Tim SAR Gabungan Berhasil Menemukan Serpihan Pesawat ATR 42-500
Tim SAR gabungan berhasil menemukan serpihan pesawat ATR 42-500 yang diduga jatuh di wilayah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Penemuan ini terjadi pada hari kedua pencarian, yaitu Minggu (18/1/2026) pagi. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada kabar tentang keberadaan 10 kru dan penumpang yang terbang bersama pesawat tersebut.
Penemuan serpihan pesawat dilaporkan pada pukul 08.30 WITA. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, M Arif, menyampaikan bahwa serpihan yang ditemukan meliputi jendela, ekor, dan bagian badan pesawat. Lokasi penemuan berada di sekitar koordinat 04°55’45,2” S 119°4’52,91”E. Serpihan ditemukan di sebelah utara, barat, dan selatan lokasi koordinat pencarian, sehingga tersebar di beberapa titik.
Pada konferensi pers yang digelar di Media Center Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Maros, Sulsel, Arif menjelaskan bahwa tim Pasgat TNI AU berjumlah 6 orang melakukan air landed di puncak untuk menjangkau serpihan yang ditemukan. Konferensi pers ini juga dihadiri oleh berbagai pejabat terkait seperti Capt Edwin dari Direksi Indonesia Air Transport, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, Kapolda Sulsel Irjen Djuhandhani Rahardjo Puro, serta Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono.
Data Kru dan Penumpang Pesawat
Pesawat yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengangkut 10 orang, yang terdiri dari 7 kru dan 3 penumpang. Berikut adalah daftar lengkap kru dan penumpang:
- Capt Andy Dahananto
- SIC FO M Farhan Gunawan
- FOO Hariadi
- EOB Restu Adi P
- EOB Dwi Murdiono
- Flight attendant Florencia Lolita
- Flight attendant Esther Aprilitas
- Deden dari KKP
- Ferry dari KKP
- Yoga dari KKP
Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT ini sebelumnya dilaporkan hilang kontak saat dalam penerbangan menuju Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar. Pesawat turboprop tersebut selama ini digunakan oleh KKP untuk mendukung kegiatan patroli maritim.
Lokasi dan Tantangan Pencarian
Lokasi penemuan serpihan pesawat berada di kawasan Gunung Bulusaraung, yang merupakan wilayah pegunungan karst dengan medan yang sangat terjal. Kawasan ini berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, serta masuk dalam Taman Nasional Bantimurung dan hutan vegetasi basah Karaengta.
Deskripsi lokasi menunjukkan bahwa area tersebut memiliki kontur lereng curam, vegetasi rumput dan semak, serta sering diselimuti kabut tebal. Secara geografis, lokasi kejadian berada sekitar 42 kilometer dari pusat Kota Makassar dan sekitar 26 kilometer dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, dengan arah utara dan timur laut dari bandara.
Medan yang terjal dan akses darat yang terbatas membuat proses pencarian dan evakuasi harus mengandalkan pemantauan udara serta penggunaan peralatan khusus mountaineering oleh Tim SAR Gabungan.
Fokus Utama Pencarian Korban
Kepala Basarnas Sulsel, Muhammad Arif Anwar, menyatakan bahwa saat ini fokus utama operasi adalah pencarian korban. “Yang kami utamakan saat ini adalah pencarian korban, mudah-mudahan masih ada bisa dievakuasi dalam keadaan selamat,” ujarnya dalam konferensi pers.
Tim SAR gabungan mengombinasikan pencarian darat dan udara. Tim pencarian udara terdiri dari Helikopter Caracal dan pesawat Boeing TNI Angkatan Udara. Sementara pencarian darat melibatkan 1.200 personel dari berbagai instansi. Arif menjelaskan bahwa dari Basarnas sendiri, dibagi empat tim yang menyebar ke empat titik untuk melakukan pencarian. Metode ini digunakan agar tidak ada korban yang terlewatkan.
Penemuan Serpihan Pesawat
Dalam pencarian, tim SAR gabungan menemukan tiga serpihan besar pesawat ATR 400 milik Indonesia Air Transport (IAT), yaitu jendela, ekor, dan badan pesawat. Selain itu, banyak serpihan kecil juga ditemukan. Lokasi penemuan serpihan tersebar di mana-mana, tidak hanya di satu tempat.












