Penemuan Satu Korban Jatuhnya Pesawat ATR 42-500 di Lereng Gunung Bulusaraung
Pada hari Minggu (18/1/2026), tim SAR gabungan berhasil menemukan satu korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 yang terjatuh di lereng Gunung Bulusaraung. Lokasi penemuan berada dalam jurang dengan kedalaman sekitar 200 meter dari titik serpihan pesawat. Korban tersebut merupakan seorang laki-laki, dan saat ini proses evakuasi sedang dilakukan.
Gunung Bulusaraung terletak di kawasan karst Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, dengan ketinggian sekitar 1.353 mdpl. Area ini termasuk dalam Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul). Medan yang curam dan kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan besar bagi tim SAR dalam proses evakuasi.
Kondisi Medan dan Cuaca yang Menghambat Evakuasi
Lereng Gunung Bulusaraung memiliki kemiringan antara 45 hingga 75 derajat, sehingga perjalanan ke lokasi sangat sulit. Selain itu, area tersebut sering tertutup kabut tebal, yang menyulitkan navigasi dan penglihatan. Pada hari penemuan korban, cuaca di wilayah Maros dan puncak gunung sempat berubah secara tiba-tiba, mulai dari cerah berawan menjadi mendung dan hujan.
Berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Sulawesi Selatan memang berpotensi hujan lebat hingga lebat pada hari Minggu. Hal ini memperparah kesulitan yang dihadapi oleh tim SAR dalam melaksanakan operasi evakuasi.
Proses Evakuasi yang Membutuhkan Teknik Khusus
Korban yang ditemukan berada di dalam jurang yang dalam, sehingga tim SAR harus menggunakan teknik khusus untuk mengevakuasinya. Mereka turun vertikal menggunakan alat mountaineering karena medan yang terjal dan berisiko tinggi. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa saat ini fokus utama adalah keselamatan personel.
“Saat ini tim SAR gabungan masih fokus melakukan proses evakuasi dengan mengutamakan keselamatan personel,” ujar M Arif. Ia juga menambahkan bahwa lokasi korban yang lebih dalam membuat proses evakuasi lebih rumit.
Pangdam XIV Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko mengatakan bahwa tim sedang berupaya mengevakuasi korban ke posko AJU Tompobulu. “Melalui komunikasi radio bahwa sudah ditemukan satu korban. Sekarang kita sedang berupaya mengevakuasi ke posko AJU Tompobulu,” katanya di posko Basarnas, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep.
Informasi Terkait Pesawat ATR 42-500
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT sempat terbang di luar jalur yang ditentukan sebelum hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) siang. Pesawat ini disewa oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pesawat lepas landas dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta pada pukul 08.08 WIB, menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar.
Dari data situs Flightaware.com, pesawat terakhir terlihat pada pukul 12.22 Wita. Sementara itu, Basarnas berdasarkan data dari AirNav menyatakan bahwa pesawat hilang kontak pada pukul 13.17 Wita.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 terbang dari Bandung, Jawa Barat melalui Bandara Internasional Husein Sastranegara ke Semarang, Jawa Tengah melalui Bandara Internasional Ahmad Yani. Selanjutnya, pesawat menuju Jogja sebelum akhirnya jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Pangkep dan Maros, Sulawesi Selatan.
Data Korban dan Kondisi Saat Ini
Dalam pesawat tersebut, terdapat 10 orang, yaitu 7 kru dan 3 penumpang. Salah satu pilot, Captain Andy Dahananto, juga ikut dalam penerbangan. Namun, hingga saat ini, belum dapat dipastikan kondisi langsung korban karena masih dalam proses evakuasi.
Menurut Pangdam XIV Hasanuddin, evakuasi korban terkendala medan dan cuaca. “Secara keseluruhan kami belum bisa menyampaikan di sini, yang jelas butuh effort yang cukup kerasa karena memang kondisinya luar biasa,” ucapnya.
Proses pencarian korban masih terus dilakukan. Tim SAR gabungan terus berupaya mengevakuasi korban dengan tetap memprioritaskan keselamatan personel dan keamanan lingkungan sekitar.












