JAKARTA — Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings mempertahankan outlook stabil untuk sistem perbankan Australia di tengah perlambatan ekonomi yang dinilai masih terkendali. Dalam laporan terbaru, Moody’s menyatakan bahwa neraca perbankan tetap solid, didukung oleh kualitas aset yang kuat, cadangan kerugian kredit yang melimpah, serta struktur pendanaan dan likuiditas yang sehat. Meskipun pertumbuhan ekonomi Australia diperkirakan melambat, kondisi makro secara umum masih mendukung kinerja perbankan.
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi
Reserve Bank of Australia (RBA) memproyeksikan pertumbuhan produk domestik bruto riil turun menjadi 1,8% pada 2026 dari sekitar 2,3% pada 2025, dan relatif stabil di 1,6% pada 2027. Perlambatan ini dipicu oleh kebijakan moneter yang ketat untuk meredam inflasi serta keterbatasan kapasitas ekonomi di tengah belanja pemerintah yang masih berlanjut. Pada awal Februari 2026, RBA menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menyusul lonjakan inflasi menjadi 3,8% secara tahunan pada Desember 2025, naik signifikan dibandingkan 1,9% pada Juni 2025.
Moody’s menilai, jika tekanan inflasi bertahan di atas target bank sentral sebesar 2% sampai 3%, masih terdapat ruang kenaikan suku bunga lanjutan yang berpotensi menekan konsumsi rumah tangga. Namun, tingkat pengangguran yang tetap rendah di kisaran 4,2% hingga akhir 2025 diperkirakan akan menopang daya tahan ekonomi dan kualitas kredit perbankan.
Kualitas Aset dan Rasio NPL
Dari sisi kualitas aset, Moody’s menilai kondisi perbankan Australia tetap solid. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) secara sistem berada di level 1,2% dan cenderung stabil sepanjang 2025. Stabilnya rasio NPL ini didukung oleh standar penyaluran kredit yang ketat, rasio loan-to-value yang rendah pada kredit perumahan, serta kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat. Selain itu, pertumbuhan harga properti sebelumnya turut memperkuat nilai agunan bank, meski ke depan laju kenaikannya diperkirakan melambat.
Moody’s juga menyoroti kebijakan regulator yang mulai membatasi penyaluran kredit dengan rasio utang terhadap pendapatan atau debt-to-income (DTI) tinggi sejak Februari 2026. Kendati demikian, dampaknya terhadap permintaan kredit dinilai terbatas karena bank-bank Australia pada dasarnya telah beroperasi di bawah ambang batas yang ditetapkan regulator. Cadangan kerugian kredit yang tinggi dinilai memberikan bantalan yang memadai terhadap potensi kenaikan risiko kredit di masa mendatang.
Permodalan dan Profitabilitas
Dari sisi permodalan, perbankan Australia dinilai tetap memiliki buffer yang kuat. Rata-rata rasio common equity tier 1 (CET1) empat bank terbesar tercatat sebesar 12,20% per September 2025, sedikit turun dibandingkan tahun sebelumnya namun masih berada di atas kisaran target operasional masing-masing bank. Moody’s memperkirakan bank akan terus menghasilkan modal secara organik yang cukup untuk menopang pertumbuhan bisnis ke depan.
Sementara itu, profitabilitas perbankan diperkirakan relatif stabil meski persaingan penyaluran kredit tetap ketat. Potensi kenaikan suku bunga lanjutan dinilai dapat membantu menjaga margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang sempat tertekan akibat pelonggaran moneter sebelumnya. Pertumbuhan kredit yang sehat juga diperkirakan mampu menopang pendapatan bunga bersih, meski tekanan biaya operasional berpotensi meningkat seiring inflasi dan investasi berkelanjutan di sektor teknologi.
Pendanaan dan Likuiditas
Dari sisi pendanaan dan likuiditas, Moody’s menilai struktur pendanaan perbankan Australia tidak akan berubah secara material. Penerbitan utang wholesale diperkirakan berada di level yang sebanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Meski kesenjangan pendanaan sempat melebar seiring pemulihan pertumbuhan kredit, level tersebut masih lebih rendah dibandingkan rata-rata historis dan dinilai dapat dikelola dengan baik melalui manajemen neraca yang prudent serta akses pasar yang kuat. Buffer likuiditas bank juga dipastikan tetap jauh di atas ketentuan regulator.
Dominasi Empat Bank Besar
Dalam laporan yang sama, Moody’s juga menegaskan dominasi empat bank terbesar Australia, yakni Commonwealth Bank of Australia (CBA), Australia and New Zealand Banking Group (ANZ), Westpac Banking Corporation, dan National Australia Bank (NAB). Keempat bank tersebut masih menjadi tulang punggung sistem perbankan Australia dengan penguasaan pangsa pasar simpanan dan kredit domestik terbesar.
CBA tercatat sebagai bank dengan total aset terbesar, mencapai sekitar AUD 1,32 triliun, dengan pangsa pasar simpanan sebesar 24,3% dan kredit 22,8%. Bank ini mempertahankan peringkat kredit yang kuat dengan outlook stabil. Sementara itu, ANZ, Westpac, dan NAB masing-masing mencatat total aset di kisaran AUD 1,08 triliun hingga AUD 1,24 triliun dan juga mempertahankan outlook stabil dari Moody’s.
Selain empat bank utama tersebut, Moody’s memeringkat sejumlah bank besar dan menengah lainnya seperti Macquarie Bank, Bendigo and Adelaide Bank, Bank of Queensland, serta ING Bank Australia. Secara keseluruhan, Moody’s menilai mayoritas bank penerima simpanan di Australia memiliki profil kredit yang solid dengan baseline credit assessment berada di kisaran A hingga Baa. Lembaga pemeringkat juga tetap memasukkan asumsi dukungan pemerintah yang moderat terhadap bank-bank terbesar Australia dalam penilaian peringkat simpanan dan surat utang.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












