Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi G20 Tahun 2026
Dalam laporan terbaru, IMF memproyeksikan pasar negara berkembang akan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi G20 pada tahun 2026. Sebaliknya, banyak negara maju diperkirakan tumbuh di bawah rata-rata global. Dengan proyeksi ini, India diprediksi menjadi negara dengan pertumbuhan PDB riil tertinggi, diikuti oleh Indonesia dan China.
Data Utama dari Laporan IMF
Laporan Prospek Ekonomi Dunia yang dirilis oleh IMF memberikan perkiraan pertumbuhan PDB riil terbaru untuk tahun 2026. Data yang diunggah pada Oktober 2025 menawarkan gambaran tentang arah perekonomian G20 dan posisi masing-masing negara dalam skala global. G20 mencakup 19 negara utama dan satu organisasi regional (Uni Eropa), bersama-sama membentuk kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Berdasarkan proyeksi tersebut, pasar negara berkembang tampaknya siap mendorong pertumbuhan global. Sementara itu, banyak negara maju diperkirakan akan tumbuh lebih lambat dibandingkan rata-rata global.
Perbandingan Pertumbuhan PDB Riil Tahun 2026
Menurut data IMF, berikut adalah proyeksi pertumbuhan PDB riil tahunan untuk negara-negara G20 pada tahun 2026:
- India: 6,2 persen
- Indonesia: 4,9 persen
- China: 4,2 persen
- Argentina: 4,0 persen
- Arab Saudi: 4,0 persen
- Turki: 3,7 persen
- Rata-rata Global: 3,1 persen
- Australia: 2,1 persen
- Amerika Serikat: 2,1 persen
- Brasil: 1,9 persen
- Korea Selatan: 1,8 persen
- Kanada: 1,5 persen
- Meksiko: 1,5 persen
- Uni Eropa: 1,4 persen
- Inggris (UK): 1,3 persen
- Afrika Selatan: 1,2 persen
- Rusia: 1,0 persen
- Prancis: 0,9 persen
- Jerman: 0,9 persen
- Italia: 0,8 persen
- Jepang: 0,6 persen
Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2026
Ekonom dari GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, SE., M.S.E., menyebut bahwa Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan ekonomi dan berpeluang mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2026. Meskipun menghadapi tantangan global akibat berbagai peristiwa seperti krisis finansial, pandemi, dan konflik geopolitik, Indonesia masih dianggap sebagai “bright spot” oleh lembaga internasional seperti IMF, Bank Dunia, OECD, dan ADB.
Adrian menjelaskan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia terutama didorong oleh konsumsi domestik yang menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan nasional. Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan struktural, terutama pada sektor konsumsi yang terdiri dari kelompok menengah rentan.
Tantangan dan Peluang
Dari sisi investasi, kinerja Indonesia masih bersifat stop and go akibat ketidakpastian global. Meskipun penanaman modal asing secara global menurun, Indonesia relatif lebih resilien dibandingkan negara lain. Namun, pada 2025, investasi asing mulai melemah dan tercermin pada fluktuasi pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
Dari sisi perdagangan, tantangan utama 2026 adalah fragmentasi perdagangan global dan normalisasi harga komoditas. Meskipun surplus perdagangan Indonesia mulai menipis, peningkatan impor bahan baku memberi sinyal perbaikan aktivitas manufaktur dan penyerapan tenaga kerja.
Agenda Transformasi Ekonomi Indonesia
Adrian menekankan empat agenda transformasi utama yang perlu dilakukan Indonesia agar dapat mencapai pertumbuhan 5,3–5,6 persen pada 2026:
- Transformasi Ketenagakerjaan
- Transformasi Struktur Usaha dan Iklim Investasi
- Manajemen Utang yang Lebih Fleksibel
- Optimalisasi Program Prioritas Pemerintah
Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memanfaatkan ketidakpastian global sebagai momentum memperkuat fondasi pertumbuhan jangka menengah.












