Pandangan Dosen UMM: Kepercayaan Konsumen Menurun, Ekonomi Tidak Bergelora Saat Ramadan

Penurunan Kepercayaan Konsumen dan Dampaknya pada Perekonomian

Mochamad Rofik, dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), menyampaikan bahwa penurunan kepercayaan konsumen telah memengaruhi daya beli masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Ia menekankan bahwa tren penurunan ini sudah terlihat sejak tahun lalu, berdasarkan data indeks kepercayaan konsumen yang ia analisis.

Ia menjelaskan bahwa indeks tersebut pernah mencapai titik terendah pada September 2025, kemudian kembali membaik hingga Desember 2025. Namun, pada Februari 2026, indeks tersebut turun lagi. “Secara umum, tren penurunan ini masih terlihat,” ujarnya.

Menurut Rofik, salah satu penyebab utama penurunan kepercayaan konsumen adalah ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi yang tidak optimis. Hal ini membuat masyarakat cenderung lebih memilih menyimpan uang daripada meningkatkan pengeluaran.

Ia juga menilai bahwa faktor-faktor domestik seperti kebijakan pemerintah yang dinilai kurang mendukung penguatan ekonomi juga berkontribusi. Contohnya, program-program seperti Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih dianggap olehnya memiliki potensi memberikan persepsi kebijakan yang terlalu konsumtif. Selain itu, wacana penutupan minimarket modern jika program Koperasi Merah Putih berjalan juga dinilai sebagai sinyal buruk bagi pelaku usaha.

Pengaruh Dinamika Global terhadap Perekonomian

Selain faktor domestik, Rofik juga menyoroti dampak dari dinamika geopolitik global terhadap perekonomian. Ketegangan antara Israel dan Iran, misalnya, berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga minyak ini akan meningkatkan biaya operasional berbagai sektor usaha. Akibatnya, pelaku usaha biasanya harus memilih antara menaikkan harga atau menurunkan kualitas barang.

Namun, dalam kondisi daya beli masyarakat yang melemah, kedua opsi tersebut memiliki risiko yang sama bagi pasar. Oleh karena itu, Rofik menyarankan agar pemerintah melakukan penghematan anggaran secara selektif dengan meninjau kembali program-program yang dinilai tidak memiliki dampak besar terhadap perekonomian. Proyek pembangunan yang tidak mendesak sebaiknya ditunda sementara waktu, dan program berbiaya besar perlu dievaluasi apabila kondisi ekonomi tidak memungkinkan.

Kekuatan Fundamental Ekonomi Domestik

Meski demikian, Rofik menilai bahwa fundamental ekonomi domestik Indonesia masih memiliki kekuatan. Ia menjelaskan bahwa sekitar 80 persen aktivitas ekonomi masih didukung oleh konsumsi domestik, sedangkan sektor ekspor hanya berkontribusi sekitar 20 persen terhadap perekonomian nasional. Minyak, yang dominan impor, juga menjadi faktor penting.

Karena itu, ia menilai bahwa penguatan ekonomi dalam negeri harus menjadi prioritas. Salah satunya adalah dengan mengurangi ketergantungan pada impor dan memperkuat produksi domestik. “Jika domestik dikelola dengan baik, ekonomi kita bisa mandiri. Fokusnya harus ke dalam negeri agar roda ekonomi tetap berjalan,” ujarnya.

Tanda-tanda Pelemahan Daya Beli di Kota Malang

Pelemahan daya beli dirasakan langsung oleh pelaku usaha di Kota Malang. Ahmad Soni, seorang karyawan Toko Amanah di kawasan Embong Arab, mengatakan bahwa Ramadan kali ini pengunjung terasa lebih sepi. Jumlah pengunjung yang datang ke kawasan Embong Arab turun drastis. “Perbandingannya 100 banding 40. Kalau tahun lalu pengunjungnya 100, sekarang sekitar 40 saja,” ujarnya.

Ia memperkirakan penurunan jumlah pembeli mencapai sekitar 60 persen dibanding Ramadan sebelumnya. Kondisi ini diduga berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat. “Sepertinya karena kondisi ekonomi yang lagi sulit,” katanya.

Prediksi Penurunan Mobilitas Kendaraan Selama Mudik Lebaran

Sinyal lain tentang penurunan daya beli adalah prediksi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terkait penurunan mobilitas kendaraan bermotor keluar-masuk wilayah Kota Malang selama masa mudik Lebaran 2026. Penurunan diperkirakan mencapai 1,75 persen dibandingkan periode mudik tahun 2025.

Berdasarkan catatan Dishub Kota Malang, kendaraan masuk pada arus mudik 2025 sebanyak 276.726 unit, sedangkan kendaraan keluar: 276.938 unit. Prediksi pada arus mudik 2026 diperkirakan jumlah kendaraan masuk sebanyak 271.883 unit. Kendaraan keluar 271.092 unit.

Widjaja Saleh Putra, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, menjelaskan bahwa dinamika cuaca dan kecenderungan masyarakat melakukan penghematan menjadi faktor yang memengaruhi prediksi penurunan mobilitas tersebut. Dishub mencatat dua periode puncak arus mudik pada 2026. Gelombang pertama pada 13–15 Maret 2026. Gelombang kedua pada 18–19 Maret 2026.


Gusun Fawaida

Gusun Fawaida merupakan seorang Penulis yang fokus pada isu lingkungan kerja, produktivitas, dan human interest. Ia senang mengamati perilaku manusia, membaca buku self-improvement, dan minum kopi sambil menulis ide. Motto: “Tulislah untuk memberi dampak.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *