Kondisi Fara, Korban Pembacokan Mahasiswa Riau, Pelaku Menyesal dan Ingin Sholat Taubat

Kondisi Terkini Korban Pembacokan di UIN Suska Riau

Mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau yang menjadi korban pembacokan oleh temannya sendiri, Farradhila Ayu Pramesti atau dikenal dengan nama Fara, kini menunjukkan perkembangan positif. Setelah menjalani operasi dan perawatan selama beberapa hari, kondisi Fara terus membaik.

Ibunda Fara mengungkapkan bahwa putrinya kini sudah bisa duduk, berdiri, dan bahkan berjalan. Meskipun masih ada rasa pusing, namun secara keseluruhan, Fara telah mampu melakukan aktivitas sehari-hari seperti sebelum kejadian. Ia juga mulai mandiri dalam hal kebutuhan pribadi, seperti pergi ke kamar mandi tanpa bantuan orang lain.

Namun, Fara masih mengalami sedikit masalah saat makan. Ia sering merasa mual jika mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak. Untuk itu, ibunya membatasi jenis makanan yang dikonsumsi Fara, yaitu bubur sebagai menu utama setelah operasi.

Pengakuan Pelaku yang Menyesal

Sementara kondisi Fara terus membaik, kabar tentang pelaku pembacokan, Raihan Mufazzar, juga mulai terungkap. Dari hasil penyidikan dan interogasi, pelaku diketahui memiliki latar belakang emosional yang kompleks. Raihan mengaku bahwa ia sangat tertutup dan tidak pernah merasakan keceriaan seperti yang ia dapatkan dari Fara.

Dalam proses pemeriksaan, Raihan menyampaikan bahwa ia jatuh hati pada Fara selama masa Kuliah Kerja Nyata (KKN). Ia menganggap Fara sebagai sosok yang memberikan kebahagiaan yang selama ini tidak pernah ia temukan dari orang lain. Bahkan, Fara menjadi contoh teladan bagi anak-anak di wilayah tempat KKN berlangsung.

Setelah tindakan kekerasan yang dilakukannya, Raihan sempat ingin mengakhiri hidupnya. Namun, pihak kepolisian segera menangkapnya dan memberikan pendampingan. Kini, pelaku mengaku sangat menyesal atas perbuatannya dan ingin bertobat serta kembali ke jalan Tuhan.

Motif Pembacokan yang Menggemparkan

Motif pembacokan yang dilakukan oleh Raihan ternyata berasal dari perasaan sakit hati. Penyidik mengungkap bahwa Raihan merasa cintanya ditolak oleh Fara. Ia menganggap bahwa Fara adalah kekasihnya, meskipun korban tidak merasakan hal yang sama.

Raihan juga mengakui bahwa ia sudah memiliki niat jahat terhadap Fara sejak November 2025 lalu. Saat diinterogasi, ia tampak kikuk dan sulit menjawab pertanyaan mengenai tujuan pembacokan. Meski awalnya ia mengatakan tidak ingin membuat korban mati, jawaban spontannya menunjukkan bahwa ia benar-benar ingin membunuh Fara.

Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa motivasi pembacokan bukan hanya karena rasa sakit hati, tetapi juga karena kecemburuan dan ketidakpuasan terhadap hubungan yang tidak seimbang. Kasus ini menjadi peringatan penting tentang pentingnya pengelolaan emosi dan komunikasi yang sehat dalam hubungan interpersonal.

Almahdi Sharique

Penulis yang aktif meliput dunia hiburan dan tren media sosial. Ia menghabiskan waktu senggang dengan mendengarkan musik pop, mengedit video ringan, dan menjelajahi akun kreator. Ia percaya bahwa hiburan adalah bagian dari dinamika masyarakat. Motto: “Kreativitas adalah energi kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *