Perbandingan Harga Drone Iran dan Rudal AS: Murah vs Mahal

Gelombang Serangan Pesawat Tanpa Awak dari Iran yang Tak Kunjung Berakhir

Gelombang serangan pesawat tanpa awak (drone) dari Iran belum juga mereda. Dalam beberapa pekan terakhir, tekanan terhadap sistem pertahanan Amerika Serikat dan sekutunya terasa makin nyata, membentang dari Bahrain hingga Uni Emirat Arab. Di tengah situasi seperti ini, pemenang tak melulu ditentukan oleh siapa yang punya persenjataan paling canggih. Ada faktor lain yang tak kalah krusial: siapa yang lebih dulu kehabisan amunisi.

Serangan pada Senin (2/3/2026) menjadi penanda bahwa intensitas konflik meningkat. Drone serang satu arah Shahed-136 dan rudal jelajah sederhana milik Iran kembali dilepaskan ke berbagai target di kawasan Timur Tengah. Targetnya pun beragam. Mulai dari pangkalan militer AS, infrastruktur energi strategis, hingga bangunan sipil ikut terdampak dalam rentetan serangan tersebut.

Namun di sisi lain, sistem pertahanan udara Patriot buatan AS masih berdiri sebagai tameng utama. Sejauh ini, sistem itu disebut mampu menahan sebagian besar gempuran yang datang. Otoritas Uni Emirat Arab bahkan mengeklaim tingkat keberhasilan intersepsi mencapai lebih dari 90 persen terhadap drone dan rudal Iran. Klaim tersebut memunculkan satu pertanyaan penting yang tak bisa diabaikan: berapakah sebenarnya harga rudal dan drone yang digunakan oleh Iran dan AS?

Perbandingan Biaya: Murah vs Sangat Mahal

Di balik pertempuran ini, terdapat kesenjangan biaya yang mencolok antara senjata ofensif Iran dan sistem pertahanan milik AS serta sekutunya. Drone Shahed-136 milik Iran diperkirakan hanya berharga sekitar 20.000–35.000 dollar AS (sekitar Rp 337 juta–Rp 591 juta). Drone ini relatif sederhana, namun efektif untuk serangan massal.

Sebaliknya, satu rudal pencegat dari sistem Patriot dapat menelan biaya hingga 4 juta dollar AS (sekitar Rp 67 miliar). Artinya, biaya untuk menembak jatuh satu drone bisa puluhan hingga ratusan kali lebih mahal dibanding harga drone itu sendiri.

Selain Patriot, AS juga mengandalkan jet tempur yang dilengkapi roket Advanced Precision Kill Weapon System (APKWS). Harga roket ini berkisar 20.000–30.000 dollar AS per unit, belum termasuk biaya operasional pesawat tempur yang digunakan. Di sisi lain, sekutu AS seperti Arab Saudi dan UEA mengoperasikan sistem pertahanan udara THAAD yang diproduksi oleh Lockheed Martin. Sistem ini dirancang untuk menghancurkan rudal balistik berkecepatan tinggi di ketinggian sangat tinggi. Namun, kemampuan canggih tersebut datang dengan harga mahal. Satu rudal pencegat THAAD dapat mencapai sekitar 12 juta dollar AS (sekitar Rp 202 miliar), sehingga jarang digunakan untuk menghadapi ancaman sederhana seperti drone.

Kesenjangan Finansial yang Jadi Tantangan

Dilansir dari The Express Tribune, Senin, para analis menilai, perbedaan biaya ini menjadi tantangan serius bagi AS dan sekutunya. Dengan biaya produksi drone Iran yang relatif murah, bahkan bisa di bawah 35.000 dollar AS, biaya untuk mencegatnya justru bisa mencapai 500.000 hingga 4 juta dollar AS, tergantung sistem yang digunakan. Dalam praktik militer, satu target sering kali membutuhkan lebih dari satu rudal pencegat untuk memastikan keberhasilan. Hal ini mempercepat penipisan stok amunisi pertahanan.

Pejabat Barat bahkan memperingatkan bahwa persediaan rudal pencegat mulai berada di bawah tekanan. Pada konflik Juni 2025, AS dilaporkan menembakkan sekitar 150 rudal THAAD dalam 12 hari untuk melindungi Israel atau sekitar seperempat dari total stok yang dimiliki saat itu. Masalahnya, setiap rudal tersebut tidak hanya mahal, tetapi juga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi kembali.

Sebagai solusi, AS mulai mengeksplorasi alternatif berbiaya lebih rendah, termasuk penggunaan roket APKWS yang harganya sekitar 28.000 dollar AS per unit dan dinilai cukup efektif dalam uji coba.

AS-Israel Serang Iran

Sebelumnya, AS-Israel menyerang Iran dalam serangan gabungan yang dilakukan pada Sabtu (28/2/2026). Serangan tersebut mengenai sejumlah kota, termasuk Teheran, Ibu Kota Iran. Iran membalas serangan tersebut dengan menembakkan senjata udara ke pangkalan-pangkalan militer milik AS di Timur Tengah. Pada Senin, Iran juga mengumumkan kematian Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran.

Departemen Pertahanan AS menyatakan misi itu diberi nama “Operation Epic Fury”. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa tujuan operasi militer AS adalah untuk menghancurkan misil Iran dan meratakan industri misil Iran hingga ke tanah.

Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *