Kekerasan Api: Tangisan Keluarga Pekerja Migran Indonesia yang Tak Pernah Kembali

Kisah Pilu Seorang Pembantu Rumah Tangga Indonesia yang Tewas dalam Kebakaran Hong Kong

Kebakaran besar di Hong Kong pada 26 November 2025 menjadi salah satu peristiwa paling mematikan dalam beberapa dekade terakhir. Dampaknya dirasakan tidak hanya oleh warga setempat, tetapi juga oleh keluarga jauh di luar negeri, termasuk di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, Indonesia.

Di sana, keluarga Darwati masih menunggu jenazah ibunya yang meninggal dalam kebakaran tersebut. Ibu Darwati adalah seorang pembantu rumah tangga Indonesia yang bekerja di kompleks perumahan Wang Fuk Court di distrik Tai Po, Hong Kong. Ia dikenal sebagai tulang punggung keluarga yang sangat dermawan dan baik hati, terutama kepada cucunya yang sangat dicintainya.

Dalam sebuah wawancara dengan The Straits Times, putra sulung Ibu Darwati, Zulian Firmansyah, berbagi kenangan tentang ibunya. Ia menunjukkan foto yang dimilikinya bersama ibunya dan putrinya yang berusia empat tahun. Keduanya mengenakan kaus merah muda yang seragam. “Itu kemeja yang sama yang dikenakan Ibu saat meninggal,” kata Zulian, suaranya tercekat karena kesedihan.

Ibu Darwati dikenal hemat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi selalu memberi yang terbaik bagi keluarganya. Saat pulang ke Indonesia, ia sering membawa putri Zulian jalan-jalan ke pasar malam atau tempat hiburan untuk membuatnya bahagia. Ia juga senang membelikan camilan, pakaian, dan mainan untuk cucunya.

Ibu Darwati baru saja meninggalkan Indonesia pada bulan Mei 2025 untuk bekerja di Hong Kong. Ia bukanlah orang asing di sana, karena pernah bekerja selama enam tahun sebelum kembali ke desa pada tahun 2024 untuk menikah lagi dan menghabiskan waktu bersama keluarganya. Suami pertamanya telah meninggal beberapa tahun sebelumnya.

Dengan penghasilannya dari Hong Kong, Ibu Darwati membangun rumah untuk keluarganya pada tahun 2022. Dia berencana menggunakan uang yang akan dia tabung selama masa kerjanya yang terakhir untuk membantu putranya memperluas bengkel motor miliknya. Namun, rencana itu tidak tercapai, karena ia tidak akan pernah kembali ke Indonesia.

Saat kebakaran terjadi, Ibu Darwati sedang merawat seorang wanita lanjut usia di apartemen Wang Fuk Court. Dalam pesan video terakhir yang dikirimkannya ke ponsel suaminya, terdengar suaranya yang panik, menyatakan bahwa dia terjebak dalam kebakaran dan tidak bisa bernapas. Lift di gedung tidak berfungsi, sehingga membuat situasi semakin mengerikan.

Dalam video yang dilihat oleh The Straits Times, terlihat ruangan yang dipenuhi asap. Seorang wanita muda terlihat berjongkok dan memegang sepotong kain di hidungnya, sementara seorang wanita tua yang lemah duduk tanpa bergerak di sebuah meja. Suara-suara panik terdengar di latar belakang saat orang-orang berjuang mencari jalan keluar.

Zulian mengatakan bahwa ini adalah pesan terakhir yang ia terima dari ibunya. Setelah menerima video tersebut, ia mencoba menelepon ibunya berulang kali, tetapi tidak berhasil. Ponsel ibunya terus berdering bahkan sehari kemudian, meski mereka sudah kehilangan kontak.

Konfirmasi resmi bahwa Ibu Darwati meninggal dalam kebakaran itu baru datang beberapa hari setelah kejadian. Zulian mengaku sangat terkejut dan masih berharap ibunya berhasil melarikan diri. Menurutnya, Ibu Darwati meninggal dunia saat berada di sisi orang lanjut usia yang diasuhnya.

Menurut Zulian, keluarga majikan Ibu Darwati belum memberi kabar sejak kejadian. Mereka juga tidak tahu apakah keluarga tersebut selamat dari kebakaran. Selain Ibu Darwati, seorang pekerja rumah tangga Indonesia lainnya, Nona Dina Martiana, juga meninggal dalam kebakaran tersebut.

Pemerintah Hong Kong telah membentuk komite independen untuk menyelidiki penyebab kebakaran dan mengapa api menyebar begitu cepat. Gugus tugas ini akan menginvestigasi faktor-faktor seperti jaring pengaman yang tidak memenuhi standar, penggunaan papan styrofoam, serta kurangnya penegakan peraturan keselamatan.

Pemerintah juga mengatakan bahwa jenazah 10 pekerja rumah tangga yang meninggal akan segera diserahkan kepada keluarga mereka. Konsulat Indonesia dan Filipina sedang berkoordinasi dengan kerabat terdekat untuk mengatur pemulangan jenazah. Setiap keluarga pekerja yang meninggal akan menerima kompensasi sebesar HK$800.000 (sekitar Rp. 1,7 miliar).

Namun, hampir tiga minggu setelah kebakaran, Zulian dan keluarganya masih menunggu kepulangan jenazah ibunya. Anak perempuan Zulian terus bertanya, “Nenek di mana? Kenapa dia belum menelepon?” Dia belum mengerti apa yang terjadi.

“Ibuku selalu bercanda di rumah, selalu membawa kehangatan ke rumah kami. Aku sangat sedih. Rasanya seperti aku tidak punya siapa pun lagi,” kata Zulian dengan suara yang bergetar.

Denis

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *