Penjelasan Staf SAR Mengenai Kemungkinan Kehidupan Co Pilot Farhan Gunawan
Staf SAR Mission Coordinator Basarnas Makassar Arman Amiruddin memberikan penjelasan mengenai kemungkinan Co pilot Farhan Gunawan masih hidup atau selamat setelah pesawat ATR 42-500 hilang kontak di Maros pada Sabtu (17/1/2026). Sampai saat ini, Tim SAR belum bisa memastikan apakah Farhan masih hidup atau tidak setelah ponselnya ditemukan.
Sebelumnya, keluarga pacar korban menduga bahwa Co-pilot Farhan masih hidup karena adanya deteksi langkah kaki pada jam pintar (smartwatch) miliknya. Arman Amiruddin mengaku langsung melakukan penelusuran setelah mendapat kabar tersebut. Ia menyebutkan bahwa pihaknya belum bisa memastikan apakah dengan tanda langkah kaki tersebut ada kemungkinan Co pilot Farhan selamat atau masih hidup.
“Di laporan yang dia (Dian) kirim itu jam 6.53 hari minggu itu terbaca sampai 9 ribu langkah. Sampai ke jam 10, 13 ribu langkah, untuk memastikan bahwa ini karena yang beredar katanya ada langkah. Kami belum bisa memastikan bawha ini hidup atau bagaimana,” ungkap Arman dikutip dari Tribun Sultra yang melansir wawancara di kanal Youtube Tribun Timur, Rabu (21/1/2026).
Sejauh ini, kata Arman, tim SAR belum mendapatkan tanda-tanda kehidupan dari penumpang pesawat ATR 42-500. Pesawat yang melakukan penerbangan dari rute Yogyakarta-Makassar pada Sabtu (17/1/2026) berisikan 10 orang. Terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang yang berasal dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Menurut Arman, dari tim yang turun ke lokasi juga tak menemukan tanda-tanda ada permintaan tolong atau suara. “Tim kami yang turun di lokasi dan yang menemukan barang ini (HP) itu tidak ada sama sekali mendengar atau ada permintaan tolong atau suara, sejauh ini. Termasuk tim yang menuruni tebing. Yang menginap ada 10 orang, memang tidak ada suara atau permintaan bantuan,” katanya.
Pihak Cyber Polda Sulawesi Selatan juga turut bergerak untuk memastikan tanda-tanda tersebut. Di mana, Cyber Polda melakukan penyelidikan untuk mengetahui titik koordinat jatuhnya handphone tersebut.
“Pihak pacar sudah melapor ke pihak cyber crime Polda untuk kami meminta supaya bisa dilacak koordinat terakhir untuk membantu kami,” jelasnya.
“Koordinat dari on terakhir (sangat dibutuhkan). Kami tidak bisa mengatakan ada tanda-tanda kehidupan, tapi kalau dilihat secara (dari smartwatch katanya) ada pergerakan, katanya hidup atau seperti apa, kami belum bisa (memastikan). Kami menunggu koordinat terakhir, supaya kami bisa melaju ke titik itu,” katanya.
Temuan Lain Tim SAR Terkait Co Pilot Farhan
Tim SAR justru menemukan barang-barang lain milik Farhan yang tercecer di hutan. Barang tersebut berupa tas berisi dompet dan kartu identitas milik Farhan. Tas ini ditemukan tim SAR pada Senin (19/1/2026) malam. Tas kemudian diserahkan ke posko SAR AJU Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci pukul 19.20 Wita.
Selain KTP milik Farhan, tim SAR juga menemukan KTP atas nama Dwi Murdiono, beralamat di Bogor, Jawa Barat. Selain KTP Dwi Murdiono, ada juga dua kartu ID Card Airfast Indonesia dan Indonesia Air bernama Dwi Murdiono. Dwi Murdiono diketahui bagian dari awak pesawat. Ada juga beberapa kartu debit ATM dan beberapa lembar uang rupiah.
Selain itu, juga ditemukan dalam tas yang sama pistol flare gun berwarna orange hitam. Senjata itu dikabarkan kerap digunakan dalam kondisi darurat untuk memberi tanda butuh bantuan atau pertolongan.
Harapan Co Pilot Farhan Gunawan Masih Hidup Menyeruak
Harapan besar agar Co-pilot Farhan Gunawan segera ditemukan dalam kondisi masih hidup kini menyeruak di tengah duka jatuhnya pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) pada Sabtu (17/1/2026). Pesawat dengan nomor registrasi PK-THT yang mengangkut 10 orang dalam misi sewa Direktorat Jenderal PSDKP tersebut dilaporkan hilang kontak di Maros, Sulawesi Selatan, sejak Sabtu (17/1/2026) saat terbang dari Yogyakarta menuju Makassar.
Di tengah kabar duka pesawat hilang kontak ini, muncul sebuah kabar yang memberikan secercah harapan bagi keluarga Farhan Gunawan. Petunjuk kuat mengenai keberadaan Farhan berasal dari perangkat elektronik pribadinya yang ditemukan oleh tim SAR di kawasan hutan pada Minggu (18/1/2026).
Setelah ponsel tersebut diamankan dan diperiksa oleh pihak keluarga, muncul data aktivitas yang dinilai tidak wajar jika pemiliknya tidak dalam kondisi bergerak. Ponsel Farhan diketahui terhubung langsung dengan smartwatch yang dipakainya, dan perangkat tersebut mencatat adanya aktivitas langkah kaki dalam jumlah besar setelah pesawat dinyatakan hilang kontak.
Pada Minggu pagi sekitar pukul 06.00 WITA, smartwatch tersebut merekam adanya 9.000 langkah kaki. Jumlah tersebut terus bertambah seiring berjalannya waktu hingga mencapai total 13.647 langkah pada pukul 22.00 WITA di hari yang sama. Data ini mengindikasikan adanya pergerakan fisik yang konsisten dari pagi hingga malam hari.
“HP Farhan dapat di hutan, HP dia itu terhubung dengan smartwatch. Pas dicek ada pergerakan langkah kaki Farhan dari pagi sampai malam,” ujar seorang wanita dari pihak keluarga sambil menangis sesenggukan dalam sebuah video yang viral di akun X @Heraloebss.
Keluarga sangat meyakini bahwa tanda ini merupakan bukti Farhan masih berupaya bertahan hidup di tengah hutan. Kesaksian serupa disampaikan oleh kakak dari Dian, pacar Farhan, yang menyebutkan bahwa adiknya menemukan jejak digital tersebut secara langsung.
Menurutnya, meskipun adiknya saat ini masih dalam kondisi syok dan belum mampu diwawancarai media, temuan di ponsel Farhan menjadi pegangan utama mereka. “Pesawat jatuh 17, tanggal 18 pencarian dan HP Farhan ada dapat di hutan terus dipegang adik saya. HP dia itu terhubung ke smartwatch, terus dicek smartwatchnya itu ternyata ada pergerakan langkah kaki Farhan,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pergerakan langkah kaki tersebut bahkan terdeteksi selama tiga hari terakhir dan jumlahnya terus bertambah. “Pergerakan langkah kakinya makin bertambah dan ini hari ketiga di hutan,” tuturnya lagi.
Hingga saat ini, upaya pencarian terus dilakukan secara masif dengan melibatkan sekitar 1.200 personel gabungan. Kepala Basarnas Mohammad Syafi memimpin langsung operasi yang telah membuahkan hasil berupa penemuan dua korban laki-laki pada Minggu (18/1/2026) dan satu korban perempuan pada Senin (19/1/2026).
Namun, keluarga Farhan berharap bantuan alat dan personel terus ditambah guna menindaklanjuti petunjuk langkah kaki tersebut. “Saya mohon sekali pak karena dia sudah memberikan tanda-tanda,” ujarnya. “Tolong bapak Prabowo atau menteri yang bisa ngasih bantuan tolong turunkan Tim SAR lebih banyak, sekaligus helikopter,” pungkas perwakilan keluarga.
Profil Co Pilot Farhan Gunawan
Muhammad Farhan Gunawan merupakan pria kelahiran Desa Malili, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Capt Gunawan dan Hj Indah. Ia punya dua adik yang masing-masing sedang menempuh pendidikan di Fakultas Gigi Unhas dan SMA Telkom.
Di luar itu, Farhan memiliki latar belakang pendidikan yang cukup cemerlang sebagai lulusan SMA Athirah 1 Makassar. Ia dikenal aktif berorganisasi dengan pernah menjabat sebagai Ketua OSIS baik di tingkat SMP maupun SMA. Karier penerbangannya dimulai dengan menempuh pendidikan di berbagai sekolah aviasi ternama.
Ia tercatat pernah menempuh pendidikan Private Pilot License di Deraya Flying School pada periode 2018 hingga 2019, kemudian melanjutkan Commercial Pilot License di Indonesia Civil Pilot Academy hingga Oktober 2020. Tak hanya itu, Farhan juga memiliki kelengkapan Multi Engine Rating serta Instrument Rating, dan sempat mengikuti ATPL Ground School di Bali International Flight Academy pada awal tahun 2021.
Sejak Desember 2023, Farhan resmi menjalankan tugas profesionalnya sebagai second in command atau pilot junior di PT Indonesia Air Transport hingga akhirnya mengalami musibah dalam penerbangan menuju Makassar tersebut. “Farhan pernah menjadi Ketua OSIS SMP Islam Athirah periode 2014-2015. Ketua OSIS SMA Islam Athirah periode 2016-2017,” kata mantan Direktur Sekolah Islam Athirah Syamril seperti dikutip dari Tribun Timur.
Setelah lulus, Farhan menempuh pendidikan di Akademi Penerbangan Indonesia. Ia tercatat sebagau alumni Taruna. Kini dia tercatat menjadi satu dari 10 korban pesawat ATR 42-500.












