Pemerintah Jakarta Pastikan Stok BBM Aman Hingga Idul Fitri
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta menegaskan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) di Ibu Kota masih aman hingga perayaan Idul Fitri 1447 Hijriyah. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecemasan masyarakat yang bisa memicu tindakan panic buying atau pembelian berlebihan.
Gubernur Jakarta, Pramono Anung, menyampaikan bahwa Jakarta menjadi prioritas dalam pengelolaan stok BBM. Menurutnya, kondisi global yang tidak menentu tidak akan mengganggu ketersediaan BBM di Jakarta karena adanya stok sendiri dan koordinasi dengan pemerintah pusat.
“Jakarta selalu menjadi prioritas dalam penyediaan BBM. Kami juga memiliki stok sendiri sehingga diharapkan BBM dapat tersedia secara lancar menjelang Idul Fitri,” ujarnya saat berkunjung ke Setu Babakan, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Jumat (6/3/2026).
Ia menegaskan bahwa tidak ada kekhawatiran terkait kehabisan BBM di Jakarta. “Saya yakin tidak akan ada panic buying terkait BBM di Jakarta,” tambahnya.
Sebelumnya, beberapa warga di Aceh Tengah sempat mengantre panjang untuk membeli BBM di SPBU. Bahkan, banyak warga membawa jeriken karena khawatir stok habis. Namun, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) meminta masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan panic buying.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan bahwa pasokan BBM dan LPG di Aceh cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Idul Fitri. Ia mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah antisipasi seperti peningkatan stok, penguatan distribusi, serta koordinasi dengan pihak terkait.
“Kami terus memastikan ketersediaan energi agar bisa terdistribusi dengan baik. Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak melakukan panic buying,” ujarnya.
Bahlil Jawab Isu Stok BBM 20 Hari
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan klarifikasi mengenai isu yang beredar tentang kemampuan stok BBM nasional hanya cukup untuk 20 hari akibat perang di Timur Tengah.
Bahlil menjelaskan bahwa angka tersebut bukanlah situasi darurat, melainkan mencerminkan kapasitas penyimpanan yang selama ini dimiliki Indonesia. “Sejak dulu, daya tampung BBM kita sekitar 21 sampai 25 hari,” katanya.
Menurutnya, standar nasional minimal adalah 20–21 hari, sedangkan maksimalnya mencapai 25 hari. Dalam rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN), rata-rata ketahanan stok BBM nasional tercatat berada di level 22–23 hari.
Bahlil menekankan bahwa keterbatasan stok bukan disebabkan oleh ketidakmampuan pemerintah, melainkan karena kapasitas tangki penyimpanan yang belum memadai. “Kalau ingin menambah cadangan, di mana kita simpan? Storage-nya memang belum cukup,” ujarnya.
Ia meminta media agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Menurutnya, masalah utamanya adalah infrastruktur penyimpanan, bukan ketersediaan pasokan energi.
Lebih lanjut, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto sedang mempercepat pembangunan fasilitas storage guna memperkuat ketahanan energi nasional. Targetnya, kapasitas cadangan energi bisa mencapai tiga bulan, sesuai standar minimum global.
“Arahan Bapak Presiden Prabowo memerintahkan kami untuk segera membangun storage agar ketahanan energi kita lebih kuat. Storage-nya berapa lama? Insyaallah rencana sampai dengan tiga bulan,” kata Bahlil.
Langkah ini diharapkan menjadi fondasi penguatan sistem ketahanan energi Indonesia dalam menghadapi dinamika geopolitik dan fluktuasi pasokan energi dunia.












