Rupiah Menembus Rekor Terendah, Kurs Mencapai Rp 17.002 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah di pasar spot mengalami penurunan yang signifikan, dengan menembus rekor terburuk sepanjang masa. Pada Senin (30/3), rupiah spot ditutup pada level Rp 17.002 per dolar AS, melemah 0,13 persen dari penutupan Jumat (27/3) lalu, yang berada di Rp 16.980 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jisdor Bank Indonesia (BI) juga mengalami pelemahan, yaitu sebesar 0,21 persen secara harian ke Rp 16.993 per dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dari dinamika dalam negeri.
Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen perang di kawasan Timur Tengah. Khususnya, situasi yang memicu ketegangan antara AS dan Iran, yang telah berlangsung selama 30 hari sejak dimulainya konflik pada 28 Februari lalu.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi dengan Iran berjalan baik, dan kesepakatan mungkin akan segera tercapai. Namun, ia tidak memberikan tenggat waktu yang jelas, sambil juga memperingatkan potensi serangan lebih lanjut terhadap Teheran.
Di sisi lain, Iran mengklaim siap menghadapi invasi darat oleh AS, terutama setelah laporan akhir pekan lalu menunjukkan Washington mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah.
Dampak Dari Sentimen Internal
Dari dalam negeri, Ibrahim melihat bahwa rupiah juga dibayangi oleh sentimen efisiensi anggaran. Ia menilai, rencana pemerintah untuk melakukan efisiensi anggaran perlu didukung kombinasi kebijakan lain agar efektif dalam menjaga defisit APBN.
Menurut dia, tekanan fiskal yang terjadi saat ini bersifat struktural, yang berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, dan kebutuhan belanja prioritas. Oleh karena itu, kebijakan efisiensi anggaran tidak bisa berdiri sendiri untuk menjaga defisit tetap terkendali, sehingga diperlukan kombinasi kebijakan.
Proyeksi Pergerakan Rupiah Pada Selasa
Pada Selasa (31/3), Ibrahim menilai, dinamika eskalasi masih turut mempengaruhi pergerakan rupiah. Pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu.
Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah. Ibrahim memproyeksikan rupiah pada Selasa (31/3) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah dalam rentang Rp 17.000-Rp 17.040 per dolar AS.
Langkah BI dalam Menghadapi Ketidakpastian Pasar
Bank Indonesia (BI) mengumumkan instrumen baru dalam operasi moneter, yakni penggunaan Sekuritas Valuta Asing Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valuta Asing Bank Indonesia (SUVBI) sebagai agunan atau underlying dalam transaksi valas mulai Senin (30/3).
BI menyebut, kebijakan tersebut merupakan bagian dari penguatan strategi operasi moneter yang berorientasi pasar atau pro-market, dengan tujuan meningkatkan efektivitas transmisi kebijakan moneter serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas (PUVA).
Tanggapan Akademisi terhadap Kebijakan BI
Guru Besar Universitas Airlangga (Unair), Rahma Gafmi, menilai langkah BI sudah tepat dan relevan dengan kondisi pasar saat ini. Menurutnya, kebijakan tersebut tidak sekadar menambah instrumen baru, melainkan juga mengoptimalkan aset valas yang selama ini kurang produktif di neraca perbankan.
Melihat posisi rupiah yang saat ini berada bahkan ke Rp 17.000, langkah ini tergolong sangat tepat dan krusial, yaitu sebelumnya jika bank butuh likuiditas dolar (AS), mereka harus menjual aset valasnya atau melakukan FX Swap.
Melalui skema FX repo itu, Rahma menyatakan, perbankan kini memiliki alternatif untuk memperoleh likuiditas dolar AS tanpa harus menjual aset valas yang dimiliki. Dengan skema baru itu, dia menambahkan, bank cukup menjaminkan SVBI atau SUVBI kepada BI untuk memperoleh likuiditas valas.
Mekanisme itu dinilai dapat meredam tekanan jual di pasar sekunder yang berpotensi memperburuk sentimen terhadap rupiah.
Selain itu, Rahma mengungkapkan, kebijakan itu juga menjadi solusi atas potensi kelangkaan likuiditas dolar di perbankan, terutama di tengah ketidakpastian global akibat tensi geopolitik dan penguatan indeks dolar AS (DXY).
Dengan dijadikannya agunan repo, ia berujar, instrumen itu menjadi jauh lebih menarik bagi investor karena lebih likuid, sehingga berpotensi meningkatkan aliran modal masuk (inflow) ke instrumen moneter BI.
Ini adalah optimalisasi instrumen pro-pasar sehingga dapat memperkuat ekosistem SVBI dan SUVBI.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."










