Bisnis  

Saat Ikut Tren Jadi Rugi: Bahaya FOMO bagi Investor Pemula

JAKARTA,

Gelombang investor ritel di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan dua sisi yang berbeda. Di satu sisi, partisipasi publik di pasar modal semakin luas, khususnya dari kalangan generasi muda. Di sisi lain, euforia ini sering kali disertai rasa takut ketinggalan peluang (fear of missing out/FOMO), yang membuat sebagian investor pemula masuk ke pasar tanpa rencana jelas, tanpa riset mendalam, dan tanpa disiplin manajemen risiko.

Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyatakan bahwa minat masyarakat terhadap pasar modal tetap tinggi meskipun situasi global tidak stabil. “Menariknya, meskipun kebijakan tarif impor mulai diberlakukan, minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia tetap tinggi,” ujarnya.

Pertumbuhan jumlah investor memang penting sebagai konteks. Namun, pertumbuhan ini juga membutuhkan kesiapan literasi dan ketahanan psikologis. FOMO sering kali bukan sekadar ikut-ikutan, melainkan pola keputusan yang bisa berujung pada kerugian yang sebenarnya dapat dihindari.

Apa Itu FOMO Dalam Investasi dan Mengapa Berbahaya?

Dalam praktik investasi, FOMO muncul ketika investor melihat harga aset melesat, melihat orang lain memamerkan keuntungan, atau mendengar narasi “kesempatan ini cuma sekali”. Dorongan emosional yang muncul biasanya adalah beli sekarang, pikir belakangan. FOMO sering kali mengabaikan tahapan dasar yang seharusnya dilakukan oleh investor pemula, seperti:

  • Memahami instrumen dan risikonya
  • Menilai kesesuaian dengan tujuan dan profil risiko
  • Menyiapkan batas rugi (cut loss) dan rencana keluar (exit plan)
  • Mengelola ukuran posisi agar kerugian tidak membesar

Ketika tahapan ini dilewati, keputusan investasi lebih menyerupai reaksi spontan dibanding proses yang terukur. Dari sisi perilaku pasar, euforia berbasis FOMO juga bisa memperbesar volatilitas karena banyak orang masuk di harga yang sudah tinggi (late entry), lalu panik ketika harga berbalik.

Lingkungan yang “Subur” Bagi FOMO: Investor Tumbuh, Arus Informasi Meledak

Pertumbuhan investor ritel adalah fakta yang tak bisa diabaikan. PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 20,32 juta Single Investor Identification (SID) per 29 Desember 2025, tumbuh 37 persen secara tahunan dibandingkan 14,87 juta pada akhir 2024.

Jumlah itu merupakan SID terkonsolidasi yang terdiri dari investor saham, surat utang, reksa dana, surat berharga negara (SBN), serta efek lain yang tercatat di KSEI. Dari jumlah tersebut, terdapat 8,59 juta investor yang memiliki saham dan efek lainnya, tumbuh 35 persen dibandingkan 6,38 juta investor pada akhir tahun 2024.

Lalu, 19,17 juta investor memiliki aset reksa dana, tumbuh 37 persen dibandingkan 14,03 juta investor pada akhir tahun 2024. Selanjutnya, 1,41 juta investor memiliki SBN, tumbuh 18 persen dibandingkan 1,2 juta investor pada akhir tahun 2024.

Angka-angka ini menggambarkan ekosistem yang semakin ramai. Di era media sosial, investor pemula sering menerima banjir rekomendasi singkat, potongan grafik, narasi komunitas, hingga promosi terselubung. Di titik tertentu, informasi yang terlalu banyak justru mengaburkan hal yang paling penting: mengukur risiko dan memverifikasi data.

Risiko FOMO Bagi Investor Pemula

Berikut beberapa risiko yang menghantui investor pemula jika FOMO dalam berinvestasi:

  • Masuk tanpa memahami aset, akhirnya beli cerita, bukan fundamental

    Investor pemula sering terjebak dalam situasi di mana mereka hanya membeli aset karena tren, bukan karena memahami nilai intrinsiknya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pernah mengimbau investor muda agar tidak ikut tren, terutama di kripto.

  • Salah ukuran posisi: modal “dibakar” di satu transaksi

    FOMO sering datang bersama ilusi sekali ini saja atau “all in dulu”. Investor pemula yang belum punya kebiasaan mengukur ukuran posisi rentan menaruh porsi terlalu besar di satu aset. Ketika harga turun, ruang untuk memperbaiki strategi hilang, karena modal sudah habis atau terkunci.

  • Overtrading dan biaya tersembunyi: transaksi sering, hasil belum tentu membaik

    FOMO bukan hanya soal beli “puncak”, tetapi juga mendorong investor terlalu sering bertransaksi demi mengejar momentum. Akibatnya, biaya transaksi dan selisih harga (spread) perlahan menggerus hasil.

  • Rentan manipulasi narasi, terutama di aset yang likuiditasnya tipis

    Ketika banyak investor mengejar saham maupun kripto tertentu karena viral, ruang manipulasi narasi melebar, dari rumor, screenshot “cuan”, hingga ajakan komunal.

  • Risiko keamanan data dan penipuan digital

    FOMO kerap membuat investor buru-buru membuka akun, mengeklik tautan, atau mengikuti arahan yang tidak jelas. OJK mengingatkan soal kehati-hatian mengakses platform, termasuk risiko pencurian data saat menggunakan jaringan publik.

Mengapa FOMO Sering Menjerat Investor Pemula?

Beberapa alasan kenapa investor pemula sering terjerat dan terjebak FOMO:

  • Patokan sosial lebih kuat daripada rencana investasi

    Pemula sering memakai benchmark sosial, seperti teman cuan, influencer pamer portofolio, komunitas ramai. Ini berbeda dengan investor berpengalaman yang cenderung memakai benchmark sistem, yaitu rencana alokasi aset, batas risiko, dan disiplin eksekusi.

  • Salah paham antara momentum dan spekulasi

    Momentum bukan selalu salah, tetapi tanpa parameter risiko, momentum berubah menjadi spekulasi reaktif. Dalam euforia, pemula sering masuk tanpa definisi jelas, yaitu kapan salah (cut loss), kapan benar (take profit), kapan harus diam (tidak melakukan apa-apa).

  • Kesenjangan literasi vs kecepatan adopsi

    Data kripto memberi contoh ekstrem tentang cepatnya adopsi. OJK mencatat jumlah investor aset kripto Indonesia hingga Oktober 2025 mencapai 19,08 juta pengguna. Angka yang besar ini menunjukkan betapa cepatnya minat publik. Namun demikian, regulator juga berulang kali menekankan pentingnya literasi agar pertumbuhan berlangsung aman dan berkelanjutan.

Cara Melihat Tanda-Tanda FOMO Pada Diri Sendiri dan Apa Risikonya

Untuk mengetahui apakah Anda FOMO dalam berinvestasi, tanda-tandanya sering sederhana:

  • Anda membeli karena “ramai” dan takut ketinggalan, bukan karena paham alasannya.
  • Anda tidak bisa menjelaskan mengapa beli, kapan jual, berapa batas rugi.
  • Anda mengganti strategi setiap beberapa jam atau hari mengikuti percakapan grup.
  • Anda memakai dana kebutuhan pokok atau utang untuk mengejar peluang.

OJK memberi contoh nyata soal penggunaan dana yang tidak semestinya dipakai. Uli mengingatkan investor muda agar tidak menggunakan uang yang dialokasikan untuk kebutuhan tertentu, seperti biaya kuliah.

Rem yang Harus Diperhatikan: Pahami Dulu, Disiplin Risiko, dan Verifikasi

  • Pahami instrumen sebelum transaksi dan jangan ikut tren semata.
  • Waspadai volatilitas dan pahami dokumen informasi (khususnya pada aset digital).
  • Hindari praktik yang membuat risiko membesar, seperti memakai dana kebutuhan pokok.
  • Pastikan bertransaksi melalui pihak yang terdaftar/di bawah pengawasan otoritas terkait.

Dari sisi BEI, pertumbuhan investor memang terus didorong lewat edukasi dan akses informasi. “BEI menyadari bahwa pertumbuhan jumlah investor harus diimbangi dengan penguatan infrastruktur informasi dan edukasi pasar modal,” tutur Jeffrey.

Pasar ramai, keputusan tetap harus personal dan terukur. Lonjakan jumlah investor membuat pasar semakin inklusif. Namun, inklusi tanpa literasi bisa menjadi pintu masuk FOMO. FOMO, pada akhirnya, lebih sering menghukum pemula yang masuk terlambat, masuk terlalu besar, atau masuk tanpa rencana.

Jangan bertransaksi hanya karena tren. Tanpa literasi dan pemahaman, ujungnya rugi. Selamat berinvestasi!

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *