Kehilangan Dua Mahasiswi Unila di Wira Garden
Keluarga dari dua mahasiswi Universitas Lampung (Unila) mengalami kehisterisan saat menerima jasad kedua korban yang ditemukan di laut Pulau Pasaran, Bandar Lampung. Kedua mahasiswi tersebut bernama Bunga (22 tahun) asal Metro dan Fatmawati (22 tahun) asal Tulangbawang Barat. Mereka ditemukan meninggal dunia setelah terseret arus sungai hingga tenggelam di tempat wisata alam Wira Garden, Kelurahan Batu Putu, Kecamatan Teluk Betung Barat, Kota Bandar Lampung pada Rabu (1/4/2026) sekitar pukul 13.05 WIB.
Jasad kedua mahasiswi tersebut ditemukan oleh nelayan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Timur, yang sedang berada di perairan Pulau Pasaran. Juhendi (35), salah satu nelayan yang menemukan satu dari dua jenazah tersebut, menceritakan awal mula penemuannya. Dia mengaku melihat benda aneh mengapung seperti boneka saat sedang menguras air di dalam kapalnya. Saat itu, jasad tersebut telungkup di dekat kapalnya, Kamis (2/4/2026) sekira pukul 11.30 WIB.
“Saya sedang menimba air di dalam kapal karena posisi air masuk ke dalam kapal, dan kaget saat menguras air ada benda aneh mengapung seperti boneka,” kata Juhendi dalam wawancara dengan media, Jumat (3/4/2026). Ia kemudian memanggil kawan yang sama-sama sedang berada di laut untuk memastikan apa yang ia lihat.
“Benar, itu adalah mayat,” ujarnya setelah memastikannya. Juhendi langsung turun ke air dengan kedalaman sekitar 10 meter dan secepatnya mengangkat jasad tersebut ke dalam kapal. “Saya bingung, jadi saya telepon bos dengan posisi mayat sudah kami ikat dan langsung bilang dinaikan saja ke kapal,” katanya.
Jasad yang ditemukan mengenakan pakaian hitam, dengan posisi baju tidak menutupi badan dan tampak seperti boneka. Sebelumnya, satu jasad lain telah dievakuasi oleh petugas dan dibawa ke daratan. “Jarak antara mayat yang kami temukan dengan mayat lainnya sekitar 100 meter,” kata Juhendi.
Ia mengungkapkan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya menemukan jasad. “Saya belum pernah menemukan hal yang aneh sebelumnya, dan penemuan jasad ini menjadi pengalaman pertama saya,” imbuhnya.
Pada saat evakuasi dari laut ke daratan, suasana terlihat ramai dengan keluarga korban yang menunggu. Keluarga langsung menyambut dengan menggunakan perahu yang digunakan untuk membawa jasad ke gudang agen ujung bronjong arah Pulau Pasaran. Suasana histeris terjadi karena keluarga telah menunggu sejak kemarin dan akhirnya jasad ditemukan.
“Saya sempat sedih dan terharu melihat keluarga yang menangis tersebut,” ujar Juhendi. Penemuan ini menjadi momen yang sangat berkesan bagi para nelayan dan keluarga korban.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












