JAKARTA – Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa neraca pembayaran Indonesia atau NPI mengalami defisit sebesar 7,8 miliar dolar AS pada tahun 2025. Defisit ini menjadi yang terbesar dalam sepuluh tahun terakhir.
Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu 2024, neraca pembayaran Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar 7,2 miliar dolar AS. Namun, defisit NPI pernah melebihi angka 7 miliar dolar AS pada tahun 2018 lalu, dengan total defisit sebesar 7,13 miliar dolar AS.
Yang menarik, pelebaran defisit neraca perdagangan pada tahun 2025 terjadi meskipun defisit transaksi berjalan atau current account deficit justru mengalami penurunan dibandingkan tahun 2024. Transaksi berjalan pada tahun 2025 tercatat hanya sebesar 1,45 miliar dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan defisit transaksi berjalan pada tahun 2024 yang mencapai 8,58 miliar dolar AS.
Salah satu faktor yang menyebabkan pelebaran defisit NPI adalah eksodus dana jumbo dari investasi portofolio. BI mencatat bahwa aliran dana keluar dari investasi portofolio mencapai 9,4 miliar dolar AS pada tahun 2025. Hal ini berbeda dengan posisi tahun 2024 yang masih mencatatkan surplus di investasi portofolio sebesar 8,2 miliar dolar AS.
BI menjelaskan bahwa sebagian besar outflow terjadi di sektor investasi portofolio swasta senilai 6,7 miliar dolar AS, sementara di sektor publik hanya sebesar 2,7 miliar dolar AS. Pelebaran defisit investasi portofolio memengaruhi data transaksi finansial yang tercatat defisit sebesar 4,54 miliar dolar AS. Padahal, pada tahun 2024, transaksi finansial masih mencatatkan surplus di atas 17 miliar dolar AS.
Menurut laporan BI, fenomena net outflow pada tahun 2025 disebabkan oleh meningkatnya premi risiko di pasar keuangan akibat tantangan dan ketidakpastian global. Hal ini membuat investor cenderung mengalihkan portofolio mereka ke aset-aset safe haven.
Dua Faktor Pemicu
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), David Sumual, menjelaskan bahwa kinerja buruk neraca pembayaran pada tahun lalu dipengaruhi dua titik balik yang memengaruhi neraca finansial.
Pertama, pengumuman kebijakan tarif dagang oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada kuartal II/2025. Saat itu, Trump secara sepihak menetapkan tarif resiprokal kepada seluruh negara mitra dagang AS, termasuk barang-barang asal Indonesia yang dikenai tarif bea masuk 32%—yang kemudian turun menjadi 19%.
David mengingatkan bahwa kebijakan tersebut memicu sentimen penghindaran risiko secara global, yang berujung pada terjadinya outflow alias aliran modal asing keluar di pasar keuangan Indonesia.
Kedua, tekanan berlanjut memasuki paruh kedua tahun lalu. Pada kuartal III/2025, volatilitas kembali mengguncang pasar modal domestik yang kali ini dipicu oleh sentimen negatif dalam negeri. “Sempat ada volatilitas di pasar modal setelah rentetan aksi demonstrasi di akhir Agustus [2025],” jelasnya.
Sebagai pengingat, pada 29 Agustus 2025, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah sebesar 1,53% atau turun 121,59 poin setelah sehari sebelumnya terjadi demo besar-besaran terutama di Jakarta, yang mengakibatkan korban jiwa, termasuk seorang pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan karena dilindas mobil rantis polisi. Dampak negatifnya ke IHSG bahkan sempat berlanjut hingga awal September 2025.
Lebih lanjut, David menekankan bahwa dari sisi fundamental ekspor-impor, kinerja Indonesia sebenarnya tidak buruk. Neraca perdagangan bulanan sepanjang 2025 tercatat selalu surplus, dengan posisi akhir tahun di level 41,05 miliar dolar AS atau naik 31,02% dibandingkan realisasi 2024 (31,33 miliar dolar AS).
“Surplus dagang di 2025 sebenarnya relatif kuat, tapi memang tidak cukup untuk menutup outflow di pasar finansial yang terjadi karena dua faktor tadi,” tutupnya.












