Prospek Ekonomi RI 2026: Hilirisasi Dominan, Tantangan Fiskal Meningkat

Tantangan dan Peluang Ekonomi Indonesia di Tahun 2026



Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan akan tetap didorong oleh sektor industri pengolahan, khususnya melalui proses hilirisasi. Hal ini menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam transformasi ekonomi dari pengekspor bahan mentah menjadi bagian dari rantai nilai global. Sejumlah komoditas seperti nikel, tembaga, dan energi bersih menjadi prioritas untuk dikembangkan.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Randy Manilet, menyatakan bahwa logam dasar dan mineral memiliki potensi besar sebagai motor pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa pemerintah terus mendorong pergeseran dari ekonomi yang bergantung pada ekspor bahan mentah menuju manufaktur bernilai tambah.

Selain itu, pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) disebut berperan sebagai katalis investasi. KEK dinilai mampu menarik penanaman modal baik asing maupun domestik sambil mempercepat pembangunan infrastruktur industri. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi 2026 tidak lagi hanya bergantung pada konsumsi, tetapi semakin bergeser ke arah investasi dan manufaktur.

Namun, Yusuf juga mengingatkan bahwa dorongan pertumbuhan tersebut masih dihadapkan pada keterbatasan ruang fiskal pemerintah. Di tengah tingginya kebutuhan belanja negara, mulai dari perlindungan sosial hingga dukungan industrialisasi dan ketahanan pangan, penerimaan pajak berpotensi menghadapi tekanan akibat perlambatan ekonomi global dan risiko tidak tercapainya target penerimaan.

Strategi Investasi di Tahun 2026

Strategi investasi pada 2026 perlu disesuaikan dengan profil risiko dan kondisi perekonomian. Yusuf menyebut bahwa investor dengan karakter konservatif cenderung memilih instrumen berpendapatan tetap, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar uang, yang dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian. Sementara itu, investor dengan toleransi risiko lebih tinggi dapat mempertimbangkan saham atau reksa dana yang terkait dengan sektor hilirisasi, logam dasar, serta industri di kawasan ekonomi khusus (KEK).

Namun, risiko yang terkait dengan fluktuasi harga komoditas dan dinamika geopolitik global tetap menjadi tantangan. Oleh karena itu, pemilihan instrumen investasi harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan profil risiko masing-masing investor.

Perspektif dari Pakar Ekonomi

Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai sektor-sektor yang berkaitan dengan hilirisasi pertambangan masih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada 2026, khususnya industri logam dasar seperti nikel. Namun, sektor ini dinilai bersifat ekstraktif dan kurang inklusif, karena meskipun berkontribusi terhadap pertumbuhan, juga menimbulkan kerusakan lingkungan yang signifikan.

“Kerusakan lingkungan ini menimbulkan biaya sosial yang membuat pertumbuhan ekonomi tidak sustain dan tidak inklusif,” ujar Nailul. Meski demikian, ia mengakui bahwa hal ini telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sisi fiskal, ruang gerak pemerintah dinilai akan semakin terbatas. Kinerja penerimaan negara yang kurang optimal pada 2025 diperkirakan akan mempersempit ruang fiskal ke depan. Sementara itu, belanja negara diproyeksikan akan banyak terserap untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berbagai program prioritas lainnya, termasuk koperasi merah putih, sehingga menyisakan ruang yang sempit bagi belanja modal.



“Akibatnya, ruang untuk belanja modal akan sangat sempit. Stimulus ke ekonomi akan sangat terbatas. Saya rasa tahun depan akan ada efisiensi lagi secara masif,” tutur Nailul.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap proyeksi ekonomi Indonesia untuk tahun 2026. Menurutnya, pertumbuhan tetap akan terjaga sesuai proyeksi APBN di kisaran 5,4 persen. Meski demikian, Purbaya tak menutup kemungkinan pertumbuhan ekonomi tahun depan bisa mencapai 6 persen.

“Tapi gini, karena saya kan sedang menghidupkan sebuah mesin ekonomi, fiskal sudah mulai jalan, moneter sudah semakin sinkron, iklim investasi yang akan diperbaiki, saya tetap melihat 6 persen bukan angka yang mustahil untuk tahun 2026 walaupun asumsi kita di 5,4 persen,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTA.



Sementara itu, Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam laporan terbarunya bertajuk Fondasi Digital. Lembaga internasional tersebut memperkirakan perekonomian Indonesia tumbuh sebesar 5 persen pada periode 2025-2026 dan meningkat ke level 5,2 persen pada 2027. Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan estimasi dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Juni 2025, yang sebelumnya mematok pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,7 persen pada 2025, 4,8 persen pada 2026, dan 5 persen pada 2027.

Rommy Argiansyah

Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *