Rupiah Melemah, Apa Dampaknya bagi Perekonomian Indonesia?
Nilai tukar rupiah mengalami penurunan yang signifikan pada awal tahun 2026. Pada hari Selasa (20/1/2026), rupiah melemah menjadi Rp 16.977 per dollar Amerika Serikat (AS). Pada hari berikutnya, Rabu (21/1/2026), nilai tukar rupiah tidak mengalami perbaikan yang signifikan, dengan 1 dollar AS setara dengan Rp 16.957.
Pergerakan ini mencatatkan rekor terburuk sepanjang masa. Jika dibandingkan dengan puncak krisis moneter pada tahun 1998, nilai tukar rupiah saat ini lebih rendah. Pada waktu itu, 1 dollar AS setara dengan Rp 16.650. Bahkan selama pandemi Covid-19, nilai tukar rupiah masih lebih tinggi dari kondisi saat ini.
Jika rupiah terus melemah dan menembus angka Rp 17.000 per dollar AS, dampaknya akan sangat besar terhadap perekonomian Indonesia. Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif Center of Economic Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dapat menyebabkan inflasi impor.
Inflasi impor terjadi ketika harga barang atau jasa yang diimpor dari luar negeri meningkat. Hal ini bisa terjadi karena depresiasi nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing. Masyarakat akan merasakan dampaknya melalui kenaikan harga bahan pangan yang diimpor, daya beli yang menurun, serta kenaikan cicilan motor dan KPR.
Bagi pelaku usaha, pelemahan rupiah juga akan menjadi tantangan besar. Mereka akan kesulitan bersaing, terutama jika usaha mereka bergantung pada bahan baku impor. Akibatnya, pemutusan hubungan kerja (PHK) bisa menjadi skenario terburuk.
Di sisi lain, utang pemerintah yang berasal dari kreditur luar negeri juga akan semakin mahal. Bunga dan cicilan utang tersebut akan memperlebar defisit APBN.
Tren Pelemahan Rupiah Masih Berlanjut
Bhima Yudhistira memprediksi bahwa tren pelemahan rupiah akan terus berlanjut. Salah satu faktornya adalah kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam pencalonan deputi gubernur. Penugasan pemimpin bank sentral seharusnya diberikan kepada orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang kebijakan moneter dan sistem keuangan.
Pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI dinilai berisiko memperburuk nilai tukar rupiah. Pengalaman Thomas dalam bidang ekonomi antara lain sebagai analis keuangan di NatWest Market pada 1996 dan konsultan di Castle Asia pada 1999. Ia juga pernah bekerja di Comexindo Internasional selama 2010–2024 dan di Arsari Group pada 2011–2024.
Menurut laman resmi Kementerian Keuangan, Thomas lulus dari Haverford College, Amerika Serikat, pada 1994 dan meraih gelar Master of Arts di bidang Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional dari Johns Hopkins University pada 2003.
Penyebab Rupiah Melemah
Analisis dari Doo Financial Futures Lukman Leong menunjukkan bahwa melemahnya rupiah tidak terlepas dari kekhawatiran pasar terhadap prospek defisit anggaran yang berpotensi melewati batas 3 persen dan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan BI. Kedua faktor ini mendorong investor untuk lebih defensive terhadap aset berdenominasi rupiah.
Lukman menambahkan bahwa nasib rupiah bergantung pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Arah komunikasi kebijakan BI akan menentukan persepsi pasar, khususnya terkait komitmen menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
Perubahan Kepemimpinan di BI
Guru Besar Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai bahwa pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) kemungkinan tidak direspons positif oleh pasar. Ini bisa berdampak pada rupiah yang semakin tertekan.
Persoalan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Bhima menyebut bahwa secara historis, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sangat sulit kembali di bawah Rp 16.700.












