

“Kamu tidak akan melihat banyak hewan di rute Hippo Bridge. Lebih banyak lagi di Sotingwe. Jadi besok pagi, pergilah dulu ke Sotingwe, pasti kalian melihat singa.”

Jangankan bicara, menengok pun tidak dilakukan Eric pada Tricia. Padahal sepuluh tahun lalu, para pria di restoran mana pun pasti akan menolehkan kepala, memperhatikan Tricia.

Melintasi taman, kembali ke villa, Tricia menggelayut manja di lengan Ford. Sayangnya, “Aduh, sakit! Kena bekas gigitan nyamuk. Maaf ya,” kata Ford.

Ford berbaring di ranjang yang terpisah setengah meter dari ranjang Tricia. Pikirannya melayang mengingat berbagai cara binatang buas berburu. Macan tutul akan mengendap-endap di cabang, dalam hitungan detik menubruk dan menghabisi mangsanya. Sedangkan singa betina akan berburu di pagi hari, lalu membawa hasilnya untuk keluarga. Gajah akan menyenderkan tubuhnya pada mobil lalu menendang kaca jendela. Ford pernah melihat cara mereka berburu, meski cuma dalam TV. Sedangkan cheetah, ia tidak tahu pasti caranya. Dia cuma tahu cheetah pelari tercepat di dunia.

Kamar itu sangat gelap, bayangan Tricia pun tak tampak. Tapi Ford tahu, dia belum tidur. Kadang terdengar dia menahan napas, kemudian diembus keras-keras, mengalahkan berisiknya AC.

Ketahuan niatnya

Mestinya Ford bergantian menyetir dengan Tricia, sehingga tidak kehilangan banyak kesempatan melihat kehidupan liar Afrika karena harus terus berkonsentrasi ke jalan. Bertahun-tahun lalu Ford pernah mencoba mengajar istrinya mengendarai mobil. Tapi Tricia terus ceroboh hingga memancing Ford untuk selalu membentak. Terbukti benar kata orang, suami tidak akan cukup sabar untuk mengajari istrinya mengemudi. Alhasil, Tricia tak pernah lulus ujian SIM. Alasan Tricia sendiri karena si penguji membuat dia takut.

Mereka orang pertama yang keluar dari gerbang esok paginya. Pada batu piramida, bekas singgasana anak induk babun, Ford mengambil arah ke Sotingwe.

Beberapa kilometer kemudian mereka melihat sekawanan singa. Eric dan kawan-kawannya pun sudah di sana, menyandarkan moncong kamera di ambang jendela. Kawanan itu terdiri atas dua singa betina dewasa, dua anak singa betina dan satu anak jantan dengan bulu surai yang mulai memanjang. Mereka bergoleran di jalanan. Ford parkir berhadapan dengan mobil Eric.

“Benar ‘kan kataku?” Eric meneriaki Tricia. “Kuharap Anda tidak berhasrat turun dari mobil kali ini.” Kali ini Tricia membalas perlakuan Eric semalam dengan tidak mengacuhkannya. Dia asyik memperhatikan singa.

Matahari makin tinggi, singa betina dewasa bangun dari rebahnya, lebih karena bosan, bukan karena gemeretak alat fotografi Eric. Dia berjalan pelan masuk ke semak-semak, di antara jajaran tinggi rumput, diikuti anak-anaknya dan singa betina lain. Singa-singa itu tak lepas dari amatan Ford. Sotingwe memang daerah kekuasaan singa. Jangan harap menemukan impala, jerapah, atau binatang memamah biak lainnya di sana.

Pusat safari ternyata di dekat sumber air di Sotingwe. Seekor gajah bertelinga lebar membedaki tubuh dengan debu merah yang disembur dari belalai. Tricia keluar dari mobil untuk memotret gajah. Seperti sebelumnya Ford tidak berusaha mencegah. Dia malah sibuk menggaruk bekas-bekas gigitan nyamuk yang mulai terasa gatal.

Tricia yang tetap lupa mengalungkan tali kamera mendekati pinggir kolam dan berdiri pada jarak aman – menurutnya. Tanpa dia sadari ada sepasang mata tepat di permukaan kolam – apa lagi kalau bukan buaya – mengincarnya. “Awas, buaya!” Ford memperingatkan karena tidak ingin terjadi sesuatu pada Tricia. Sekarang bukan saat yang tepat. Mereka pun kembali ke Thaba untuk sarapan.

Saat sarapan, juga makan siang, mereka bersama lagi dengan Eric yang menceritakan begitu banyaknya satwa liar yang dijumpai. Di jalanan berdebu di Sotingwe menuju Suthu Bridge, di atas pohon dekat kolam sumber air dia melihat macan tutul.

“Binatang kukuh dengan bercak hitam kotak-kotak,” tutur Eric sambil mengisap cerutu.

Mendengar cerita itu, Tricia jadi kepingin melihat juga. Maka ke sanalah mereka pergi setelah makan siang. “Sekitar satu kilometer dari jembatan. Perhatikan arah ke kiri, kalian akan dengan mudah menemukan pohon bercabang kekuningan. Ada tanah terbuka, nah, cabang pohon itu ada di sisi kanan,” kata Eric.

Ford memang dengan mudah menemukan tempatnya. Sayang, satwa bertotol itu tak tampak lagi. Suasana sekitar yang sepi membuat Tricia tak tahan untuk tidak keluar dari mobil. Dia berlenggang menuju kolam, perlahan-perlahan melangkah ke dalamnya. Dia ambil batu-batu kecil lalu ditembakkan ke permukaan air hingga muncrat beberapa kali.

Kembali Tricia melanggar aturan dengan memetik beberapa bunga daisy. Sepasang disematkan di dua kupingnya, sedangkan yang sebatang digigit di bibirnya yang terus tersenyum, sambil menggoyang pinggul layaknya penari Spanyol.

Ford tersenyum melihat tingkah dan tawa riang Tricia. Sikap ini yang membuatnya jatuh cinta dulu, namun sikap ini pula yang tak sanggup dia hadapi terus-menerus. Tiba-tiba keringat mengucur deras membasahi tubuh Ford. Dengan menarik napas panjang dia nyalakan mesin mobil, menjalankan pelan maju lalu mundur. Sejam lebih waktu yang tersisa untuk kembali ke Thaba. Sekarang mobilnya sudah menghadap arah ke Thaba, kakinya pun sudah di atas pedal gas, siap memacu mobil. Dia harus memutuskan, siapkah dia untuk … meninggalkan Tricia!

Dengan demikian, dia akan bebas untuk selama-lamanya. Menyerahkannya dalam gelap malam kepada singa dan macan tutul.

Belum sempat dia bertindak, muncul sebuah mobil. “Sialan!” geram Ford. Dikiranya Eric yang datang. Ternyata, mobil itu dikendarai pasangan muda dari Amerika. Salah satunya memberi salam pada Ford saat melintas.

“Cepat naik, sebentar lagi kita terlambat,” ajak Ford setengah dongkol, lalu memacu mobil begitu Tricia duduk di sampingnya. Bergidik bulu kuduk Tricia mengingat apa yang dilakukan Ford di depan matanya barusan.

Berbagai khayalan berkecamuk di benak Tricia. Malam itu dia nyaris ditinggalkan sendiri di padang penuh satwa liar. Mungkinkah akan ada orang di kamp yang peduli dengan ketidakhadirannya? – Tentu tidak. Malam itu Ford pasti akan memilih tinggal di vila.

Esok paginya, dialah orang pertama yang bakal meninggalkan kamp. Tak perlu berhadapan dengan petugas kamp lagi untuk check-out karena toh urusan administrasi sudah diselesaikan minggu lalu.

Pembunuhan yang sempurna

Siapa yang akan mencarinya. Andai tulang belulangnya ditemukan – yang sudah dikerkah habis oleh serigala dan burung nasar – akan sulit dibedakan dengan satu set tulang impala atau rusa. Setibanya di rumah, Ford akan menceritakan pada Marguerite bahwa semua itu dilakukan hanya untuknya. Sungguh menyakitkan.

Diburu singa

Malam itu Ford sangat manis dan lembut. Mungkinkah dia khawatir semua perbuatannya di Sotingwe ketahuan?

“Aku pernah janji sekali-sekali kita minum sampanye. Bagaimana kalau malam ini? Rasanya malam ini paling tepat untuk menikmatinya.”

“Terserah kau saja,” jawab Tricia lemah. Sekembali dari Sotingwe, dia merasa sakit baik tubuh maupun hati. Dia tak berselera untuk melakukan apa pun.

Ford mengangsurkan gelas, “Untuk kita.” Lalu memesan sup, ikan, dan Wiener Schnitzel. Sambil menyendokkan makanan, Tricia berusaha meyakinkan diri, Ford memang akan mencelakainya. Ford pasti mencoba lagi, mungkin dengan cara lain. Tapi cara apa? Yang pasti, cara termudah untuk merenggut nyawa Tricia. Bisa saja dia mengganti tablet kina dengan aspirin atau saat di hotel di Mombasa dia akan menenggelamkan Tricia di bak mandi. Tricia benar-benar merasa terancam.

Malam itu demikian menegangkan, bulan pun tak tampak. Sambil berbaring, pikiran Tricia melayang ke mana-mana. Dia tahu, perkawinan mereka sudah tak berpengharapan, meski dia berusaha keras untuk mempertahankannya. Lebih baik dia kembali ke ibunya, biarkan saja Ford kembali ke Marguerite.

Ternyata Ford pun tak bisa memicingkan mata. Gigitan nyamuk di wajah, leher, dan kaki tak mampu mengusik lamunannya. Pikirannya melayang ke macan tutul di padang safari yang mungkin sedang berburu dengan mengandalkan naluri. Dia akan meluncur cepat dari sebuah dahan, tanpa suara menyergap buruan, menancapkan gigi-gigi tajamnya ke tenggorokan mangsanya.

Dini hari berikutnya, Ford bangun lebih awal. Saat berkeliling, dia hanya bertemu dengan petugas kamp sedang memeriksa mobil. Bengkak kakinya kaku dan serasa terbakar, jalannya pun pincang. Saat bersandar pada pohon, kulitnya terasa nyaman karena batang kuning pohon itu dingin dan lembab. Ford melepas sandal dan menyentuh pelan bengkak di kaki.

Tricia sudah bangun ketika Ford masuk. Dia sedang duduk di ranjang, mengecat kuku-kukunya, Astaga, bagaimana mungkin dia hidup dengan perempuan yang masih sempat mengecat kuku dalam sebuah perjalanan safari seperti ini? Keluh Ford dalam hati.

Mereka keluar setelah pukul sembilan. Dalam perjalanan ke Wakasuthu mereka berpapasan dengan mobil Eric yang berlawanan arah.

“Tidak ada apa-apa di sana, kalian buang-buang waktu saja.”

“Baik, terima kasih,” balas Ford.

“Lebih baik ke Sotingwe. Kemarin kalian berhasil melihat macan tutul?”

Ford menggelengkan kepala sambil menyahut, “Kami memang tak selalu beruntung.”

Beberapa gajah tampak sedang bermain-main di sungai di Hippo Bridge, mereka saling semprot air dan dorong bahu kekar mereka. Ford berharap dapat melihat acara berburu keluarga singa. Ternyata, mereka sudah selesai berburu, tapi singa betina dan anak-anaknya masih membersihkan sisa daging pada tulang iga yang menghitam akibat darah kering. Mereka berdua hanya diam menonton. Sesaat keluarga singa pergi menuju gerombolan rumput tinggi, digantikan sekawanan serigala.

Ford kembali lagi ke tempat itu pukul empat sore saat giliran burung nasar datang untuk membersihkan tulang-tulang itu. Kaki Ford bengkak dua kali ukuran normal. Tricia diam saja. Tak berceloteh lagi, tertawa terkikik, menciumnya yang membuatnya geli, apalagi keluar mobil. Tricia pasti menyangka Ford sedang berusaha membunuhnya.

Dalam hati Ford mengaku, niat itu memang pernah muncul, tetapi hanya karena pengaruh demam. Yang sebenarnya, dia cuma ingin menakut-nakuti dan memberi pelajaran Tricia bahwa keluar dari mobil itu berbahaya. Mengapa pula dia harus membunuh Tricia? Toh, dia bisa meninggalkannya di mana saja, dan dia memang telah memutuskan akan berterus terang pada Tricia sekembali ke Mombasa, bahwa mereka tidak akan bersama lagi. Pikiran itu membuat Ford tersenyum lalu berpaling ke Tricia. Mobil dihentikan di tanah terbuka dekat pohon berbatang kuning yang lembut berdaun pakis.

“Mengapa tidak turun?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Tidak ada?” ujarnya menunjuk landak sambil mengangsurkan teropong. Tricia melihat, lalu tertawa riang. “Ooh, landak yang lucu, bukan!” tambah Ford.

Tricia menengok kursi belakang untuk mengambil kamera. Tiba-tiba dia duduk kembali, ragu-ragu akan apa yang dilakukannya. Ford melihat kebingungan Tricia.

Perlahan Ford mencabut kunci mobil, lalu meletakkannya di genggaman tangan Tricia. Wajah Tricia memerah, malu. Ford menatapnya, menikmati keragu-raguan dan kejengahan Tricia karena telah mencurigai Ford dengan begitu keji.

Meski semula ragu-ragu, Tricia menerima juga kunci itu. Dia mengambil kamera, membuka pintu mobil, menggenggam kunci kontak di tangan kiri, dan kamera di

Zaiful Aryanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *