Kematian Tidak Wajar Narapidana di Lapas Narkoba Banyuasin
Tangis Jamilah (50) pecah saat proses ekshumasi jenazah anaknya, Sandi, yang merupakan warga binaan Lapas Kelas II Banyuasin, berlangsung di TPU Al-Jihad, Palembang. Keluarga menduga kematian Sandi tidak wajar karena ditemukan lebam pada tubuhnya, sehingga meminta autopsi ulang untuk mengetahui penyebab pasti kematian.
Sandi sempat menghubungi ibunya sebelum meninggal dan dijadwalkan bebas pada 10 April, sementara hasil autopsi diharapkan memberi titik terang mengenai kejadian tersebut.
Proses Ekshumasi yang Menyentuh Hati
Proses ekshumasi berlangsung di TPU Al-Jihad, Jalan Panglong Laut, Kelurahan Talang Betutu, Sukarami, Palembang, Senin (30/3/2026). Jamilah tampak menangis usai melihat kondisi jenazah anaknya yang akan diautopsi oleh tim dokter forensik RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang.
“Ungkapkanlah Ya Allah..,” ucap Jamilah secara keras sambil ditenangkan oleh keluarga dan kerabat yang lain. Setelah beberapa menit menangis di depan tenda, Jamilah digiring menjauhi tenda agar keluarga bisa menenangkannya.
Sementara itu, Arifin (56), ayah almarhum, mengatakan bahwa keluarga berharap proses autopsi ulang tersebut dapat menunjukkan titik terang mengenai penyebab kematian Sandi.
“Kematiannya tidak wajar. Dari hasil visum awal ada lebam yang menunjukkan diduga adanya kekerasan, makanya kami minta autopsi untuk mengetahui titik terang penyebab kematian,” kata Arifin.
Arifin yang sempat melihat kondisi jenazah anaknya pasca 20 hari meninggal, mengungkap belum ada kerusakan berarti pada tubuh almarhum.
“Masih utuh belum ada yang lepas anggota tubuh, rambutnya saja masih utuh. Seolah mau memberi petunjuk ketika makam dibongkar,” katanya.
Kabar Meninggal Dunia yang Mengejutkan
Sebelum mendapat kabar meninggal dunia, almarhum Sandi sempat menghubungi sang ibu untuk melepas rindu sambil menyampaikan kalau sebentar lagi ia bebas.
“Dua jam sebelum dapat kabar meninggal sempat telponan sama ibunya, ya cerita sebentar lagi mau bebas. Harusnya dia bebas tanggal 10 bulan April ini,” katanya.
Keluarga baru tahu kalau Sandi meninggal saat Arifin mencoba kembali menghubungi namun yang mengangkat justru rekan satu kamarnya.
“Pas saya telpon yang angkat temannya satu kamar. Bilang kalau Sandi meninggal sudah dibawa ke Rumah Sakit,” katanya.
Proses pemeriksaan jenazah berlangsung selama dua jam dari pukul 11.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB.
Penyebab Kematian yang Diduga Tidak Wajar
Diberitakan sebelumnya, Sandi (29), napi di Lapas Narkoba Kelas II Serong, Banyuasin, meninggal dunia. Kabar meninggalnya warga Talang Betutu, Kota Palembang ini mengejutkan pihak keluarga Sandi.
Kuasa hukum keluarga Sandi, Anto Astari Cik Mid, ketika dikonfirmasi Kamis (12/3/2026) menuturkan, pihak keluarga mendapat informasi kematian Sandi bukan dari pihak Lapas Narkoba Banyuasin, melainkan dari rekan korban sesama warga binaan.
“Kasus kematian Sandi ini, sudah kami laporkan ke Polsek Talang Kelapa. Karena, kematian Sandi tidak wajar dan ditemukan sejumlah lebam di tubuhnya,” Kamis (12/3/2026).
Anto menambahkan, kabar kematian Sandi yang terjerat kasus narkoba dengan vonis hukuma 4.5 tahun ini, diperoleh dari sesama warga binaan yang mengabarkan kepada pihak keluarga.
Seharusnya, bila memang kematian Sandi wajar, pihak Lapas Narkoba Klas II Banyuasin yang seharusnya menghubungi pihak keluarga.
“Secara kasat mata terlihat luka-luka di tubuh korban. Saat saya datang dan menemui pihak rumah sakit, pihak rumah sakit menyatakan bila mereka menerima korban Sandi sudah dalam kondisi meninggal. Sudah di visum di RS Bhayangkara Palembang dan korban susah dimakamkan,” katanya.
Tewasnya Sandi yang diduga tidak wajar, menurut Anto harus diselidiki dengan seksama.
Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."












