Meski Ekonomi Melambat, Ekspor Vietnam Tetap Naik



Kinerja ekspor Vietnam tetap menunjukkan pertumbuhan yang kuat di awal tahun 2026, meskipun pertumbuhan ekonomi negara tersebut mulai melambat akibat tekanan dari krisis energi global. Di tengah gangguan pasokan dan kenaikan harga bahan bakar, sektor eksternal justru menjadi penopang utama perekonomian Vietnam.

Produk Domestik Bruto (PDB) Vietnam pada kuartal pertama tahun ini tumbuh sebesar 7,83 persen secara tahunan, turun dibandingkan dengan pertumbuhan 8,46 persen pada kuartal sebelumnya. Perlambatan ini terjadi karena adanya tekanan dari kenaikan harga bahan bakar serta gangguan dalam distribusi energi global, termasuk melalui Selat Hormuz.

“Kondisi global pada kuartal I 2026 masih kompleks dan tidak dapat diprediksi, dengan konflik di Timur Tengah yang mendorong volatilitas harga energi, gangguan pasokan, serta peningkatan inflasi,” kata kantor statistik dalam pernyataannya.

Ekspor Vietnam mengalami lonjakan sebesar 20,1 persen pada bulan Maret dibandingkan tahun sebelumnya, yang mencerminkan masih kuatnya permintaan global serta pergeseran rantai pasok ke negara tersebut. Vietnam juga mencatat surplus perdagangan sebesar USD 33,9 miliar dengan Amerika Serikat pada kuartal I, meningkat sebesar 24,2 persen secara tahunan.

Sektor manufaktur, yang menjadi tulang punggung ekspor Vietnam, tumbuh sebesar 9,73 persen pada kuartal I, menjaga momentum pertumbuhan di tengah tekanan global. Di sisi lain, impor juga meningkat sebesar 27,8 persen, menunjukkan aktivitas produksi yang tetap tinggi.

Krisis Energi Jadi Penyebab



Gangguan distribusi minyak dan gas melalui Selat Hormuz turut memperparah tekanan energi di Vietnam. Pemerintah Vietnam pun menggunakan dana cadangan bahan bakar untuk menahan lonjakan harga, sementara maskapai penerbangan mulai mengurangi jadwal penerbangan akibat keterbatasan bahan bakar jet.

Kepala Departemen Produk Domestik Bruto (PDB) pada kantor statistik, Nguyen Thi Mai Hanh, menilai target pertumbuhan ekonomi tahun ini akan sulit dicapai. Apalagi Vietnam masih membidik pertumbuhan hingga 10 persen pada 2026.

“Mencapai target pertumbuhan 2026 akan menjadi tantangan,” ujarnya.

Di sisi lain, tekanan inflasi juga mulai meningkat. Pada bulan Maret, inflasi tercatat sebesar 4,65 persen secara tahunan, melampaui target pemerintah sebesar 4,5 persen.

“Jika harga bahan bakar global terus naik, maka harga domestik akan memberi tekanan tambahan pada inflasi sekitar 1 hingga 2 poin persentase. Target inflasi 4,5 persen tahun ini akan semakin sulit dicapai,” kata Kepala Departemen Harga pada kantor statistik, Nguyen Thu Oanh.



Secara bulanan, inflasi naik sebesar 1,23 persen pada Maret, didorong oleh kenaikan harga bahan bakar, transportasi, dan biaya konstruksi.

Untuk menjaga stabilitas energi, pemerintah Vietnam menghentikan sementara sejumlah pajak atas bensin, minyak, dan bahan bakar jet hingga pertengahan April. Selain itu, pemerintah juga mendorong percepatan transisi ke kendaraan listrik dan biofuel guna mengurangi ketergantungan pada energi impor.

Di tengah tekanan global, Vietnam juga mengandalkan belanja infrastruktur untuk menopang pertumbuhan, termasuk proyek Bandara Internasional Long Thanh yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV tahun ini.

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *