Prediksi Kiyosaki: Harga Perak Tembus 200 Dolar AS Tahun Depan

Perak Kembali Jadi Sorotan, Prediksi Harga 200 Dolar AS per Troy Ounce

Harga perak kembali menjadi sorotan di pasar keuangan global. Saat ini, harga emas terus mengalami peningkatan, dan hal ini juga memengaruhi perak. Salah satu tokoh yang memberikan prediksi optimis terhadap logam mulia ini adalah Robert Kiyosaki, penulis buku Rich Dad Poor Dad.

Kiyosaki menyatakan bahwa ia tetap yakin dengan prospek jangka panjang perak. Ia memprediksi bahwa harga perak bisa melonjak hingga 200 dolar AS per troy ounce pada tahun 2026. Prediksi ini didasarkan pada perubahan peran perak dalam perekonomian modern.

Dalam unggahannya di platform media sosial X (sebelumnya Twitter), Kiyosaki menekankan bahwa perak telah digunakan sebagai alat tukar selama ribuan tahun. Namun, saat ini, fungsi perak tidak lagi sebatas sebagai uang, melainkan telah menjadi logam struktural yang mendukung ekonomi berbasis teknologi.

“Perak telah menjadi mata uang selama ribuan tahun,” tulis Kiyosaki. Ia membandingkan posisi perak saat ini dengan peran besi pada era revolusi industri, ketika kebutuhan infrastruktur dan manufaktur mendorong permintaan logam tersebut secara masif.

Perak: Dari Logam Uang ke Tulang Punggung Teknologi

Kiyosaki menyoroti transformasi jangka panjang perak dengan membandingkan harga historisnya. Ia mencatat bahwa pada tahun 1990, harga perak masih berada di kisaran 5 dolar AS per ons. Sementara saat ini, harga perak bergerak di rentang 92 hingga 95 dolar AS per ons, mencerminkan lonjakan nilai yang signifikan dalam lebih dari tiga dekade.

Menurut Kiyosaki, kenaikan harga perak tidak terlepas dari meningkatnya peran perak sebagai komoditas strategis dalam ekonomi modern. Selain digunakan sebagai aset lindung nilai, perak juga menjadi bahan penting dalam berbagai sektor, seperti teknologi energi terbarukan, kendaraan listrik, perangkat elektronik, dan sistem pertahanan.

Ia menegaskan bahwa perak tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan nilai, tetapi juga memiliki potensi untuk kembali memainkan peran sebagai uang di masa depan, terutama di tengah kekhawatiran terhadap pelemahan nilai mata uang fiat.

Meski demikian, Kiyosaki tetap memberi catatan kehati-hatian. Ia mengakui bahwa prediksi harga 200 dolar AS per ons bisa saja meleset. “Saya bisa saja salah,” ujarnya. Namun, ia tetap percaya pada prospek jangka panjang perak.

Harga Perak Konsisten Bullish Sejak Puluhan Tahun

Pandangan optimistis terhadap perak bukanlah hal baru bagi Kiyosaki. Ia dikenal sebagai pendukung lama investasi perak. Tidak cuma itu, Kiyosaki secara konsisten menyuarakan keyakinannya terhadap logam tersebut, baik sebagai logam industri maupun sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan mata uang.

Pada 14 Januari 2026 lalu, ketika harga perak menembus level 90 dolar AS per ons, Kiyosaki sempat mengunggah pernyataan bernada perayaan. “YAY: Perak (mencapai) 90 dolar AS per ons. Apakah Anda merayakannya?” tulisnya di akun X-nya.

Kiyosaki juga mengungkapkan bahwa dirinya mulai membeli perak sejak 1965, saat harga logam tersebut masih berada di level sekitar 1 dolar AS per ons. Pengalaman panjang itu, menurutnya, menjadi dasar keyakinan bahwa volatilitas jangka pendek tidak mengubah nilai fundamental perak dalam jangka panjang.

Dalam beberapa kesempatan, Kiyosaki kerap mengingatkan investor agar tidak terjebak spekulasi jangka pendek. Ia menggunakan ungkapan yang kerap dikutip pengikutnya: “Pigs get FAT… Hogs get SLAUGHTERED.” Pernyataan ini ia gunakan untuk memperingatkan risiko keserakahan dan perdagangan yang hanya mengejar keuntungan sesaat.

Harga Perak Terkoreksi Setelah Sentuh Rekor

Pernyataan terbaru Kiyosaki muncul di tengah koreksi harga perak setelah mencetak rekor tertinggi. Harga perak spot tercatat melemah 0,9 persen menjadi 92,38 dolar AS per ons, turun dari puncak rekornya di 95,87 dolar AS yang tercapai pada hari sebelumnya.

Koreksi tersebut terjadi setelah reli tajam yang didorong oleh ketegangan geopolitik global. Meredanya kekhawatiran pasar turut menekan harga logam mulia, termasuk perak, yang sebelumnya diuntungkan oleh sentimen safe haven.

Di India, tekanan serupa juga terlihat di bursa komoditas. Di Multi Commodity Exchange (MCX), harga perak dan produk exchange-traded fund (ETF) terkait dilaporkan anjlok hingga 20 persen setelah ketegangan geopolitik yang sempat memicu reli mulai mereda.

Dampak Pernyataan Donald Trump Soal Greenland

Salah satu faktor yang meredakan ketegangan geopolitik adalah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait isu Greenland dan hubungan dengan Eropa. Trump menyatakan tidak akan menggunakan kekuatan militer terkait Greenland dan mengisyaratkan akan menahan diri dari penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump bertemu dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Dalam pertemuan itu, Trump mengungkapkan telah mencapai apa yang ia sebut sebagai kerangka kesepakatan mengenai masa depan Greenland. Menurut Trump, kerangka kesepakatan tersebut mencakup kerja sama keamanan di kawasan Arktik, pengelolaan hak mineral, serta partisipasi dalam inisiatif yang disebut Golden Dome.

Ia menambahkan, kesepakatan tersebut dirancang untuk berlaku tanpa batas waktu dan akan menguntungkan kedua belah pihak. Sinyal deeskalasi ini membuat pasar global relatif lebih tenang, sehingga minat terhadap aset safe haven, termasuk perak, sedikit berkurang dalam jangka pendek.

Harga Perak Menguat Sejak Awal 2026

Sejak awal 2026, harga perak menunjukkan volatilitas tinggi dengan kecenderungan menguat. Pada pekan-pekan pertama Januari 2026, harga perak masih bergerak di bawah level 85 dolar AS per ons. Namun, meningkatnya ketegangan geopolitik global, kekhawatiran terhadap kebijakan perdagangan, serta spekulasi seputar suku bunga global mendorong arus masuk ke logam mulia.

Memasuki pertengahan Januari 2026, harga perak menembus level psikologis 90 dolar AS per ons untuk pertama kalinya, memicu perhatian luas di kalangan investor ritel dan institusional. Lonjakan tersebut berlanjut hingga harga mencapai rekor tertinggi di kisaran 95 hingga 96 dolar AS per ons sebelum akhirnya terkoreksi.

Selain faktor geopolitik, sentimen terhadap perak juga didukung oleh narasi transisi energi dan meningkatnya permintaan industri. Perak digunakan secara luas dalam panel surya, baterai, dan komponen kendaraan listrik, sehingga prospeknya kerap dikaitkan dengan pertumbuhan ekonomi hijau dan transformasi teknologi.

Di sisi lain, pergerakan harga perak sepanjang awal 2026 juga dipengaruhi oleh fluktuasi dollar AS dan ekspektasi kebijakan moneter bank sentral utama. Penguatan dollar AS cenderung menekan harga logam mulia, sementara ketidakpastian arah suku bunga sering kali memicu pergerakan tajam dalam waktu singkat.

Kombinasi antara faktor fundamental jangka panjang dan sentimen jangka pendek inilah yang membentuk dinamika harga perak sepanjang awal tahun ini. Ini sekaligus menjadi latar bagi prediksi agresif Kiyosaki mengenai potensi kenaikan harga perak hingga 200 dolar AS per ons pada 2026.

Muhammad Muhlis

Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *