Fenomena Panic Buying BBM di Berbagai Wilayah Dunia
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Akibatnya, masyarakat di berbagai negara mulai melakukan panic buying atau pembelian bahan bakar dalam jumlah besar. Hal ini terjadi setelah konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran memicu ancaman penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena sekitar 20% perdagangan minyak dunia melalui jalur tersebut. Ancaman penutupan oleh Iran sebagai balasan atas serangan AS dan Israel sejak Februari lalu mengganggu stabilitas pasokan energi. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada harga minyak tetapi juga memicu perilaku panic buying di sejumlah negara.
Panic Buying BBM di Indonesia
Di Indonesia, fenomena panic buying BBM juga terlihat di wilayah dataran tinggi Gayo, seperti Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Pada awal Maret 2026, antrean kendaraan mengular di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Kejadian ini dipicu oleh pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tentang stok BBM nasional yang berada di kisaran 21–25 hari.
Salah satu warga Bener Meriah, Indra, mengaku sengaja mengantre di SPBU Tan Saril untuk mendapatkan Pertalite bagi sepeda motornya. Ia bahkan datang setelah shalat Isya dan menunggu lama agar tidak kehabisan bahan bakar. Menurutnya, kekhawatiran akan krisis membuat masyarakat memilih mengisi BBM lebih awal. Pengalaman sebelumnya saat krisis energi juga membuat warga tidak ingin mengambil risiko.
Di SPBU Kemili, Takengon, antrean kendaraan roda dua dan roda empat dilaporkan hampir mencapai satu kilometer. Sementara di SPBU Tan Saril, antrean kendaraan mencapai sekitar 500 meter.
Panic Buying BBM di Korea Selatan
Korea Selatan juga mengalami panic buying BBM. Antrean kendaraan terlihat di sejumlah SPBU di Seoul setelah harga minyak dunia meningkat tajam akibat konflik Timur Tengah. Banyak pengendara memilih mengisi penuh tangki kendaraan karena khawatir harga BBM akan terus naik.
Operator SPBU melaporkan bahwa antrean kendaraan menjadi lebih panjang dibandingkan hari-hari biasa. Situasi ini terjadi bersamaan dengan tekanan berat pada perekonomian Korea Selatan. Pasar keuangan negara tersebut mengalami gejolak setelah konflik di Timur Tengah meningkat.
Indeks saham utama Korea Selatan, Kospi, sempat anjlok lebih dari 12% dalam satu hari. Dalam dua hari perdagangan, indeks tersebut turun hampir 20% meskipun otoritas bursa telah mengaktifkan mekanisme penghentian sementara perdagangan. Nilai tukar won terhadap dolar AS juga melemah hingga menembus level tertinggi dalam 17 tahun terakhir. Harga bensin rata-rata di Korea Selatan melampaui 1.800 won per liter.
Sebagai konsumen minyak mentah terbesar ketujuh di dunia, Korea Selatan sangat bergantung pada impor energi. Lebih dari 90% kebutuhan energinya berasal dari impor, dengan sekitar 70% minyak mentah negara tersebut melewati Selat Hormuz.
Panic Buying BBM di Australia
Fenomena panic buying juga dilaporkan terjadi di Australia. Di kota Perth, negara bagian Australia Barat, ribuan pengendara terlihat mengantri di SPBU untuk mengisi bahan bakar. Pemerintah Australia Barat mencoba menenangkan masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan.
Perdana Menteri negara bagian tersebut, Roger Cook, menyatakan bahwa pasokan bahan bakar masih stabil dan tidak perlu terjadi kepanikan. Ia juga mengingatkan perusahaan bahan bakar agar tidak menaikkan harga secara berlebihan karena kekhawatiran masyarakat.
Di beberapa wilayah seperti Queensland, harga bahan bakar dilaporkan naik hingga 219,9 sen per liter dalam waktu singkat. Lonjakan harga tersebut memicu kritik terhadap perusahaan energi yang dianggap mengambil keuntungan dari situasi krisis.
Meski demikian, otoritas energi Australia menyatakan bahwa sebagian besar pasokan minyak negara tersebut berasal dari Singapura, bukan dari Timur Tengah. Karena itu, penutupan Selat Hormuz tidak akan terlalu berdampak pada kesediaan minyak dalam negeri.
Panic Buying BBM di Inggris
Sejumlah laporan menyebut antrean panjang kendaraan terjadi di kota-kota besar di Inggris seperti London, Manchester, dan Liverpool. Sebagian pengemudi dilaporkan harus menunggu lebih dari satu jam untuk mengisi bahan bakar di SPBU.
Pemerintah Inggris menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian bahan bakar secara berlebihan. Otoritas energi menyebut bahwa meskipun harga BBM mengalami kenaikan akibat konflik Timur Tengah, pasokan energi masih berada dalam kondisi aman. Para pengemudi juga diminta untuk tetap mengikuti pola pengisian bahan bakar secara wajar agar tidak memicu gangguan distribusi.












