Harga pupuk tetap tinggi meski Iran dan AS berdamai



JAKARTA — Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran belum mampu memulihkan rantai pasok pupuk global. Gangguan logistik dan lonjakan harga diperkirakan masih membayangi sektor pertanian hingga beberapa tahun ke depan.

Pembukaan kembali Selat Hormuz memang meredakan kepanikan pasar dalam jangka pendek. Namun, distribusi pupuk belum kembali normal karena pelaku logistik masih menghadapi risiko tinggi di jalur tersebut.

Analis pupuk global ICIS Deepika Thapliyal menilai kondisi pasar belum berubah secara fundamental.

“Pengiriman masih jauh dari normal. Tidak ada yang tahu berapa banyak bahan pupuk yang akan keluar dari selat. Juga masih belum jelas berapa lama gencatan senjata akan benar-benar bertahan,” kata Deepika.

Menurutnya, risiko operasional tetap tinggi meskipun jalur pelayaran telah dibuka. Biaya asuransi perang meningkat dan operator kapal masih enggan melintasi kawasan tersebut.

“Meskipun selat secara teknis terbuka, kargo mungkin menghadapi penundaan dan peningkatan risiko asuransi perang, sehingga pemulihan penuh perdagangan normal kemungkinan akan memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan,” kata Thapliyal.

Penumpukan pengiriman juga menjadi kendala tambahan. Distribusi energi dan pupuk yang tertahan selama konflik tidak bisa langsung dipulihkan dalam waktu singkat.

“Tidak tiba-tiba ratusan ribu ton minyak atau urea atau pupuk atau gas cair langsung sampai ke tujuan,” ujar profesor kebijakan pangan City University London Tim Lang.

Di sisi harga, tekanan justru meningkat. Harga pupuk eceran melonjak signifikan dalam beberapa pekan terakhir, dengan kenaikan mencapai dua digit.

Urea mencatat lonjakan tertinggi dengan kenaikan hingga 34% dibandingkan bulan sebelumnya dan harga rata-rata mencapai US$838 per ton. Pupuk nitrogen lainnya seperti UAN28 dan UAN32 masing-masing naik 21%, sementara anhidrat meningkat 18%.

Kenaikan juga terjadi pada pupuk fosfat dan kalium, termasuk DAP, MAP, dan potash, meski dengan laju yang lebih moderat.

Di tingkat petani, ketidakpastian mulai bergeser dari jangka pendek ke jangka menengah. Kekhawatiran tidak hanya terjadi pada musim tanam 2026, tetapi juga mulai meningkat untuk 2027.

Presiden National Corn Growers Association di AS, Jed Bower, mengatakan tekanan harga sudah terjadi bahkan sebelum konflik berlangsung.

“Harga pupuk sudah tinggi bahkan sebelum perang di Iran dimulai. Tekanan tambahan dari penutupan Selat Hormuz hanya memperburuk situasi, terutama saat melihat ke tahun 2027,” katanya.

Survei asosiasi tersebut menunjukkan jumlah petani yang mengkhawatirkan kondisi 2027 hampir dua kali lebih banyak dibandingkan 2026.

Kondisi ini mencerminkan dampak berkepanjangan dari gangguan rantai pasok global, ditambah dengan potensi penurunan produksi di sejumlah negara pemasok.

Pelaku pasar menilai, meskipun sebagian kebutuhan pupuk untuk musim tanam 2026 telah diamankan, risiko keterbatasan pasokan dan harga tinggi masih akan berlanjut hingga akhir tahun dan memengaruhi siklus tanam berikutnya.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pasar Pupuk Global

  • Gencatan Senjata Sementara

    Meskipun gencatan senjata antara AS dan Iran telah membuka kembali Selat Hormuz, kondisi pasar pupuk belum sepenuhnya pulih. Pelaku logistik masih menghadapi risiko tinggi di jalur tersebut.

  • Biaya Asuransi Perang Meningkat

    Operator kapal masih enggan melintasi kawasan yang sempat dikaitkan dengan konflik. Hal ini menyebabkan peningkatan biaya asuransi perang dan penundaan pengiriman.

  • Penumpukan Pengiriman

    Distribusi pupuk yang tertahan selama konflik tidak bisa langsung dipulihkan dalam waktu singkat. Ini menyebabkan penumpukan dan kesulitan dalam mendistribusikan barang ke tujuan.

  • Lonjakan Harga Pupuk

    Harga pupuk eceran melonjak signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Beberapa jenis pupuk seperti urea, UAN28, dan UAN32 mengalami kenaikan hingga dua digit.

  • Dampak Jangka Panjang

    Ketidakpastian pasar tidak hanya terjadi pada jangka pendek, tetapi juga mulai memengaruhi persiapan untuk musim tanam berikutnya. Petani khawatir tentang ketersediaan pupuk dan harga yang tinggi hingga tahun 2027.

Hana Zahra

Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *