Sopir Angkot Diceraikan Istri Karena Pendapatan Kurang, Hanya Rp70 Ribu Tapi Harus Setor Rp80 Ribu

Kehidupan Sopir Angkot yang Menghadapi Tantangan Berat

Di tengah aturan Pemkot Bogor yang akan menghapus angkot-angkot tua usia lebih dari 20 tahun, banyak sopir angkot di Kota Bogor merasa miris dan khawatir akan masa depan mereka. Profesi yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga kini semakin terpuruk.

Pendapatan yang Menurun dan Kehidupan yang Sulit

Salah satu contohnya adalah Supriadi (52), seorang sopir angkot yang akhirnya diceraikan oleh istrinya karena pendapatannya yang tidak cukup untuk menutupi kebutuhan hidup. Ia mengungkapkan bahwa kondisi angkot saat ini sangat sulit. Penumpang yang dulu ramai kini mulai berkurang, baik karena warga lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi online.

“Kini angkot benar-benar jatuh,” ujarnya. “Anak saya empat orang, jadi harus cukup-cukupin saja. Akhirnya kami pisah gegara ekonomi, sudah enam bulan.”

Supriadi tinggal di kontrakan dengan biaya Rp 1 juta per bulan. Tanpa bantuan anaknya yang sudah besar, ia merasa kesulitan untuk membayar biaya kontrakan tersebut.

Setoran yang Selalu Kurang

Selain itu, setoran yang harus dibayarkan kepada pemilik angkot juga sering kali tidak cukup. Supriadi mengatakan bahwa pendapatan harian rata-rata hanya sekitar Rp 50.000, sementara setoran mencapai Rp 80.000.

“Pernah ada hari ketika saya hanya mendapat Rp 70.000, sedangkan setoran Rp 80.000. Jadi kurang Rp 10.000. Saya bawa semua ke rumah, nanti cicil setoran tiap hari,” katanya.

Kondisi ini masih terjadi hingga awal tahun 2026. Bahkan, ia sempat mempertimbangkan untuk tidak bekerja agar tidak stres karena tidak mendapatkan uang.

Aturan Pemkot Bogor yang Menambah Kesulitan

Aturan Pemkot Bogor yang akan menghapus angkot-angkot tua usia lebih dari 20 tahun membuat Supriadi semakin khawatir. Angkot yang ia gunakan termasuk dalam kategori usia tua, sehingga jika aturan ini diterapkan, ia bisa kehilangan pekerjaannya.

“Kalau dihapus makin parah, tadinya mobil dua jadi satu, otomatis sopir salah satunya nganggur. Sekarang cari kerja susah,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat mempertimbangkan nasib para sopir angkot dalam membuat kebijakan. “Saya mau usaha apa? Kerja saya cuma sopir doang.”

Keputusan Sopir untuk Tetap Beroperasi

Meski aturan tersebut telah diberlakukan sejak 1 Januari 2026, sejumlah sopir angkot tetap memilih untuk beroperasi seperti biasa. Salah satunya adalah Aprianto (59), yang mengaku angkotnya sudah melebihi batas usia 20 tahun.

“Saya sementara beroperasi,” katanya. “Gak tahu kalau entar besok di-sweeping, tapi sementara ini saya tetap bekerja demi keluarga.”

Aprianto mengatakan bahwa pendapatan harian yang bisa diraih hanya sekitar Rp 50.000 setelah dipotong setoran. Hal ini diduga dipengaruhi oleh penurunan jumlah penumpang angkot dari tahun ke tahun.

“Sebelumnya pendapatan jauh lebih besar, sekarang jauh beda,” katanya. Namun, ia merasa lega karena pemilik angkot memahami kondisi yang dihadapi para sopir.

Kebingungan dan Harapan Masa Depan

Para sopir angkot kini dihadapkan pada kebingungan terkait nasib mereka. Banyak dari mereka merasa tidak tahu bagaimana cara menghadapi perubahan yang terjadi. Namun, meskipun sulit, mereka tetap bertahan demi mencari nafkah.

Harapan mereka adalah adanya solusi dari pemerintah yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan para sopir angkot. Dengan kebijakan yang lebih bijaksana, diharapkan profesi ini tetap bisa bertahan dan memberikan penghidupan yang layak bagi para pelakunya.

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *