Peran Strategis Selat Malaka dalam Perdagangan Global
Selat Malaka memiliki peran penting dalam perdagangan global. Jalur ini menjadi jalur utama bagi kapal-kapal yang bergerak antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Panjangnya mencapai sekitar 1.000 kilometer, dengan titik tersempitnya hanya kurang dari 2,5 kilometer dan kedalamannya hanya 23 meter. Lebih sempit dibandingkan Selat Hormuz yang merupakan jalur kritis lainnya.
Kendali atas Selat Malaka masih diperebutkan oleh tiga negara yaitu Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) masing-masing negara saling tumpang tindih, sehingga tidak ada satu pun yang sepenuhnya mengakui klaim satu sama lain. Namun, selama ini tidak ada tarif yang dikenakan pada kapal yang melintasi jalur tersebut.
Setiap tahun, perdagangan senilai 3,5 triliun dolar AS melewati Selat Malaka, setara dengan sepertiga PDB global. Selain itu, 29 persen distribusi minyak global juga melalui selat ini, lebih banyak dari jumlah yang melalui Selat Hormuz. Dengan demikian, potensi pendapatan dari penerapan tarif di Selat Malaka sangat besar.
Keuntungan Singapura dari Selat Malaka
Singapura adalah negara yang paling diuntungkan dari posisi strategis Selat Malaka. Negara ini mendapatkan keuntungan sebesar 25 miliar dolar AS per tahun dari penyediaan pelabuhan kontainer, pengisian bahan bakar, dan layanan logistik maritim lainnya. Selain itu, Singapura juga menjadi hub migas dunia di Selat Malaka.
Sementara itu, Malaysia dan Indonesia belum bisa memanfaatkan posisi strategis mereka secara maksimal. Upaya untuk mengenakan tarif pada kapal yang melintasi Selat Malaka pernah digaungkan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, pada 1992. Ia mengusulkan adanya pembayaran kepada pihak berwenang yang bertanggung jawab menjaga selat tetap terbuka dan mengurangi bahaya terhadap pelayaran.
Tantangan dalam Penerapan Tarif
Namun, usulan ini menemui penolakan dari banyak pemilik kapal dan pengirim barang. Mereka khawatir bahwa pajak atau aturan baru akan memperlambat waktu pengiriman kargo dan meningkatkan biaya. Singapura, sebagai negara yang paling diuntungkan, juga menolak usulan Mahathir karena takut hal itu akan mempertanyakan status internasional selat dan hak lintas bebas.
Indonesia dan Malaysia mengusulkan pengendalian yang lebih ketat, namun bukannya memungut pajak, Indonesia mengusulkan jalur alternatif terkait maraknya kecelakaan. Mochtar Kusumaatmadja, pakar hukum internasional dan mantan menteri luar negeri Indonesia, menyarankan agar kapal-kapal besar menghindari Selat Malaka dan Singapura dengan menggunakan Selat Sunda.
Hukum Laut Internasional dan Kebebasan Navigasi
Menurut Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan, alasan mengapa Selat Malaka tidak dipajaki terkait Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS) 1982. Pasal 44 UNCLOS menyatakan bahwa negara-negara yang berbatasan dengan selat internasional tidak boleh menghambat jalur transit. Hal ini berlaku tanpa pengecualian untuk keamanan, lingkungan, maupun perang.
Indonesia, Singapura, dan Malaysia telah meratifikasi UNCLOS. Di sisi lain, Iran belum meratifikasi kesepakatan tersebut, meskipun telah menandatangani. Oleh karena itu, Iran dapat mengambil langkah-langkah yang lebih independen terkait kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Keterlibatan Amerika Serikat
Amerika Serikat juga memerlukan kebebasan melintas Selat Malaka untuk operasi militer. Saat ini, AS menjaga kehadiran logistik dan administratif angkatan laut yang signifikan di Singapura, terutama melalui Naval Support Activity (NSA) Singapura di Sembawang. Keberadaan ini memfasilitasi perbaikan kapal, logistik, dan pemeliharaan Armada ke-7, khususnya di Pangkalan Angkatan Laut Changi.
Sebelum serangan besar-besaran ke Iran pada Februari lalu, Selat Malaka diketahui jadi perlintasan USS Abraham Lincoln yang membawa pesawat tempur disertai puluhan kapal perang menuju Timur Tengah. Belakangan, seiring isu serangan darat, kapal induk USS Tripoli juga melintasi selat itu.
Kesimpulan
Dalam kondisi normal, penerapan tarif di Selat Malaka terbilang mustahil dilakukan. Kecuali, seperti di Teluk, ada negara yang menyerang negara-negara litoral yang mengelilingi selat itu. Tapi perang tentu harga yang terlalu mahal, untuk mengejar keuntungan dari Selat Malaka.
Jurnalis online yang gemar mengeksplorasi pendekatan storytelling dalam berita. Ia suka menonton film, membaca novel, dan membuat catatan ide setiap hari. Menurutnya, teknik bercerita yang baik dapat membuat informasi lebih mudah dipahami. Motto: “Sampaikan fakta dengan cara yang menyentuh.”










