Kebijakan BI dan Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Global
Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) perdana tahun 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75%. Keputusan ini diambil sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, kondisi ekonomi global dan domestik tetap memberikan tekanan terhadap kurs rupiah.
Pada Rabu (21/1/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat di level Rp16.934. Penguatan tersebut mencapai 22 basis poin atau 0,13% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Namun, jika dilihat dari tren jangka panjang sejak awal tahun, rupiah masih dalam kondisi pelemahan yang signifikan.
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas, Fakhrul Fulvian, menilai bahwa rupiah yang telah menembus Rp16.900 per dolar AS berada di atas nilai wajarnya. Menurutnya, hal ini dipengaruhi oleh sentimen investor global yang cenderung pesimistis dan lebih memilih aset aman daripada aset berisiko. Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve AS juga menjadi faktor utama yang memengaruhi tekanan terhadap rupiah.
Fakhrul memperkirakan bahwa meskipun rupiah bisa mencapai level Rp17.000 per dolar AS, kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Ia menilai bahwa saat rupiah mencapai angka tersebut, pasar akan mulai menjual dolar karena dinilai overvalued.
Kondisi Eksternal Indonesia yang Masih Terjaga
Di sisi lain, ketahanan eksternal Indonesia dinilai masih relatif terjaga. Surplus neraca perdagangan menjadi salah satu faktor pendukung posisi cadangan devisa yang pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar US$156,5 miliar. Fakhrul memproyeksikan bahwa nilai tukar rupiah pada 2026 akan berada di kisaran rata-rata Rp16.500 per dolar AS, didukung oleh kenaikan harga komoditas yang positif terhadap ekspor.
Menurutnya, penguatan harga logam seperti timah dan pemulihan harga nikel berpotensi menjaga surplus neraca perdagangan. Meski ada tekanan di awal tahun, perbaikan diperkirakan muncul pada pertengahan 2026 seiring dengan membaiknya neraca pembayaran.
Fakhrul juga menilai bahwa stabilitas rupiah perlu didukung oleh kebijakan fiskal yang baik. Kementerian Keuangan dapat berperan dengan meningkatkan porsi penerbitan global bonds dalam strategi pembiayaan APBN. Hal ini bertujuan untuk menyerap devisa hasil ekspor dan memperkuat cadangan devisa. Penerbitan obligasi global dalam denominasi dolar AS maupun renminbi dinilai masih memiliki permintaan tinggi.
Pandangan Berbeda Mengenai Tekanan Neraca Pembayaran
Namun, pandangan berbeda disampaikan oleh Managing Director Chief India Economist and Macro Strategist serta Asean Economist HSBC, Pranjul Bhandari. Ia memproyeksikan bahwa rupiah berpotensi terus terdepresiasi hingga mendekati Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026. Hal ini terutama disebabkan oleh defisit transaksi modal dan finansial.
“Kita mungkin akan terus melihat tekanan depresiasi pada rupiah karena neraca pembayaran. Kami pikir, pada akhir 2026, kita mungkin akan berada di angka Rp17.000 [per dolar AS] atau di kisaran itu,” ujar Pranjul dalam media briefing, Senin (12/1/2026).
Menurut dia, kerentanan eksternal Indonesia terutama berasal dari aliran keluar modal asing, baik dari pasar saham maupun obligasi. Kondisi ini tercermin dari arus portofolio sepanjang 2025 serta kinerja penanaman modal asing jangka panjang.
Meski demikian, dari sisi perdagangan barang, transaksi berjalan dinilai masih menunjukkan kinerja yang baik. Cadangan devisa Indonesia per akhir Desember 2025 tetap berada di level US$156,5 miliar, sejalan dengan surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 67 bulan berturut-turut hingga November 2025.
Berdasarkan laporan BI, neraca pembayaran Indonesia pada kuartal III/2025 tetap terjaga. Transaksi berjalan mencatat surplus berkat kenaikan ekspor nonmigas, sementara transaksi modal dan finansial mengalami defisit seiring ketidakpastian pasar keuangan global.
Faktor Global dan Domestik yang Mempengaruhi Rupiah
Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi faktor global dan domestik. Ketegangan geopolitik, kebijakan tarif impor, serta kenaikan imbal hasil surat utang AS mendorong aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Seperti tadi kami sampaikan pada tahun 2026 ini terjadi net outflow US$1,6 miliar data hingga 19 Januari 2026. Itulah faktor-faktor global,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/1/2026).
Dari sisi domestik, tekanan berasal dari kebutuhan valas korporasi besar serta persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan pejabat di BI. Perry menegaskan bahwa proses tersebut tetap berjalan sesuai undang-undang dan tidak memengaruhi independensi serta profesionalisme Bank Indonesia.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."












