Sungai Moayat Terkontaminasi Limbah Beracun, Ratusan Ikan Mati, Kapolres Boltim: Laporan Minimal

Penyebab Kematian Massal Ikan di Kolam Budidaya Desa Poyowa

Beberapa waktu lalu, warga di Desa Poyowa, Kecamatan Kotamobagu Timur, mengalami kerugian besar akibat kematian massal ribuan ekor ikan di kolam budidaya mereka. Peristiwa ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas air yang digunakan sebagai sumber utama untuk budidaya ikan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, perubahan mendadak pada kualitas air dari aliran Sungai Moayat diduga menjadi penyebab utama kematian ikan tersebut. Dugaan ini muncul setelah warga menemukan adanya indikasi pencemaran yang berasal dari aktivitas pengolahan emas ilegal. Para pemilik tong emas disinyalir sengaja membuang limbah beracun ke aliran sungai, yang kemudian masuk ke kolam-kolam budidaya milik warga.

Aliran Sungai Moayat juga mengalir ke wilayah Bongkudai, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan oleh warga Desa Poyowa saja. Masyarakat di Bongkudai juga berpotensi terkena dampak pencemaran tersebut.

Tanggapan dari Kapolres Bolaang Mongondow Timur

Kapolres Bolaang Mongondow Timur, AKBP Golfried Hasiholan Pakpahan, memberikan tanggapan atas kekhawatiran masyarakat terkait aktivitas pengolahan emas ilegal yang menyebabkan pencemaran Sungai Moayat. Menurutnya, pihak kepolisian membutuhkan dasar hukum yang jelas sebelum melakukan tindakan di lapangan.

“Tentunya nanti kalau sudah terbukti, laporkan secara resmi supaya ada dasar kepolisian melakukan penindakan,” ujar Golfried. Ia menekankan bahwa hasil penyelidikan dan dokumentasi dari pihak berwenang akan menjadi dasar bagi aparat penegak hukum (APH) untuk menjerat para pelaku.

Menurutnya, minimal dinas perikanan harus melaporkan ke Polres berdasarkan penyelidikan disertai bukti dokumentasi. Hal ini dilakukan agar proses penindakan bisa dilakukan dengan baik dan sesuai aturan hukum yang berlaku.

Tindakan dari Dinas Pertanian dan Perikanan serta DLH

Sementara itu, Dinas Pertanian dan Perikanan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkot Kotamobagu telah bergerak cepat untuk menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan pencemaran yang menyebabkan kematian ikan secara massal di sejumlah kolam pembudidayaan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Kotamobagu, Piter Suli, menyampaikan bahwa tim gabungan turun langsung ke lokasi untuk melakukan penelusuran awal atas peristiwa yang meresahkan para pembudidaya ikan tersebut. “Langkah ini merupakan tindak lanjut dari laporan masyarakat terkait dugaan pencemaran air yang menyebabkan kematian ikan di beberapa kolam milik warga di Desa Poyowa Besar I,” ujarnya.

Piter menambahkan bahwa berdasarkan keterangan pembudidaya ikan, penjaga pintu air bendungan, serta warga setempat, kejadian kematian ikan diperkirakan terjadi sejak Sabtu, 14 Februari 2026. Dalam waktu singkat, ribuan ikan di sejumlah kolam dilaporkan mati, sehingga menimbulkan kerugian bagi para pembudidaya.

Langkah yang Akan Dilakukan

Dinas Pertanian dan Perikanan bersama DLH Kota Kotamobagu telah menyusun rencana tindak lanjut untuk memastikan penyebab pasti kejadian. Beberapa langkah yang akan dilakukan adalah identifikasi dan uji dugaan pencemaran air, pendataan pembudidaya ikan yang terdampak, analisis sumber aliran air dari bendungan Moayat, hingga penanganan sesuai ketentuan dan SOP yang berlaku.

Menurut Piter, proses ini penting agar penanganan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga mampu mencegah kejadian serupa di masa mendatang.

Para pembudidaya ikan di Desa Poyowa Besar Satu berharap pemerintah dapat segera menemukan penyebab utama kematian ikan massal tersebut serta memberikan solusi jangka panjang terhadap keamanan sumber air budidaya.


Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *