Hukum  

Jejak Karier Vicky Aristo: Dari Polisi ke Barista

Perjalanan Aipda Vicky Aristo Katiandagho: Dari Kasus Korupsi hingga Jadi Barista

Aipda Vicky Aristo Katiandagho kini menjadi sorotan di media sosial setelah mengundurkan diri dari Polri. Video pengunduran dirinya yang diunggah di Facebook memicu berbagai spekulasi dan perbincangan publik. Banyak netizen menduga bahwa keputusan Vicky terkait dengan penanganan kasus dugaan korupsi yang ia tangani sebelum dimutasi.

Kasus Korupsi Pengadaan Tas Sekolah

Vicky Aristo Katiandagho saat itu sedang menangani dugaan tindak pidana korupsi pengadaan tas ramah lingkungan di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Proyek tersebut merupakan bagian dari program pemerintah daerah tahun 2020 dan diduga menyerap anggaran hingga Rp2,2 miliar. Penyelidikan kasus ini dimulai sejak Januari 2021 dan naik ke tahap penyidikan pada 5 September 2024 setelah melalui gelar perkara di Polda Sulawesi Utara.

Dalam proses penyidikan, tim telah memeriksa sejumlah saksi, mengumpulkan dokumen, serta berkoordinasi dengan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan untuk menghitung potensi kerugian negara. Namun, di tengah proses tersebut, Vicky tiba-tiba dimutasi ke Polres Kepulauan Talaud.

Pengunduran Diri dan Spekulasi Publik

Setelah dimutasi, Vicky memutuskan mengundurkan diri dari Polri. Ia mengungkapkan bahwa pengajuan pengunduran dirinya sebenarnya telah diajukan sejak Juni 2025, namun baru disetujui pada awal 2026. Dalam pernyataannya, ia mengakui mutasi tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusannya untuk mundur.

Kasus ini kemudian viral di media sosial setelah Vicky mengunggah video perpisahan dari Polda Sulawesi Utara. Dalam video tersebut, ia tampak memberi hormat, bersujud, dan menyampaikan pesan emosional sebelum meninggalkan institusi. Unggahan lain juga memperlihatkan Vicky kini memilih berjualan kopi. Ia bahkan menulis pernyataan yang memicu perhatian publik, “Lebih baik jadi tukang kopi daripada tunduk pada penjilat.”

Tanggapan Polda Sulut

Kabid Humas Polda Sulawesi Utara Kombes Pol Alamsyah P Hasibuan menegaskan bahwa mutasi terhadap Vicky bukan terkait penanganan kasus korupsi. “Benar, Pak, mutasinya bersifat rutin,” ujar Alamsyah saat dikonfirmasi TribunManado via WhatsApp, Jumat (3/4/2026). Ia mengungkapkan bahwa Vicky dimutasi dari Polres Minahasa ke Polres Kepulauan Talaud sebagai bagian dari rotasi rutin organisasi.

Alamsyah menyebut mutasi tersebut merupakan bagian dari penyegaran organisasi dan hal yang lumrah di institusi Polri. Jika anggota yang dimutasi tengah menangani perkara, maka penanganannya akan dilanjutkan oleh penggantinya. “Jadi ini hal yang biasa dilakukan,” jelasnya.

Menurut Alamsyah, Vicky mengajukan pengunduran diri pada 2025 atas kemauan sendiri, bukan karena tekanan atau pemecatan. Pengajuan tersebut kemudian disetujui pada Januari 2026 menjelang masa pensiun dini per 1 April 2026. “Benar kemauan sendiri dan juga atas persetujuan istri,” tandasnya.

Terkait video yang beredar, Alamsyah menyebut narasi yang berkembang di media sosial merupakan distorsi fakta. Sehingga, ia mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menyaring informasi di media sosial. “Kami meminta masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh konten yang sudah diedit sedemikian rupa. Pengunduran diri yang bersangkutan adalah murni atas kesadaran dan kemauan sendiri,” pungkasnya.

Jejak Karier

Vicky Aristo mengawali perjalanan di institusi Polri sebagai seorang Bintara (Ba). Selama masa dinasnya, ia banyak menghabiskan waktu bertugas di bawah jajaran Polda Sulawesi Utara (Sulut). Namanya mulai dikenal publik secara luas saat ia menjabat sebagai Kanit Tipidkor (Tindak Pidana Korupsi) di Polres Minahasa.

Di posisi ini, Vicky dikenal sebagai sosok yang berani mengusut kasus-kasus sensitif yang melibatkan anggaran besar. Kasus terakhir yang ia kawal adalah dugaan korupsi proyek pengadaan tas ramah lingkungan di Pemerintah Kabupaten Minahasa tahun anggaran 2020. Proyek tersebut diduga merugikan negara dengan nilai anggaran mencapai Rp2,2 miliar. Di tengah jalan, Vicky justru dimutasi ke Polres Kepulauan Talaud. Hingga membuatnya mantap memilih untuk mengundurkan diri dari Polri.

Pangkat terakhir Vicky di kepolisian adalah Aipda.

Pilih Jadi Barista

Setelah tak lagi menjadi anggota Polri, Aipda Vicky Aristo melanjutkan kehidupan barunya sebagai pedagang kopi. Saat ditanya soal rencana ke depan, ia menjawab santai bahwa dirinya masih menikmati jualan kopi. Bahkan dalam unggahan media sosial, ia sempat menulis kalimat yang menyita perhatian. “Lebih baik jadi tukang kopi daripada tunduk pada penjilat.”

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *