JAKARTA – Proses transformasi ekonomi Indonesia masih berjalan lambat, terutama karena kontribusi sektor pertanian yang masih besar dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) negara ini. Di sisi lain, kontribusi manufaktur ke PDB tidak pernah kembali ke angka 20% setelah 8 tahun terakhir, dan produktivitasnya pun kini menjadi sorotan dari Bank Dunia.
Bank Dunia dalam laporan terbarunya menyebutkan bahwa meskipun investasi di Indonesia meningkat dalam lima tahun terakhir, mayoritas aliran modal tersebut mengalir ke sektor bernilai tambah rendah, sehingga memengaruhi produktivitas manufaktur nasional. Berdasarkan Country Growth & Jobs Report: Indonesia yang dirilis akhir Januari 2026, tingkat investasi Indonesia rata-rata mencapai 30% terhadap PDB dalam 15 tahun terakhir. Namun, sekitar 70% dari investasi tersebut dialirkan ke sektor manufaktur bernilai tambah rendah seperti industri makanan olahan, logam dasar, serta layanan akomodasi dan makanan.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan aliran modal ke sektor manufaktur berorientasi ekspor dan bernilai tinggi, seperti otomotif, elektronik, farmasi, dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Sebelumnya, sektor-sektor ini menjadi primadona investasi pada awal hingga pertengahan 1990-an, didorong oleh reformasi perdagangan dan deregulasi. Namun, setelah itu, terjadi tren pembatasan pasar di Tanah Air, yang menyebabkan anjloknya produktivitas manufaktur Indonesia sebesar 20% hingga 30% dibandingkan era kejayaannya di awal 1990-an.
Peran Pemerintah dan Tantangan Implementasi
Bank Dunia mengakui bahwa pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa langkah untuk mengatasi masalah ini, termasuk pengesahan UU Cipta Kerja pada 2020 dan berbagai reformasi regulasi bisnis. Aturan sapu jagat ini dirancang untuk meliberalisasi sektor usaha dan melonggarkan batasan investasi asing langsung. Meski demikian, realisasi investasi aktual masih jauh dari harapan, sebagian besar disebabkan oleh tantangan implementasi UU Cipta Kerja di lapangan.
Investasi dan Penyerapan Tenaga Kerja
Dalam catatan Bisnis, kualitas investasi terus menurun, terutama jika dilihat dari sisi penyerapan tenaga kerja. Selama 2025, kenaikan investasi tidak sebanding dengan kenaikan penyerapan tenaga kerja. Dari data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi mencapai Rp1.931,2 triliun sepanjang 2025, dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 2.710.532 orang. Artinya, setiap 1 tenaga kerja yang terserap memerlukan investasi sekitar Rp712,48 juta.
Bahkan, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu atau sepanjang 2024, realisasi investasi “hanya” mencapai Rp1.714,2 triliun, tetapi penyerapan tenaga kerjanya mencapai 2.456.130 orang. Dengan demikian, setiap 1 orang tenaga kerja terserap “hanya” memerlukan investasi sekitar Rp698,1 juta. Ini menunjukkan penurunan rasio penyerapan tenaga kerja terhadap realisasi investasi, yang menunjukkan bahwa investasi semakin tidak efektif dalam menyerap tenaga kerja.
Transformasi Ekonomi yang Lamban
Sektor manufaktur dan pertanian mencatat pertumbuhan yang impresif pada tahun 2025. Kedua sektor ini mencatat rekor pertumbuhan tertinggi sejak 2015, yakni di atas 5%. Sektor manufaktur tumbuh 5,3% (YoY) sepanjang 2025, lebih tinggi dibandingkan tahun 2024 yang hanya 4,43%. Sementara itu, sektor pertanian tumbuh 5,3%, melesat dari tahun 2024 yang hanya 0,6%.
Meski mencatat pertumbuhan yang tinggi, kinerja kedua sektor ini bukannya tanpa catatan. Sektor manufaktur tumbuh ketika impor bahan baku turun dan sektor padat karya mengalami tekanan. Tekanan di sektor padat karya tampak dari tingginya angka pemutusan hubungan kerja dan semakin tidak efektifnya investasi dalam menyerap tenaga kerja. Kontribusi sektor manufaktur pun tidak pernah bisa menyentuh angka 20%, setidaknya sejak 2018.
Struktur Ekonomi yang Tidak Berubah
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan bahwa struktur perekonomian Indonesia belum berubah, karena sektor pertanian tetap menjadi kontributor besar terhadap perekonomian. Bedanya, industri manufaktur mengalami degradasi. Menurut Esther, pertumbuhan yang tinggi pada sektor manufaktur tidak mencerminkan pertumbuhan pada sektor padat karya. Di lapangan, sektor yang bersifat labor intensive atau menciptakan lapangan kerja besar itu diakui justru masih mengalami kesulitan.
Tantangan di Sektor Tekstil
Salah satu sektor yang mengalami kesulitan adalah sektor tekstil. Esther menilai tantangan yang dialami sektor tekstil datang dari berbagai sisi, mulai dari mahalnya bahan baku hingga gempuran baju asal impor. Ia juga menyoroti masalah fundamental pada sektor tekstil, yaitu perlunya lebih banyak investor di sektor tekstil agar terciptanya ekosistem dari hulu hingga ke hilir.
Catatan dari Pengusaha
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut 9 dari 16 subsektor manufaktur masih tumbuh di bawah rata-rata nasional sepanjang 2025. Ketua Umum Apindo Shinta W. Kamdani mengatakan secara agregat pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di kisaran yang relatif solid, kondisi di lapangan menunjukkan pemulihan yang tidak merata. Angka pertumbuhan makro belum sepenuhnya merefleksikan tantangan operasional yang dihadapi industri, khususnya manufaktur.
Shinta menilai tantangan pada 2026 tidak hanya soal menjaga laju pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut mampu menciptakan penguatan struktural di sektor riil. Dia menekankan pentingnya strategi yang berfokus pada perbaikan fundamental dunia usaha.
Biaya Berusaha yang Tinggi
Salah satu isu krusial yang terus disoroti Apindo adalah tingginya biaya berusaha (high cost of doing business) di Indonesia. Biaya logistik, energi, hingga suku bunga pinjaman dinilai masih jauh kurang kompetitif dibanding negara-negara tetangga, sehingga menekan daya saing industri nasional. Selain biaya yang bersifat kuantitatif, Shinta juga menyoroti beban non-kuantitatif seperti perizinan yang berbelit, regulasi yang tumpang tindih, serta inkonsistensi kebijakan antara pusat dan daerah.












