Kebun Sawit Jadi Hutan, Ini Rekomendasi Pohon dari Peneliti UGM

Perkebunan Sawit di Sumatera Akan Dikembalikan ke Fungsi Hutan Alam

Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menyampaikan rencana untuk mengubah kembali perkebunan sawit di Sumatera ke fungsi awalnya sebagai hutan alam. Rencana ini dilakukan setelah deforestasi menyebabkan bencana ekologis seperti banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.

Menurut Nusron, deforestasi di Sumatera menyebabkan wilayah tersebut kehilangan daerah resapan air sehingga air tidak bisa terserap ke tanah dan mengalir ke permukiman warga. Ia menekankan pentingnya kembalikan ruang yang sebelumnya digunakan untuk pohon menjadi kembali sebagai hutan alam.

Untuk mewujudkan hal ini, pihaknya akan melakukan revisi kebijakan tata ruang. Setidaknya 415 Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) kabupaten/kota akan direvisi. Namun, pengembalian fungsi hutan alam dari lahan perkebunan sawit tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Jenis Pohon yang Cocok untuk Memulihkan Hutan Bekas Sawit

Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Hatma Suryatmojo, menekankan pentingnya pemilihan jenis pohon yang tepat agar pemulihan ekosistem berjalan optimal.

Menurut Hatma, langkah awal yang krusial adalah memahami profil hutan asli sebelum wilayah tersebut mengalami deforestasi. Setiap kawasan memiliki karakteristik ekosistem berbeda yang dipengaruhi iklim, jenis tanah, hingga elevasi. Karena itu, jenis pohon yang ditanam di lahan bekas sawit tidak bisa diseragamkan.

“Pemilihan jenis dan komposisi tanaman harus merujuk pada referensi ekosistem di wilayah terdekat yang memiliki kondisi biofisik serupa,” ujar Hatma saat dimintai pandangan.

Secara umum, tanaman yang diprioritaskan adalah jenis pohon asli setempat untuk memulihkan fungsi ekologis. Setelah itu, dapat disisipkan jenis pohon produktif bernilai ekonomi. Contohnya, meranti (Shorea spp.) di Sumatera dan Kalimantan, atau merbau (Intsia bijuga) di Papua.

Jika tanaman yang dipilih tidak sesuai dengan karakteristik dan kesesuaian lahan, dikhawatirkan tanaman yang ditanam bakal mati. “Risikonya tanaman tidak tumbuh optimal, bahkan mati atau menyebabkan gangguan ekosistem lokal,” tuturnya.

Berapa Lama Hutan Bisa Pulih?

Meski sama-sama berupa pepohonan, perkebunan kelapa sawit tidak dapat menggantikan fungsi hutan alam, terutama dalam mengatur daur air. Hutan alam memiliki tajuk berlapis dan serasah tebal yang mampu meredam pukulan air hujan sebelum mencapai tanah. Struktur tanahnya pun kaya bahan organik dan berpori, sehingga air mudah meresap dan limpasan permukaan relatif kecil.

Sebaliknya, perkebunan sawit umumnya minim kanopi bawah dan serasah. Aktivitas pengelolaan seperti pembersihan gulma dan penggunaan alat berat membuat tanah lebih padat dan menurunkan kemampuan infiltrasi. Akibatnya, limpasan air meningkat dan risiko banjir serta longsor makin besar.

Hatma menegaskan, pemulihan hutan alam dari lahan sawit membutuhkan waktu panjang dan tidak bisa ditentukan secara pasti. “Setiap wilayah punya kondisi biofisik berbeda. Di Kalimantan dengan curah hujan tinggi, proses pemulihan bisa lebih cepat dibandingkan wilayah seperti Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.

Berdasarkan penelitian di Kalimantan, kata dia, hutan alam sekunder yang direhabilitasi dengan sistem silvikultur intensif membutuhkan sekitar 10 tahun untuk mendekati kondisi alami dari sisi kerapatan tegakan. Namun, dari aspek hidrologi, pemulihan dapat memakan waktu lebih dari 15 tahun.

Jenis Tanaman Alternatif untuk Lahan Gambut

Baik di Sumatera, Kalimantan, dan Papua, jenis tanah yang paling sering ditemukan adalah lahan gambut. Jenis lahan ini juga sering digunakan untuk perkebunan kelapa sawit dengan persiapan khusus, seperti tata Kelola air yang baik hingga pemilihan vegetasi yang tepat.

Berikut ini beberapa jenis tanaman yang cocok ditanam di lahan gambut bekas kondisi tertentu:

  1. Area bekas terbakar, tebang habis, dan area terbuka
  2. Jelutung rawa (Dyera polyphilla)
  3. Perepat (Combretocarpus rotundatus)
  4. Belangiran (Shorea belangeran)
  5. Perupuk (Lophopetalum P)
  6. Pulai rawa (Alstonia pneumatophora)
  7. Rengas manuk (Syaygium Sp)
  8. Terentang (Campnosperma Coriacea)

  9. Area bekas terbakar yang mengalami suksesi, bekas tebang selektif, dan penutupan vegetasi sedang

  10. Meranti rawa (Shorea pauciflora, Shorea tysmanniana, Shorea uliginosa)
  11. Merapat (Combretocarpus rotundatus)
  12. Durian (Durio carinatus)
  13. Ramin (Gonystylus bancanus)
  14. Punak (Tetramerista glabra)
  15. Kempas (Koompassia malaccensis)
  16. Resak (Vatica rassak)
  17. Kapur Naga (Calophyllum macrocarpum)
  18. Nyatoh (Palaquium spp.)
  19. Bintangur (Calaphyllum Hosei)

  20. Area bekas tebang selektif, masih ada pohon, penutupan vegetasi tinggi, tapo kehilangan jenis tanaman komersil

  21. Meranti rawa (Shorea pauciflora, Shorea tysmanniana, Shorea uliginosa)
  22. Ramin (Gonystylus bancanus)
  23. Punak (Tetramerista glabra)
  24. Balam (Palaquium rostratum)
  25. Kempas (Koompassia malaccensis)
  26. Rotan (Calamus spp)
  27. Gemor (Nothaphaebe Cariacea)

Selain itu, beberapa jenis tanaman berikut ini juga bisa dipilih untuk rehabilitasi hutan rawa gambut:

Resak (Vatica rassak)

Ramin (Gonystylus bancanus)

Punak (Tetramerista glabra)

Blangeran (Shorea balangeran)

Pulai (Alstonia pneumatophora)

Nyatoh (Palaquium sp.)

Jelutung (Dyera polyphylla)

Medang telur (Stemonourus scorpioides).

Sementara jenis tanaman yang direkomendasikan untuk kawasan bergambut antara lain sengon (Paraserianthes Folcataria), pulai rawa (Alstonis Pnumatophora), sukun (Artocarpus sp.), dan karet.

Dian Sasmita

Penulis yang memulai karier dari blog pribadi sebelum akhirnya bergabung dengan media online. Ia menyukai dunia tulis-menulis sejak sekolah. Hobinya adalah traveling, membaca novel klasik, dan membuat jurnal harian. Setiap perjalanan dan interaksi manusia selalu menjadi bahan inspirasinya. Motto: "Setiap sudut kota punya cerita yang patut dibagikan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *