Jejak Koper Putih dan 6 Mobil Rahasia di Rumah Aipda Dianita: Pesan Terakhir Bocor

Penetapan Tersangka dalam Kasus Narkoba

AKBP Didik Putra Kuncoro, mantan Kapolres Bima Kota, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyalahgunaan narkotika dan psikotropika setelah gelar perkara. Dari hasil pemeriksaan awal, muncul informasi mengenai koper putih yang diduga berisi narkotika. Penyidik kemudian melakukan penggeledahan di rumah Aipda Dianita Agustina di Curug, Kabupaten Tangerang, dan menemukan berbagai jenis narkoba.

Temuan Narkoba di Rumah Aipda Dianita Agustina

Dalam penggeledahan tersebut, aparat menemukan 16,3 gram sabu, 49 butir ekstasi, alprazolam, Happy Five, serta ketamin. Selain itu, penyidik juga memeriksa Miranti Afriana dan Aipda Dianita untuk mendalami peran masing-masing pihak. Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan Pasal 609 ayat (2) huruf a KUHP juncto UU Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana serta Pasal 62 UU Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Proses penyidikan masih terus dikembangkan.

Tabiat Asli Dianita Agustina

Di luar proses hukum, kehidupan Dianita di lingkungan tempat tinggalnya dikenal biasa saja oleh warga sekitar. Ketua RT setempat, Eka Media, menyebut tidak pernah ada gelagat mencurigakan selama Dian tinggal di klaster tersebut. Menurutnya, Dian baik dan ramah kepada tetangga. Ia tinggal di lingkungan tersebut sekitar dua hingga tiga tahun terakhir bersama dua anaknya. Suaminya telah meninggal dunia karena sakit.

Kawasan tersebut merupakan perumahan klaster dengan aktivitas warga yang padat. Interaksi antar tetangga terbatas karena sebagian besar berangkat kerja saat subuh dan pulang ketika hari sudah gelap. “Namanya kehidupan di klaster, kita berangkat gelap, pulang gelap. Jadi jarang ketemu,” ujar Eka.

Peristiwa yang menjadi perhatian warga terjadi pada Rabu malam. Berdasarkan informasi dari petugas keamanan, sejumlah kendaraan mendatangi rumah Dian. “Kalau kata petugas keamanan sih ada enam mobil. Isinya berapa orang nggak tahu,” ujar Eka. Ia sendiri tidak menyaksikan langsung kejadian tersebut. Menurut penjelasan yang diterimanya, kedatangan rombongan itu tidak menimbulkan kecurigaan karena sama-sama anggota kepolisian.

Tidak ada pemberitahuan khusus kepada pengurus RT terkait kegiatan di rumah tersebut. Setelah malam itu, Dian belum kembali ke kediamannya. Anak-anaknya pun telah dijemput keluarga dari pihak orang tua. “Setahu saya, besoknya anak-anaknya dijemput sama orang tua Dian. Sekarang rumahnya memang kosong,” kata Eka.

Ia berharap seluruh proses berjalan sesuai aturan dan fakta yang sebenarnya dapat terungkap.

Pesan Terakhir

Hal serupa disampaikan Udi, petugas keamanan perumahan, yang mengaku mengenal Dian secara pribadi. Di matanya, polwan tersebut tidak pernah bermasalah dengan warga. “Baik,” katanya tegas.

Udi juga mengingat percakapan terakhir sebelum Dian meninggalkan rumahnya malam itu. “Mau berangkat dia sempat bilang, ‘Pak tolong matiin (mesin air) Sanyo ya’,” ujar Udi menirukan ucapan Dian. Permintaan itu disampaikan ketika Dian sudah berada di dalam mobil yang terparkir dekat gerbang klaster. “Di sini, dekat pager masuk. Bilang, ‘Pak, pak, pak tolong matiin mesin air’,” katanya. Saat itu, kaca mobil dalam keadaan terbuka. “Di dalem mobil? Iya. Kacanya kebuka? Iya,” pungkasnya.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *