Teror yang Menimpa Ketua BEM UGM
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada, Tiyo Ardiyanto, mengaku mengalami serangkaian teror yang sangat mengerikan. Serangan ini mencakup penguntitan, ancaman penculikan, dan fitnah berat yang bisa merusak reputasi pribadinya maupun gerakan mahasiswa yang dipimpinnya.
Tidak hanya dirinya, sang ibu dan puluhan pengurus BEM UGM juga menjadi sasaran intimidasi anonim. Hal ini menimbulkan kekhawatiran luas tentang keselamatan keluarga dan kebebasan berekspresi di lingkungan kampus.
Teror yang dialami Tiyo Ardiyanto menjadi sorotan di media sosial dan ruang publik. Rentetan kejadian ini terjadi setelah ia menyuarakan isu anak bunuh diri di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat. Ia bersama pengurus BEM UGM lainnya melayangkan surat resmi kepada UNICEF mengenai kasus tersebut.
Menurut Tiyo, peristiwa itu merupakan salah satu bentuk kegagalan negara dalam melindungi warga negaranya. Ia mengungkap bahwa teror yang dialaminya dimulai sejak 9 Februari dari nomor-nomor tak dikenal dengan kode Inggris Raya (+44).
Meski begitu, ia menegaskan bahwa BEM UGM tidak akan gentar dalam menyuarakan kepentingan publik. Sikap organisasi mahasiswa tersebut tetap tidak berubah dalam menyampaikan kritik dan mengawal isu-isu publik ke depan.
Ancaman dan Tuduhan yang Mengancam
Pola serangan yang dialami Tiyo bukan sekadar pesan biasa, melainkan ancaman yang terstruktur dan disertai tuduhan serius. “Sejak awal nadanya adalah ancaman dan tuduhan bahwa kami adalah agen asing,” ujarnya, Selasa (17/2/2026). Ia menyebut, teror tersebut bahkan disertai ancaman penculikan.
Selain itu, muncul pula konten manipulatif yang menyerang ranah personal. Salah satunya berupa gambar bertuliskan “awas LGBT di UGM” disertai fotonya. Tiyo merasa framing itu sengaja dibangun untuk merusak reputasinya. “Saya memang tidak punya kekasih, saya tidak punya pacar, tapi bukan karena itu lalu bisa seenaknya di-framing seperti itu,” katanya.
Serangan semakin masif ketika beredar konten yang disebutnya sebagai pembunuhan karakter berbasis kecerdasan buatan. Foto dirinya disebut di-generate menggunakan artificial intelligence (AI) dengan narasi bahwa ia kerap menyewa LC karaoke dan menjalin komunikasi asmara. “Yang pertama soal LGBT itu sangat menjijikkan, yang kedua ini pembunuhan karakter,” tegasnya.
Ia menilai pola ini sebagai upaya sistematis untuk menjatuhkan kredibilitasnya di ruang publik.
Tuduhan Manipulasi Dana KIP-Kuliah
Selain serangan personal, Tiyo juga menghadapi tuduhan serius terkait dugaan manipulasi dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah. Narasi yang beredar di media sosial menyebut adanya relasi kuasa yang memungkinkan mahasiswa penerima KIP harus menyetor dana kepadanya.
Tuduhan itu menyebar di berbagai platform seperti Facebook, Instagram, hingga TikTok. Tiyo membantah keras tudingan tersebut. “Semua orang tahu Ketua BEM UGM tidak pernah mengurusi rekomendasi KIP,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa BEM tidak memiliki kaitan langsung dengan proses administrasi maupun pencairan KIP.
Ia memang mengakui pernah ada penggalangan dana ketika sejumlah mahasiswa penerima KIP mengalami keterlambatan pencairan sehingga kesulitan membayar kos dan kebutuhan harian. Namun, menurutnya, langkah itu murni solidaritas mahasiswa. “Tidak ada kejahatan di sana,” katanya.
Ia menyebut dinamika yang terjadi hanya sebatas kesalahan komunikasi di tingkat mahasiswa, bukan pelanggaran moral atau penggelapan dana. “Kalau benar saya melakukan penggelapan dana, sudah pasti saya diberhentikan dan tidak lagi menjadi Ketua BEM UGM,” tegasnya.
Ia menilai isu tersebut sengaja diangkat untuk membangun persepsi negatif dan melemahkan posisinya sebagai pimpinan mahasiswa.
Keluarga dan Pengurus BEM Juga Terkena Dampak
Teror tidak berhenti pada dirinya. Sang ibu juga menjadi target serangan pesan anonim. Tiyo menggambarkan ibunya sebagai perempuan sederhana dari desa yang tidak menempuh pendidikan tinggi. Dalam kondisi rentan itu, pesan ancaman justru dikirim pada waktu paling sensitif. “Update terakhir ada dua kali tengah malam,” katanya.
Pesan tersebut menuduh dirinya mencuri uang dan menyebarkan narasi bahwa orang tua Ketua BEM UGM kecewa karena anaknya melakukan penggelapan. “Ibu saya secara verbal tanpa saya tanya mengatakan bahwa ibu cukup takut,” ungkapnya.
Tak hanya keluarga, sekitar 20–30 pengurus BEM UGM juga menerima pesan teror serupa dari nomor tak dikenal. Bahkan ketika ia mulai berbicara ke publik, dua nomor yang sebelumnya mengancam kembali mengirim pesan bernada intimidatif. “Ngadu ke media, takut ya lu,” kutipnya.
Ia juga menyebut adanya ancaman penculikan melalui Instagram dengan tingkat anonimitas tinggi. Seiring waktu, jumlah pesan hinaan dan ancaman di berbagai platform media sosial semakin banyak dan sulit dikendalikan.
Bagi Tiyo, rangkaian teror ini merupakan bentuk pembungkaman terhadap kritik dan suara mahasiswa. Ia menyoroti belum adanya pernyataan publik yang tegas dari negara terkait jaminan kebebasan akademik dan perlindungan keselamatan.
“Yang dibutuhkan publik adalah jaminan bahwa ketika menghadapi teror, negara hadir di sana,” katanya. Meski demikian, ia menegaskan BEM UGM tidak akan tunduk. “Kami tidak akan gentar, tidak takut, dan tidak berhenti mengawal kepentingan publik,” ujarnya.
Ia memastikan teror ini tidak akan mengubah sikap organisasi mahasiswa tersebut dalam menyuarakan kritik dan mengawal isu publik ke depan.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












