Penyerangan Brutal yang Menimpa Wakil Koordinator KontraS
Serangan brutal yang menimpa Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, menyisakan potret kengerian yang nyata. Bukan sekadar luka fisik, zat kimia yang disiramkan oleh orang tak dikenal pada Kamis (12/3/2026) malam itu terbukti memiliki daya hancur yang sangat tinggi. Kondisi korban sangat miris dan memperlihatkan betapa berbahayanya zat yang digunakan dalam serangan tersebut.
Daya Rusak Luar Biasa: Motor Pun Melepuh
Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Muhammad Isnur, menjelaskan bahwa tingkat korosif cairan tersebut diduga sangat kuat. Hal ini terlihat dari kondisi sepeda motor yang dikendarai Andrie saat kejadian. Bagian panel instrumen atau speedometer motor tersebut dilaporkan melepuh akibat terkena percikan zat kimia tersebut.
“Jadi dicurigai ini adalah asam yang memang (menyebabkan) melepuh. Jadi bajunya itu langsung terbakar. Bahkan speedometer motornya pun melepuh,” ujar Isnur di Kantor YLBHI Jakarta, Jumat (13/3/2026).
Kesaksian ini menggambarkan betapa berbahayanya zat yang digunakan pelaku. Isnur pun mengekspresikan kekhawatirannya atas dampak yang diterima tubuh manusia jika material besi dan plastik saja bisa hancur.
“Jadi enggak terbayang korosinya kepada kulit, kepada badan Andri itu seperti apa begitu,” lanjutnya.
Perjuangan di Meja Operasi: Melibatkan 22 Dokter
Pasca-insiden di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Andrie langsung dilarikan ke IGD Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Keseriusan luka yang diderita korban terlihat dari banyaknya tenaga medis yang dikerahkan.
Pada malam pertama, sebanyak 20 dokter langsung turun tangan. Jumlah ini kemudian bertambah menjadi 22 dokter spesialis pada keesokan harinya. Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, merinci ada enam kategori spesialisasi yang menangani Andrie, mulai dari spesialis mata, saraf, THT, kulit, organ dalam, hingga dokter forensik.
“(Para dokter) sebenarnya mencoba untuk melihat bagaimana efek dari korosi zat asam (dari air keras). Tapi secara garis besar diagnosa primernya, seperti yang tadi disampaikan, ada 24 persen luka bakar di bagian kanan tubuh Andrie,” jelas Dimas.
Luka bakar tersebut tersebar mulai dari area kepala hingga badan. Namun, kondisi yang paling krusial berada pada bagian indra penglihatan korban.
“Mulai dari kepala sampai bagian badan, itu mengalami luka bakar yang serius. Lalu yang paling memprihatinkan tentu bagian matanya,” tambah Dimas.
Kini, Andrie telah menjalani prosedur operasi pada bagian mata. Menariknya, solidaritas muncul dari gerakan masyarakat sipil yang bahu-membahu mengumpulkan iuran untuk biaya medis, sembari terus berkoordinasi dengan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Kronologi Penyerangan: Pelaku Beraksi dalam Senyap
Tragedi ini bermula di tengah kesunyian Jalan Salemba I–Talang, Senen, sekitar pukul 23.37 WIB. Saat itu, Andrie tengah berkendara seorang diri sebelum akhirnya didekati oleh dua pria misterius yang berboncengan sepeda motor, diduga jenis Honda Beat keluaran 2016-2021.
Berdasarkan keterangan tertulis, kedua pelaku berbagi peran sebagai eksekutor dan pengemudi. Ciri-ciri mereka sempat teridentifikasi, pengendara mengenakan kaus putih-biru dan helm hitam, sementara eksekutor di belakang menggunakan masker buff hitam yang menutupi wajah.
“Salah satu pelaku kemudian menyiramkan air keras ke arah korban hingga mengenai sebagian tubuh korban,” tutur Dimas.
Seketika, Andrie berteriak menahan nyeri yang luar biasa hingga jatuh tersungkur bersama motornya. Kini, publik menunggu ketegasan aparat kepolisian untuk mengusut tuntas siapa di balik serangan terhadap pejuang HAM ini.












